Ketik disini

Metropolis

Kenali Tiga Zona di IGD!

Bagikan

MATARAM-Instalasi Gawat Darurat (IGD) merupakan salah satu instalasi yang wajib dimiliki rumah sakit. Bangunannya pun menjadi prioritas utama. Karena Instalasi IGD selalu terlihat sebagai ruangan paling sibuk dari ruangan lainnya. Namanya saja darurat.

Akan tetapi masih banyak masyarakat yang tak memahami arti dari setiap zona di IGD. Merah, kuning, dan hijau. a�?Itu bukan simpang empat, melainkan pembagian ruang yang nantinya membedakan respons time petugas medis,a�? kata Yuda Prasetyo, kepala ruanganA� IGD RSUD Kota Mataram.

Menurut Yuda, telah tersedianya setiap ruangan untuk setiap zona di IGD RSUD Kota Mataram kini lebih memudahkan petugas medis dalam bekerja. Dengan adanya setiap ruangan itu juga, upaya memberikan pemahaman tentang zona kepada pasien juga bisa dimaksimalkan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Lebih jauh berbicara tentang zona, kepala IGD RSUD Kota Mataram, dokter spesialis Emergency dr Eko Widya Nugroho, mengatakan ada beberapa pembagian zona seiring perkembangan kegawat daruratan medis.

Zona merah (life threatening zone) merupakan zona penyakit atau perlukaan yang mengancam nyawa. Yuda melanjutkan, bahwa zona tersebut memerlukan penanganan penyelamatan nyawa atau resusitasi segera. a�?Respons timenya 0 menit,a�? tegas dr Eko.

Sementara zona kuning (emergent zone) merupakan zona untuk penyakit atau perlukaan sedang sampai berat yang penangannya tidak bisa menunggu. Termasuk dalam zona ini penyakit dengan risiko tinggi, nyeri berat, gangguan psikis berat dan penurunan kesadaran akut. Dibanding zona merah, respons time zona ini berkisar antara 10-15 menit.

a�?Setelah itu, baru zona Hijau (urgent zone) dan zona biru (non urgent zone),a�? terang dr Eko.

Zona hijau menurut dr Eko merupakan zona penyakit dan perlukaan yang tidak termasuk dalam zona merah atau kuning. Panatalaksanaan penyakit atau perlukaan pada zona ini diperkirakan membutuhkan 2 (dua) atau lebih sumberdaya tenaga medis. a�?Nah kalau ini, respon time bisa 30 sampai 60 menit,a�? kata dr Eko.

Di luar ketiga zona tersebut, dr Eko mengatakan ada juga zona Biru (non urgent zone) yang merupakan zona penyakit dan perlukaan yang tidak termasuk dalam zona merah atau kuning. Panatalaksanaan penyakit atau perlukaan pada zona ini diperkirakan membutuhkan sumberdaya 1 (satu) atau kurang, dengan respons time di atas 60 menit.

Adapun penentuan zona di lakukan di ruangan Triase. Petugas yang menentukan hal tersebut dituntut bisa dengan cermat mengetahui kondisi pasien. Menurut dr Eko, yang paling sulit ditentukan dan memungkinkan terjadinya kesalahan zonasi terdapat di zona kuning.

a�?Cukup sulit. Kalau zona merah kan sudah jelas. Tapi zona kuning ini, dia berbahaya, akan tetapi tidak nampak,a�? terang dr Eko.

Karena itulah untuk menangani Triase, dr Eko menaruh petugas medis yang paling senior. Di tempatA� itu dr Eko menaruh perawat yang memiliki jam terbang yang sangat tinggi. Adapun fungsi zona lainnya adalah untuk memberikan pemahaman kepada pasien, bahwa pada dasarnya ada pasien yang datang dalam keadaan gawat akan tetapi tidak darurat.

a�?Ada juga yang sama sekali tidak gawat, dan tidak juga darurat. Itulah zona hijau dan biru,a�? terang dr Eko.

Dengan memahami zonasi di IGD, dr Eko berharap pasien bisa mengerti bagaimana penanganan yang dilakukan oleh petugas medis di IGD. (tih/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka