Ketik disini

Headline Metropolis

Diduga Kencan setelah Pulang Sekolah

Bagikan

Anak-anak harapan bangsa itu, memilih tempat-tempat yang lengang dan tersembunyi. Duduk berdua, sepulang sekolah, lalu berbagi kata-kata cinta. Ah indahnya a��

———————

AZAN Zuhur baru saja usai bergema. Tapi dua remaja tanggung itu, tak beringsut sedikit punA� dari taman kota. Entah di sengaja atau tidak, mereka memilih duduk di balik rimbun, tanaman bunga.

Tak tahu apa yang dibicarakan pasangan tanggung itu. Tapi baju sekolah yang masih melekat di badan menandai mereka baru saja pulang sekolah. Keduanya beberapa kali saling memandang. Dengan jarak wajah, tak lebih dari satu jengkal. Sangat dekat!

Duduk mereka sudah sangat lengket. Si wanita, terlihat sekali waktu mencubit pria di sampingnya. Si pria terlihat kesal, tapi tak marah. Mereka kembali berpandangan dengan jarak wajah semakin dekat.

Tak jauh dari tempat duduk pasangan muda-mudi itu, ada lagi seorang pria. Jaraknya sekitar satu langkah dari tempat pasangan muda-mudi itu. Sekali waktu ia melirik ke arah pasangan tadi yang tengah berbagi canda. Lalu kembali menatap lurus ke depan. Ke arah ruang hampa yang dipenuhi rimbunan pohon-pohon besar.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

a�?Kami baru pulang sekolah,a�? celetuk siswi itu, dengan wajah gugup.

Mereka tiba-tiba memilih mengatur jarak. Duduk saling menjauh. Saat Lombok Post menyapa dan mengusik keasyikan mereka siang itu. Remaja pria tadi memilih bergeser di samping pria yang sendiri tadi. Sepertinya keduanya satu sekolah. Terlihat dari seragam khas sekolah yang dikenakan itu: sama.

Lombok Post lalu menanyakan apakah mereka sudah terbiasa datang ke taman kota pada siang hari. Keduanya menjawab serempak. Tapi dengan jawaban berbeda.

a�?Iya, nggak!a�? kata pasangan itu bersamaan.

Merasa jawabannya tidak klop, remaja yang mengaku bernama Muhammad Danu itu buru-buru meluruskan. Ia mengatakan jika ia sendiri memang sering ke taman itu. Tapi tidak dengan teman perempuannya. “Kalau dia memang baru pertama,a�? jawabnya gugup.

Ditanya apakah mereka janjian bertemu di taman? Keduanya kompak diam beberapa saat. Lalu memilih saling memandang. Sampai akhirnya Danu, mengakui jika mereka janjian untuk bertemu di taman kota. “Iya,a�? jawab Danu pendek.

Lombok Post tak sempat menanyakan dari mana asal sekolah siswi perempuan itu. Ia buru-buru bangun, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Tak berselang lama ia sudah terdengar menggeber motor matic-nya ke arah utara.

a�?Dia? Mma�� Suci,a�? kata Danu, saat ditanya siapa nama rekan perempuannya tadi.

Merasa tak siap untuk ditanya lebih banyak lagi, Danu mengajak rekannya pergi meninggalkan tempat itu. Mereka membelah jalanan kota ke arah utara, dengan terlebih dahulu melakukan aksi standing, tanpa mengenakan helm.

Ya. Pemandangan seperti itu sudah lumrah di taman kota. Pojok-pojok taman acap kali dihuni pasangan muda-mudi yang sedang bercumbu kasih. Mereka seperti tak peduli soal bagaimana orang lain memandang. Selama tidak kepergok berbuat tak senonoh, baginya bercumbu kasih itu wajar.

Lebih mirisnya lagi, cerita Danu dan Suci itu bukan pertama dan satu-satunya terjadi di kota. Ini sudah berulang kali, anak-anak sekolah usai pulang sekolah hang out di taman-taman kota. Bahkan ada yang memilih bolos demi bisa keluar berdua-duaan.

a�?Iya ada yang tertangkap juga oleh warga,a�? kisah Kasatpol PP Kota Mataram Bayu Pancapati.

Seperti yang pernah terjadi di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan. Untungnya persoalan tak melebar ke mana-mana. Pasangan muda-mudi yang kepergok melakukan aksi tak senonoh itu, diminta tak mengulangi perbuatannya lagi. Menurut sebuah sumber kedua anak itu dimintai uang dan handphonenya di situ, buat efek jera.

a�?Sekarang kan ada dua petugas yang ditaruh Perkim untuk mengawasi tempat itu,a�? imbuhnya.

Ini semata-mata untuk menjawab keresahan masyarakat. Soal aksi remaja tanggung yang kerap kepergok di taman kota. Petugas itu diminta rajin menyisir pojok-pojok taman dan mengingatkan siswa-siswi yang bolos dan berdua-duaan di tempat itu.

Yang paling dikhwatirkan, jika mereka sampai berbuat hal-hal yang bertentangan dengan norma sosial dan agama di sana.

Jika remaja-remaja tanggung itu memanfaatkan taman untuk hal-hal positif, tentu tidak jadi soal. Sebut saja dipakai belajar bersama, joging, refreshing, dan kegiatan-kegiatan bermanfaat lainnya. Pemerintah bahkan berencana meningkatkan fasilitas taman agar pasangan muda-mudi makin betah di sana.

a�?Ya kita memang ada A�dapat laporan soal itu,a�? aku Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Mataram HM Kemal Islam, di kesempatan berbeda.

Untuk menindak lanjuti laporan itu, ia pun secara rutin telah meminta para satgasnya turun langsung mengawasi taman-taman kota. Tapi sepertinya akal-akalan para calon generasi bangsa itu tak penah kering. Mereka berani kucing-kucingan dengan para petugas. Curi-curi peluang untuk melancarkan aksinya.

a�?Kita terus pantau ya, satgas saya berkeliling ke taman kota,a�? ujarnya.

Tapi ini memang soal mindset. Soal wajah pendidikan kota saat ini. Informasi sudah sedemikian deras masuk ke ruang-ruang pribadi masyarakat. Tak terkecuali ke anak-anak sekolah. Mereka dengan mudah mengakses A�konten-konten info yang tak mendidik hanya melalui jentikan tangan.

Psikolog Remaja dari Nusa Tenggara Nusantara (NTN) Pujiarrohman, menjelaskan remaja memang cenderung lebih berani mencoba hal-hal baru. Sekalipun itu tabu dan bertentangan dengan norma-norma berlaku.

a�?Ini seiring dengan pertumbuhan dari segi fisik, sikap, kecerdasan, dan emosi,a�? kata Puji.

Karena ini tidak lepas dari psikologi tahap perkembangan, maka sikap yang ditunjukan itu merupakan bentuk kritinya terhadap situasi yang dihadapinya.

Remaja yang akhirnya berani menentang norma agama, adat, kesusilaan, itu hanya bentuk ekspresi kekritisannya pada lingkungan dan perlakuan orang pada dirinya. “Bisa saja sejak kecil ia tidak dapat afeksi atau kasih sayang yang maksimal, sehingga berdampak pada prilakunya saat tumbuh dewasa,a�? terangnya.

Puji meyakinkan remaja yang akhirnya menunjukan sisi kritisnya dengan cara negatif, berarti sejak kecil ia telah mendapat afeksi yang buruk dari lingkungannya. Mereka memilih hidup free seks, drugs, dan berbagai prilaku buruk, karena ruang ia untuk mendapatkan kasih sayang itu tidak pernah didapat dari orang tua dan lingkungannya.

a�?Anak yang diapresiasi dan mendapat afeksi yang maksimal dari orang tua dan lingkungannya akan cenderung sikap kritisnya membawa ia ke hal-hal yang baik. Seperti berprestasi, pintar, cerdas, dan hal-hal positif lainnya,a�? jelasnya.

Ia mencontohkan anak-anak yang mengalami broken home. Setelah gagal mendapat penghargaan dan afeksi yang cukup dari orang tuanya, mereka akan cenderung untuk mencari ke lingkungan sekitar, seperti di sekolah.

a�?Tapi kebanyakan guru BK di sekolah, sekarang berfungsi seperti polisi sekolah, bukan mendengar apa yang ada dalam keluh kesahnya,a�? jelasnya.

Dan sekali lagi siswa itu gagal mendapatkan apeksi di lingkungan sekolahnya. Maka sisi kritisnya akan bergerak mencari ke tempat yang lain.

Saat di tempat lain pun ia mendapatkan apresiasi yang buruk atas prilakunya, di saat itulah para remaja akhirnya memutuskan untuk membuat sendiri standarisasi kebahagiaanya.

a�?Padahal anak-anak remaja itu adalah waktu untuk dia mendapatkan aperesiasi dan pengakuan yang cukup atas apa-apa yang ia lakukan,a�? jelasnya.

Tetapi hal itu tidak ia dapati dengan standar norma dan aturan yang umum. Akhirnya sisi kritisnya mendorong ia untuk nekat melakukan sesuatu yang membuat hatinya dapat merasa senang.

“Termasuk berani berbuat hal-hal yang bertentangan dengan norma agama, adat, dan kesusilaan yang berlaku,a�? tegasnya.

Maka ini menjadi PR selanjutnya bagi dunia pendidikan dan para orang tua. Bagaimana agar, para remaja mendapatkan afeksi yang cukup. Sehingga mereka terselamatkan dari potensi terjerumus berbuat sesuatu yang negatif.

a�?Termasuk mencari peluang-peluang di taman untuk bercumbu kasih,a�? tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka