Ketik disini

Headline Metropolis

Para Penuntun Jalan ke Surga

Bagikan

Sungguh menakjubkan. Tiada henti mereka berkhidmat mengajarkan anak-anak fasih membaca Alquran. Menyiapkan pula pondasi akhlak, bekal mengarungi hidup yang susah ditebak. Jauh dari gegap gempita,A� para guru ngaji ini benar-benar tanpa pamrih dalam bekerja. Tanpa gaji, mereka istiqomah pada profesi. Merekalah pembuka adimarga, menuntun umat ke surga.

——————————————

PETANG perlahan datang. Bias-bias warna jingga, meredup di ujung-ujung atap rumah yang legam dan berlumut. Desir angin meniup dedaunan, lalu membelai lembut kulit bocah-bocah belia yang berjalan bergerombol-gerombol.

Di kepala mereka melingkar kopiah putih. Ada pula yang pakai peci hitam. Sebagian berjalan pelan, menepuk-nepuk tembok rumah warga yang kasar yang membatasi gang. Sebagian lagi berlari dengan langkah kecil. Tergopoh-gopoh.

a�?Woi yang piket, buruan!a�? pekik seorang anak. Rendi namanya.

Kepalanya menyembul dari gerbang sebuah rumah dengan pekarangan luas nan sejuk. Bocah-bocah yang diteriaki makin berlari kencang. Membelah gang dengan entakan sandal yang terdengar nyaring.

Plaka�� plaka�� plak!

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Tak berapa lama, bocah itu sudah berjibaku dengan tugasnya. Bersama teman-temannya yang lain. Mereka menyapu, menggelar karpet yang sudah lusuh dan berlubang, di atas teras yang telah dipanjangkan. Setelah itu berwudlu, menyambut petang yang sempurna.

Rumah tempat anak-anak tersebut adalah rumah milik Ustad Budi. Rumah itu ada di bilangan Pejeruk, Kota Mataram. Teras yang dipanjangkan itu, adalah teras rumah Budi pula. Dan tak lama, sang empunya rumah keluar.

Ustad Budi berjalan perlahan. Ia keluar dari pintu sebelah timur rumahnya. Mendapati sang Ustad telah keluar, bocah-bocah yang sedari tadi bermain riang, panik bukan kepalang. Mereka berlompatan, mencari tempat duduk yang kosong.

a�?Duduk yang rapi,a�? pinta Ustad Budi.

Suaranya terdengar parau dan pelan. Tapi entah bagaimana, perkataan itu begitu menohok di hati bocah-bocah itu. Secepat kilat mereka merapikan duduk, diam, sunyi, tanpa suara. Dan suara azanpun terdengar jernih di pekarangan rumah itu. Terdengar dari pelantang-pelantang suara di masjid-masjid terdekat.

Seorang anak lebih dewasa kemudian maju. Melangtangkan azan pula. Magrib telah tiba.

Angin mulai terasa lebih basah. Petang pun perlahan berganti malam. Seorang bocah yang lain kembali berdiri mengambil posisi di pojok sebelah selatan teras. Lalu melantangkan bait-bait Iqomah.

Lombok Post mendapat posisi di shaf depan ujung utara. Ikut bersama bocah-bocah itu berdiri lalu membenamkan wajah dalam sujud yang khusyuk. Ini luar biasa. Sulit dipercaya, jika tempat mengaji bocah-bocah itu, bagian dari jantung kota.

Susananya lebih mirip pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kota. Bahkan binatang malam mulai terdengar bersahutan, saling menyapa. Lengkap dengan nyamuk-nyamuk yang bertebaran, lalu hinggap di lengan-lengan yang masih basah oleh air wudlu. Padahal, kediaman Ustad Budi ada di Pejeruk, salah satu pemukiman padat di Kota Mataram. Total, malam itu ada 40 bocah yang mengaji di sana.

a�?A, ba, ta, tsa a��!a�? suara sekitar 40 bocah itu bersamaan, usai zikir dan doa bersama Salat Magrib. Mereka tak beringsut sedikitpun dari tempat duduk semula. Shaf masih tertata rapi.

Begitulah rutinitas mengaji diawali. Setiap malam begitu. Dimulai dengan menyebutkan seluruh huruf hijaiyah. Walau semua anak itu sudah pasti hafal semua di luar kepala. Tapi ini salah satu cara Ustad Budi memelihara dan melatih ingatan mereka.

Usai itu bersambung dengan melafalkan Asmaul Husna. Lalu mereka melafalkan hafalan tajwid untuk nun mati dan tanwin. Lengkap dengan kalimat bahasa Indonesia, huruf, hingga contohnya.

a�?Seperti biasa ya, yang masih Iqroa�� di sebelah timur, sedangkan yang Alquran di sebelah sini (barat),a�? ujar ustad Budi pada para muridnya.

Patuhlan bocah-bocah itu. Tak ada yang membantah. Budi memegang sebilah rotan di tangannya. Untuk murid-muridnya yang tak patuh, dia punya sesuatu a�?hadiaha�? dengan rotan itu untuk mereka.

Maka sejurus kemudian, suara lantunan bacaan ayat-ayat Alquran pun mulai riuh terdengar. Mulai dari yang masih Iqroa�� hingga mengaji Alquran bagi yang sudah sedikit lebih pandai.

Beberapa anak yang lebih senior membantu adik-adiknya yang masih belajar Iqroa��. Begitu juga mereka yang sudah mulai membaca Alquran, dibimbing oleh yang lebih pandai. Begitu seterusnya. Berjenjang hingga yang paling tinggi kemampuannya langsung ditangani oleh Ustad Budi dan istrinya.

Selang 20 menit kemudian, shaf kembali berubah. Anak-anak itu membentuk lingkaran penuh di teras beratap asbes itu.A� Ustad Budi mengambil posisi di tengah lingkaran. Lalu membaca beberapa potong ayat. Berhenti, lalu menebar pandangan ke murid-muridnya.

a�?Romi apa (hukum bacaan) itu?a�? tanya Romi. Dia bertanya soal tajwid.

Bocah yang disebut Romi pun terkesiap. Tapi tak sampai bergetar. Dengan lugas ia pun menjawab pertanyaan guru ngajinya dengan menyebut hukum bacaan yang dimaksudnya.

a�?Idzhar Halqi,a�? jawab bocah yang dipanggil Romi.

a�?Kenapa disebut Idzhar Halqi?a�? tanya Ustad Budi lagi. Tak ada yang berani bergumam, atau berbisik-bisik. Semua khusyuk mendengar. Romi pun kembali menyahut.

a�?Karena nun sukun bertemu ha,a�? jawab bocah itu tegas.

Ustad Romi pun nampak puas. Ia memutar-mutar rotan di tangannya. Jika saja Romi tak bisa menjawab, tentu sebuah hadiah kecil akan diberikan ke telapak tangannya. Untungnya Romi bisa menjawab dengan tepat.

a�?Mana saja enam huruf Idzhar Halqi?a�? tanyanya kembali.

Kali ini pertanyaan itu bukan untuk Romi. Tapi semua murid mengaji di sana. Dan anak-anak itu kompak menjawab dengan suara lantang.

a�?Ha, Hamzah, Ghoin, a�?Ain, Kha, Kho,a�? jawab mereka kompak.

Sekali lagi, Ustad Budi tersenyum puas. Ia pun melanjutkan melakukan tes pada murid-muridnya yang lain. Secara acak, semaunya. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya sayup-sayup waktu isya telah tiba. Dan murid-murid kompak, menutup Alquran di tangannya.A� Kemudian menyimpan di dua lemari lusuh yang terbuka tanpa penutup. Usai Salat Isya berjamaah, para murid pun pamit. Mereka pulang.

Menolak Uang Bulanan

Duduk berdua ditemani orkestra serangga malam, Ustad Budi pun bertutur banyak soal kiprahnya. Rumahnya memang telah ia sulap menjadi taman pendidikan Alquran yang ia beri nama Asy Syifa. Nama yang ia ambil langsung dari nama istri tercintanya. Syifa Raudhoh.

Meski di tengah pemukiman yang padat, rumah Budi itu begitu sejuk. Tanaman bunga yang ia rawat dan dijejer di separo pekarangan rumah, agaknya menjadi sumber kesejukan itu. Selain tentu saja doa bocah-bocah yang saban malam mengaji di rumahnya.

a�?Dulu awalnya dengan teks mereka mengafal, tapi lama-lama tidak butuh teks lagi, sudah dihafal di luar kepala,a�? terang Budi memulai bicang kami di berugaq pojok rumahnya.

Ustad Budi telah memulai mengajar mengaji sejak awal tahun 2009. Tak lama kemudian ia menikah di tahun yang sama. Mulanya ia bertutur, hanya mengajar anak-anak dari adik misannya saja. Tapi satu-persatu tetangganya ikut a�?menyerahkana�? anak-anaknya untuk dididik sang mantan qori Kota Mataram itu.

a�?Hanya qori kelas kampung,a�? ujarnya merendah, sembari tersenyum.

Ia bersama istri tercintanya melanjutkan lagi pekejaan mulia tanpa pamarih sepeserpun. Ya sepeserpun!

a�?Saya tidak mau mereka enggan datang ke sini, hanya karena merasa tidak pernah bayar. Kalau hanya untuk bayar listrik saya mampu kok,a�? ujarnya pelan.

Dulu. Ia memang pernah menerima sumbangan dari orang tua ngaji anak didiknya. Itu pun sumbangan suka rela. Ada orang tua yang berinisiatif membawakannya uang. Tapi entah mengapa lambat laun ia merasa tidak enak hati. Langkah orang tua anak itu memang diikuti oleh beberapa orang tua lain.

a�?Tapi saya kasihan pada anak yang orang tuanya tidak menyumbang,a�? tuturnya.

Ia takut anak-anak itu minder. Lalu mulai berat langkah datang ke rumahnya. Sejak itu Ustad Budi pun memutuskan tidak menerima sumbangan lagi. Ia juga tidak ingin mencerai-beraikan niatnya, hanya karena orientasinya bergeser mengharap sumbangan.

a�?Ya sebisa mungkin saya tolak. Saya juga ingin mengajar dengan lillahitaa��ala,a�? ujarnya.

Budi mengaku tergerak mengajari anak-anak itu mengaji karena dua hal. Pertama kasihan dengan a�?serangana�� yang dihadapi generasi muda saat ini. Mereka dengan mudah meninggalkan dan mengabaikan agama hanya karena tontontan televisi.

a�?TV telah membuat mereka sulit mendapat pendidikan agama yang cukup,a�? ujarnya.

Lalu yang kedua, pesan orang tuanya selalu terngiang-ngiang. a�?Jadilah orang yang bermanfaat sebesar-besarnya bagi lingkungan. Kata-kata ini begitu terngiang-ngiang di telinga saya,a�? ungkapnya.

Maka murid Ustad Budi pun terus bertambah. Bahkan melimpah. Tak hanya datang dari lingkungannya. Tapi juga lingkungan sebelah. Bahkan dari tempat lain yang lumayan jauh. Ustad Budi sendiri mengaku tidak tahu apa yang membuat para orang tua itu sangat percaya padanya.

a�?Bahkan sebelum ia menitipkan anaknya di tempat saya, saya selalu bilang jangan titip di sini. Anak Anda akan saya pukul kalau tidak bisa,a�? tuturnya.

Tapi jawaban yang diberikan para orang tua justru membuat Ustad Budi tak bisa menolak. Mereka bahkan dengan rela hati mau menyerahkan anaknya dipukuli agar bisa paham. Ia sendiri sebenarnya menolak karena tidak ingin dianggap berbuat kekerasan pada anak, seperti kasus-kasus yang banyak disiarkan di televisi, membuatnya harus terjerat dalam permasalahan hukum.

a�?Apa namanya itu HAM, HAM itu, saya tidak mau. Tapi orang tuanya malah bilang bok-bok iye (pukuli dia, Red) kalau memang nakal, saya serahkan sepenuhnya,a�? kata lulusan MAN 1 Mataram ini.

Kadang Dipukul Rotan

Soal teknik mengajar dengan rotan itu, Budi punya pandangan lain. Ia sebenarnya bukan tidak pernah mencoba melakukan pendekatan psikologis seperti yang diajarkan banyak buku. Tapi yang ia dapati justru anak-anak semakin bermain keterlaluan. Hafalan mereka amburadul. Dan rumahnya yang tadinya tempat belajar mengaji nyaris berubah bak taman bermain.

a�?Cara ini saya warisi dari orang tua saya dan guru-guru ngaji saya, dan saya yakin ini pun cara yang diajarkan oleh baginda Nabi,a�? ujarnya.

Uztad Budi pun berhasil mendidik kedisiplinan anak-anak yang mengaji itu. Mulai dari bagaimana bertanggung jawab pada jadwal piket, hingga kemampuan anak untuk menjadi pembelajar yang cepat membaca Alquran. Ia pun menerapkan hafalan ayat. Satu ayat dalam sepekan.

a�?Jika mereka tidak hafal, saya pukul tangannya. Tidak sampai memar, tapi mereka pasti sakit. Tetapi semata-mata agar mereka terlecut untuk lebih menghafal,a�? terangnya.

Hasilnya meski dipukuli, jumlah murid Ustad Budi terus bertambah. Bahkan acap kali teras depan rumahnya tak cukup menampung murid, hingga akhirnya banyak yang mengaji di berugaq.

Meski tidak membebani anak murid dari biaya mengaji, Ustad Budi merasa Allah selalu membayar cash apa saja yang dibutuhkan. Semua rezeki datang tanpa disangka-sangka. Ia mencontohkan saat dirinya akhirnya berhasil memperluas teras depan rumahnya sehingga bisa menampung 4o anak. Begitu juga untuk tandon air, tempat wudlu, dan kamar mandi untuk anak-anak.

Ustad Budi bukanlah orang yang punya pekerjaan tetap. Paling banter dia kerap bantu-bantu teman-temannya yang butuh bantuan sablon, atau butuh bunga. a�?Jadi awalnya saya memang tidak berpikir akan mengubah tempat mengaji anak-anak ini, ya apa yang ada itu sudah yang kita manfaatkan,a�? jelas ia panjang lebar.

Tapi suatu ketika seseorang datang. Kemudian menanyakan apa yang dilakukan anak-anak itu di rumahnya. Ustad Budi pun menuturkan jika mereka tengah belajar mengaji.

a�?Orang itu lalu bilang. Seharusnya selasarnya ini diperbesar. Lalu saya jawab Insya Allah besok kalau ada uang, pasti saya bangun,a�? tuturnya.

Tapi rupanya, tak berselang lama, belum saja uang hasil bekerja serabutan cukup untuk membuat tempat anak-anak itu mengaji, tiba-tiba material datang. Diantarkan langsung ke rumahnya.

a�?Ya seperti rezki yang tak disangka-sangka,a�? ujarnya.

Hal yang sama pun terjadi saat orang yang berbeda datang lagi ke rumahnya. Lalu menanyakan soal kamar mandinya dan tempat wudlu anak yang harus antre karena hanya menggunakan satu bong (kendi besar, Red).

a�?Saya dapat uang dari mana, tapi saat ada orang saya jawab lagi. Iya insya Allah nanti kalau saya rezeki pasti kita buat,a�? tuturnya.

Tiada pernah meminta, sekali lagi tiba-tiba orang datang membawakan ia material. Untuk membuat tandon, tempat wudlu, dan kamar mandi. Ustad Budi mengaku hanya bisa geleng-geleng takjub. Ia sebenarnya tipe orang yang tak terlalu respect pada rencana-rencana pengajuan proposal pada pemerintah.

a�?Memang pernah tertarik, tapi akhirnya saya urungkan, karena apalah arti tempat yang bagus, kalau anak-anak akhirnya enggan kemari dan tak mau mengaji lagi. Saya lebih senang melihat fungsinya daripada bentuknya,a�? ujarnya mantap.

Bagi Ustad Budi, tidak ada kebahagiaan yang lebih menyejukan hati ia dan istrinya. Selain melihat anak-anak yang tadinya tidak bisa mengaji dan salat, akhirnya bisa beribadah setelah dididik olehnya.

a�?Tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu semua,a�? tutupnya.

Ustad Asrorudin di Lobar

Tentu saja, tak cuma Ustad Budi seorang yang mewakafkan hidupnya untuk mengajar anak-anak mengaji tanpa pamrih. Di saat para guru ngaji di sejumlah tempat berlomba-lomba memungut uang bulanan pada para muridnya, Asrorudin, guru ngaji yang berasal dari Desa Kekeri, Kecamatan Gunungsari, teguh pada pendiriannya. Tak mengikuti jejak rekan-rekannya yang membuka TPQ lalu mendapat uang bulanan dari para murid.

Asrorudin sudah mulai mengajar ngaji sejak masih duduk di bangku SMA. Ia mulai tergerak untuk mengabdikan hidupnya menjadi guru ngaji saat baru saja khatam Alquran. a�?Saat itu saya mulai mengajar untuk membantu guru,a�? kata Asror.

Tak enak hati melihat guru ngaji kewalahan menghadapi puluhan murid seorang diri, Asror pun membantu. Tak ada niatan apa-apa. Ia mengatakan saat itu hanya ada hati yang tergerak. Sejak saat itu juga ia terus mengajar ngaji. Sampai tahun 2018, lebih dari dua puluh tahun dia melakoni hari-harinya sebagai guru ngaji tersebut.

a�?Selama saya masih hidup, insya Allah saya akan terus mengajar ngaji,a�? kata Asror.

Niatnya mengajar ngaji menurutnya hanya didorong oleh keinginan berbagi. Dia tergugah melihat anak-anak yang ingin belajar membaca kita suci tapi tak mungkin membayar dengan harga tinggi.A� Di kampung, itulah yang terjadi. Tak seperti di Kota, yang kata Asror kini sudah ada yang mematok harga per jam untuk satu orang murid.

Lalu apa yang membuat Asror bertahan? Ia tersenyum mendengar pertanyaan itu.

Menurutnya, semua guru ngaji di kampung pasti akan menjawab dengan kata yang sama. Rasa senang melihat anak-anak bisa membaca Alquran. Itu saja. Apalagi mengingat bagaimana perkembangan zaman yang kian lama kian cepat menggilas budaya. Asror tak bisa membayangkan jika anak-anak tak bisa membaca Alquran.

Karena itu, dengan perasaan senang ia selalu mengajar. Setiap malam. Pekerjaannya sebagai guru honorer di SD yang juga membutuhkan perhatian penuh, tak pernah ia jadikan kendala. Sepuluh tahun sudah menjadi guru honorer di sekolah. Lebih dari dua puluh tahun mengajar mengaji di musala.

Honor mengaji tak ada. Ia mengatakan hanya mendapatkannya saat khataman. Bentuknya bisa berupa pakaian salat, beras, atau kadang dalam bentuk uang. Semua itu tak seberapa. Dibanding waktu yang ia habiskan setiap malam.

a�?Kelemahan ngaji tradisional ini terletak di jumlah murid yang diajar. Satu guru bisa mengajar puluhan murid. Jadinya tak bisa maksimal,a�? terang Asror.

Tapi mau bagaimana lagi. Meminta bantuan tak mungkin ia lakukan. Karena ia tahu sendiri, tak mudah memberikan waktu dengan cuma-cuma. Apalagi di zaman yang serba uang ini.

Mungkin kini semua ada harganya. Tapi tidak bagi guru ngaji. Asror tak pernah menghitung sedikit pun waktu dari Magrib sampai Isya yang ia habiskan bersama 30 puluh muridnya.

a�?Kita lagi nyimak satu orang, 29 anak lainnya main-main,a�? kata Asror.

Ia tak marah. Ia tahu zaman telah berubah. Tidak seperti waktu ia mengaji dulu. Masih sistem mengeja. Alif atas a, Alif bawah i, Alif depan u. A, I, U. Tapi kini Iqro. Kata Asror, semua sudah praktis. Kurangnya, anak-anak tidak bisa mengeja sepertinya.

a�?Saya tak pernah memarahi anak. Beda kalau kita dulu, salah sedikit akan langsung mendapat tindakan keras. Tapi dengan itu juga kita jadi cerdas,a�? kata Asror.

Berkah tentu tak ia pernah bayangkan. Tapi ia selalu merasa rezeki selalu datang. Entah dari mana. Itulah berkah. Itulah buah dari ikhlas untuk mengabdikan hidupnya untuk masyarakat. Tidak menyebut pahala, Asror hanya tersenyum ketika ditanya.

Beberapa waktu lalu, Asror mengatakan kalau ia pernah didata dari kecamatan. Kata kecamatan guru ngaji akan didata untuk diberikan insentif. a�?Tapi sampai sekarang tak ada kabarnya,a�? kata Asror.

Namun, ia bersyukur dengan inisiatif pemerintah desa Kekeri yang menganggarkan dana desa untuk insentif guru ngaji. Per semester insentif itu katanya akan diberikan. a�?Jumlah perbulannya sekitar Rp 100 ribu. Terkadang kita diberikan di bulan Ramadhan,a�? terang Asror.

Sampai saat ini Asror masih setia mengajar mengaji di musala yang ada di dusun Kekeri Timur. Musala itu berada tepat di depan rumahnya. Ia tak mengatakan apa pun tentang perhatian pemerintah kepadanya. Karena ia yakin, amal kebaikan akan dibalas oleh Allah.

Ustad Awal di Loteng

Seperti halnya Ustad Asror, ada juga Ustad Awal Kasian di Lombok Tengah. Memagang kuat prinsip bermodalkan ikhlas, Ustad Awal mengajarkan Alquran, salat, dan ilmu agama kepada anak didiknya. Tanpa dipungut biaya sedikit pun alias gratis.

Gaji tidak ada. Kecuali, gaji dari Allah SWT berupa, amal saleh dan pahala. Menjadi guru ngaji bagi Awal Kasian adalah profesi warisan orang tuanya, Amaq Sahmin. Awal sendiri tak tahu persis. Namun, sebelum ayahnya, kakeknya dulu adalah guru ngaji di kampungnya di Dusun Jabon Desa Selong Belanak, Praya Barat.

Sejak tahun 2017 lalu, ia mengajar ngaji di musala yang berdiri di dekat rumahnya. Itu adalah dusun paling selatan di Lombok Tengah. Jauh dari apa-apa. Bahkan, sinyal telepon genggam pun tidak ada di sana. Kecuali, di dataran tinggi di sejumlah perbukitan sekitar dusun. Dulu, dusun yang satu itu dikenal garis merah, karena rawan aksi begal dan perampokan. Tapi sekarang, sudah aman.

Anak-anak mengaji semenjak Magrib hingga Isya. Menjelang petang, biasanya anak didiknya berbondong-bondong menuju musala. Sebelum mengaji, mereka harus melaksanakan salat berjamaah. Jarak rumah mereka dengan musala pun, cukup dekat. Hanya saja, lampu penerang jalan di tempat itu tidak ada. Sehingga, kalau malam gelap gulita.

Tapi, kondisi gelap tidak membuat para generasi penerus tersebut malas mengaji. Bukan main rajinnya mereka. Meski tiada hari libur.

Seperti warisan para tetua kampung terdahulu. Mereka yang datang mengaji a�?diserahkana�? oleh orang tuanya pada guru. Saat penyerahan itu, biasanya orang tua membawa Alquran, tikar, beras, dan gula. Orang tua dahulu menyebut itu sebagai simbol spiritual. Bukan sogokan, apalagi gaji.

a�?Saat ini, ada 58 anak didik saya,a�? ujar Awal pada Lombok Post, Sabtu (10/3) lalu saat ditemui di rumahnya.

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� Dari 58 anak tersebut, kata Awal ada yang sedang belajar mengenal huruf Alquran, ada yang mahir membaca Alquran, tajwid dan nahwu sorrof hingga hafalan ayat-ayat pendek. Sehari-hari mereka bergelut dengan Alquran. Kecuali, hari Jumat yasinan dan Minggu belajar tata cara salat.

a�?Tidak ada libur,a�? katanya.

Ia membeberkan, sebelum musala dibangun, anak-anak di Dusun Jabon datang mengaji di rumahnya.

Soal insentif dari pemerintah, Awal mengaku belakangan, dirinya mendengar kabar, kalau Pemkab Loteng akan menyiapkan insentif bagi guru ngaji sebesar Rp 100 ribu per bulan, atau per tahunnya sebesar Rp 1,2 juta.

Bagi Awal, ada atau tidaknya insentif itu, guru ngaji tetaplah disebut guru ngaji. Tidak akan pernah berubah. a�?Karena memang, tujuan kami hanya amal saleh saja,a�? ujarnya.

Urusan rezeki, ungkap Awal menjadi urusan Sang Maha Pencipta. Ia mengaku, ada saja rezeki yang datang. Namun, itu bukan dari pekerjaan sebagai guru ngaji. Melainkan, yang lain-lain. a�?Salah satunya, Alhamdulillah saya diterima menjadi guru honor,a�? katanya.

Ia yakin dan percaya, guru-guru ngaji yang lain di seluruh Loteng, merasakan hal yang sama. Berbekal keikhlasan, mereka pasti diberikan rezeki yang lain dari Allah SWT.

a�?Insya Allah,a�? kata Awal.

A�Ustad Nurdin di Dompu

Sama seperti Ustad Budi, Ustad Asror dan Ustad Awal. Di Dusun Rasaranggaro Timur, Desa Matua, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, guru ngaji Nurdin M Hasan sudah membuka rumahnya. Dari tahun 1993. Ia melanjutkan apa yang dilakukan almarhum ayahnya, M Hasan.

Menurutnya, saat itu tak ada satu pun guru ngaji yang ada di Desa Matua. Karena itulah almarhum ayahnya menjadi yang pertama mengabdikan hidupnya menjadi guru di kampung yang di huni beberapa kepala keluarga saja. Setelah ayahnya wafat, ia mendapat wasiat untuk melanjutkan apa yang telah dilakukan sang ayah.

a�?Dari sanalah saya mulai menggantikan ayah untuk mengajar ngaji di rumah,a�? terang Nurdin.

Di Dompu, ia dipanggil guru ngaji, atau guru Deo. Seiring perkembangan zaman, Nurdin pun tak lagi menggunakan rumahnya menjadi tempat mengaji. Melainkan ke rumah-rumah. Hal itu karena kini sudah ada beberapa guru ngaji baru yang telah terbuka hatinya untuk mengajar juga.

Ditanya tentang honor, ia mengatakan anak-anak hanya diminta membayar listrik saja. Hal itu terasa seperti tanpa bayaran. Karena Nurdin, mengaku senang mengajar mengaji. Karena selain merasa menunaikan permintaan almarhum ayahnya, ia juga merasa berguna. Bisa bermanfaat bagi orang lain membuatnya bahagia.

Sistem tradisional sampai saat ini masih terus ada. Dengan konsep bahagia dan ikhlas, juga tanggung jawab melanjutkan apa yang sudah dilakukan turun temurun oleh nenek moyangnya. Dia selalu meyakini, guru ngaji merupakan orang-orang terpilih. Orang-orang yang tak akan bisa dimaknai bila menyandingkan kata a�?rupiaha�� di dalamnya.

A�Harus Dapat Perhatian Pemerintah

Bagi Ketua Majelis Ulama Indonesia NTB Prof Saiful Muslim, para guru ngaji punya beban luar biasa untuk NTB. Mereka harus mendidik anak-anak agar paham agama. Bisa membaca Alquran, lalu mengajarkan cara salat yang benar. Tetapi di sisi lain, mereka juga butuh penghasilan untuk membiayai kebutuhan rumah tangganya. Karena itu, sudah sepantasnya orang tua dan pemerintah memberikan perhatian kepada para guru ngaji.

a�?Karena mereka itulah yang secara ikhlas mengingatkan masyarakat tidak lupa pada agamanya,a�? kata Saiful Muslim.

Jika mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, mereka tidak bisa fokus mengajar ngaji. Bila itu terjadi maka umat akan sangat merugi. Karenanya, tanpa diminta pemerintah maupun orang tua harus tergerak membantu para guru ngaji.

a�?Itu menguntungkan orang tua karena anaknya bisa dididik lebih baik lagi,a�? ujarnya.

Menurutnya, antara kebutuhan dan tugas harus ada keseimbangan. Tidak mungkin mereka meninggalkan anak istri di rumah tanpa bekal karena sibuk mengajar ngaji. Tapi bukan berarti dia harus diberikan biaya tinggi, tetapi harus ada pertimbangan kemanusiaan.

a�?Semua orang perlu makan, perlu hidup, apalagi punya keluarga,a�? katanya.

Jika belajar ke Arab Saudi, para guru ngaji sangat dihargai. Bahkan Imam Masjidil Haram diperlakukan setara dengan menteri. Mendapat jaminan, kebutuhan untuk keluarganya dipenuhi, bahkan fasilitas negara diberikan.

a�?Kita yang memikirkan, dia hanya mengajar ngaji, walaupun dikasi Rp 20 ribu dia ikhlas,a�? katanya.

MUI sendiri tidak ada pembinaan secara formal. Sebab, mereka merupakan para guru berilmu dan tidak perlu dibina seperti siswa. Tapi MUI kerap mengumpulkan mereka dalam satu acara pertemuan. Bahkan 25 Maret mendatang, MUI mengundang para dai, dan pengurus MUI kabupaten/kota yang bertugas di Komisi Dakwah.

a�?Kita akan informasikan tentang kondisi umat di masing-masing daerah, kita akan ajak mereka diskusi tentang kondisi umat,a�? katanya.

Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag NTB H Nasruddin mengakui, perhatian terhadap guru ngaji masih sangat kecil dan tidak merata. Setiap tahun Kemenag memang memberikan bantuan. Tetapi jumlahnya hanya Rp 15 juta untuk 20 lokasi. Sementara jumlah taman pendidikan Alquran yang terdaftar saja mencapai 20 ribu lebih. Sehingga bantuan diberikan secara giliran.

a�?Masih sangat kecil, anggaran kita memang sedikit,a�? katanya.

Meski demikian, pemerintah daerah juga ikut membantu. Nilainya Rp 5 juta untuk fasilitas tempat pengajian. Belum ada anggaran khusus untuk menggaji para guru ngaji. Kondisi itu tidak lepas dari anggaran yang sangat terbatas. Pemerintah tidak akan mampu membantun semua guru ngaji dalam waktu bersamaan. Bahkan jika harus mengumpulkan guru ngaji dalam waktu bersamaan, Kemenang kata dia tidak akan sanggup.

a�?Maksimal kita bisa kumpulkan 100-200 orang,a�? katanya.

Dengan banyaknya TPQ di NTB, Nasruddin berharap masyarakat juga tergerak membantu para guru ngaji. Semampunya, agar mereka bisa tetap fokus mengajar anak-anaknya. Jika mengharapkan pemerintah tentu tidak bisa ditanggung semua. (zad/tih/dss/ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka