Ketik disini

Headline Metropolis

Tipe Mahasiswa Era Milenial

Bagikan

Kupu-kupu, kunang-kunang, dan kura-kura. Ketiga nama binatang tersebut merupakan singkatan dari tiga tipe Mahasiswa. Kupu-kupu a�?kuliah pulang-kuliah pulanga��, kunang-kunang a�?kuliah-nongkong-kuliah nongkrong, dan kura-kura, kuliah rapat-kuliah-rapat.A� Tipe mana yang mendominasi sebagian besar Mahasiswa di Kota Mataram? Berikut laporannya.

————————–

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram), Alwi Sahbana menjelaskan keadaan Mahasiswa di kampusnya dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kesadaran mahasiswa berorganisasi sudah berkurang. Hal tersebut disebabkan oleh tuntutan menyelesaikan tugas akademik yang tak bisa ditangguhkan.

Belajar. Memang untuk itulah mahasiswa ke kampus. Akan tetapi, Alwi mengatakan menurunnya kesadaran mahasiswa berorganisasi tidak hanya disebabkan oleh faktor akademik, melainkan perkembangan zaman yang melahirkan gaya hidup baru. Termasuk bagi mahasiswa.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

a�?Sistem pendidikan saat ini menuntut kita untuk cepat selesai. Tapi tidak sedikit juga mahasiswa yang masih menyadari pentingnya berorganisasi,a�? terang Ketua BEM FK Unram yang sudah dua periode menikmati jabatannya.

Mahasiswa yang organisatoris itulah yang dikenal dengan istilah kura-kura, alias kuliah-rapat-kuliah-rapat. Namun perkembangan teknologi menurut Alwi juga membuat mahasiswa tipe kura-kura terbelah menjadi beberapa bagian. a�?Masing-masing Mahasiswa juga tidak semuanya berorganisasi dengan tujuan yang jelas. Akan tetapi ada juga yang hanya ikut-ikutan dan ingin ngumpul saja,a�? kata Alwi.

Tipe seperti itu ia sebut sebagai mahasiswa organisatoris yang suka jalan-jalan. Dalam hal ini, Alwi mengatakan pengaruh adanya handphone pintar tak bisa dinapikan. Meskipun kura-kura, tapi rapatnya saat ini terganti oleh handphone. Karena setiap melakukan rapat, masing-masing peserta selalu sibuk dengan handphone pintarnya masing-masing.

a�?Jadilah kita melakukan rapat handphone,a�? sindir Alwi.

Menurut Alwi, Fakultas Hukum Unram yang sebagian besar dihuni oleh mahasiswa dari keluarga dengan tingkat ekonomi menengah ke atas menyebabkan pengaruh gaya hidup menjadi salah satu menurunnya daya kritis mahasiswa. Lebih jauh lagi, kesadaran akademis pun luntur dibuatnya.

Mahasiswa yang terbawa oleh gaya hidup tersebutlah yangA� masuk ke tipe kunang-kunang, alias kuliah-nongkrong-kuliah nongkrong. Daya konsumtif pun menjadi tinggi. Alwi mengatakan, seorang mahasiswa bisa minta uang bulan Rp 1 sampai 2 juta. a�?Itu pun terkadang tidak cukup,a�? tambahnya.

Kuliah untuk bergaya sepertinya memang sudah menjadi trend di zaman milenial ini. Namun kebanggaan menjadi Mahasiswa menurut Alwi bisa datang dari beberapa hal. Salah satunya adalah nilai akademik. a�?IP 4 memang menjadi kebanggaan,a�? terang Alwi.

Namun kebanggaan yang berasal dari nilai akademik pun segera akan luntur bila disandingkan dengan kebanggaan memiliki gadget terbaru, fashion, dan kendaraan yang sedang trend. Hal itu dibenarkan oleh Reza Sanjaya, Mahasiswa Fakultas Pertanian Unram. Menurutnya, mahasiswa saat ini memiliki daya konsumtif yang tinggi.

Sementara itu, ia mengatakan selama ini tak pernah ada perhatian dari lembaga mengenai hal tersebut. Karena hal tersebut menurutnya kembali ke kesadaran masing-masing mahasiswa. Ketua UKM Pusat Studi Quran (PSQ) itu pun menegaskan kalau ia tak bisa mengelak dari perkembangan zaman.

Sementara itu Jimi, seorang mahasiswa Fakultas Pertanian mengatakan bisa hidup dengan sederhana dan tidak terpengaruh dengan trend yang menggandrungi mahasiswa. Meskipun cukup sulit dipercaya, ia mengatakan masih bisa bertahan hidup dengan uang Rp 20 ribu per hari. a�?Bensin dan pulsa,a�? katanya. (tih/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka