Ketik disini

Metropolis

Cabai Diprediksi a�?Pedasa�? sampai April

Bagikan

MATARAM-Cabai masih bertengger di harga Rp 100 ribu/kilogram (kg). harga ini sudah bertahan cukup lama. Sejauh ini belum ada langkah nyata yang diupayakan Pemerintah Kota Mataram untuk menurunkan harga. Sementara warga mulai kesal dengan harga yang tak kunjung stabil.

a�?Ini nasi mau saya jual berapa?a�? sesal Aminah salah satu pemilik warung di kawasan Terminal Mandalika.

Beberapa menu favorit di warungnya, menggunakan bumbu dapur cabai. Tapi sejak harga cabai naik ia mengaku kesulitan untuk membuat beberapa menu yang laris di tempatnya. Jika harga nasi dinaikan ia khawatir pelanggannya ngutang. Lebih buruknya lagi kabur.

a�?Di pikir kita cari untung besar buat naik haji katanya, padahal memang harga cabai sudah sama seperti harga daging,a�? cetusnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram HM Zaini menyesalkan sikap pemkot yang terkesan berpangku tangan dengan gejolak harga cabai yang tak turun-turun hingga saat ini. Ia mengingatkan peran pemerintah sebagai pengontrol dan pengawas perdagangan. Tapi belum juga mampu memberikan rasa nyaman bagi masyarakatnya.

a�?Jangan diam dan membiarkan ini berlarut-larut,a�? cetus Zaini.

Apapun persoalannya, baik ini masalah lokal atau nasional, pemerintah harusnya punya altenatif untuk menyelesaikan persoalan. Bukan malah diam menyaksikan warga dan para pedagang mencari sendiri jawaban atas persoalan ini.

a�?Pemerintah punya relasi dengan pemerintah di tempat lain, manfaatkan itu dong untuk selesaiakan peresoalan ini,a�? ujarnya.

Rakyat tentu tidak mau tahu bagaimana pemerintah menyelesaikan persoalan ini. Mereka maunya harga cabai cepat turun dan stabil. Maka sudah menjadi tugas pemerintah untuk mencari cara menjawab persoalan ini. Bukan malah terkesan berpangku tangan, menunggu dengan sendirinya persoalan selesai.

Jika ini yang dilakuakan pemerintah, tentu masyarakat akan melihat ada tidak adanya pemerintah sama saja. a�?Ya turun, sidak, operasi pasar atau apalah namanya, yakinkan pemerintah dalam hal ini hadir untuk menyelesaikan ini,a�? pintanya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli membenarkan harga cabai mahal karena ada pola tanam para petani yang berjalan tak seperti biasanya. Di awal tahun 2018 kemarin, banyak petani yang takut menanam cabai karena cuaca ekstrem.

a�?Jadi cabai yang ada di pasaran sekarang kebanyakan stok bulan November dan persediaanya sudah mau habis,a�? terang Mutawalli.

Tidak hanya petani kota yang takut menanam cabai. Tapi petani di hampir semua daerah di Indonsia. Akibatnya, di mana-mana kelangkaan cabai terjadi. Bukan hanya di Kota Mataram tapi di daerah lain juga ikut merasakan harga cabai kian pedas.

a�?Kota Mataram saja butuh sedikitnya 2-3 ton perhari, tapi sekarang hanya bisa terpenuhi 5 kwintal, paling banter 1 ton,a�? terangnya.

Jika ada beberapa petani yang panen, kebanyakan lebih memilih untuk menjual ke pulau Jawa. Karena dinilai harganya lebih menjanjikan di sana. Parahnya, justru produksi cabai yang kebanyakan dari daerah Lombok Timur yang dijual ke Jawa itu, kembali dibeli oleh pemerintah di Provinsi NTB.

a�?Jadi tidak efektif sama sekali, sudah dijual ke Jawa, dibeli lagi ke sini, ya harganya pasti berlipat-lipat,a�? ujarnya.

Karena adanya perbedaan pola tanam ini, ia mempredikasi harga cabai akan terus mengamuk hingga bulan April. Waktu yang relatif panjang, tapi harus dihadapi oleh masyarkat karena di mana-mana cabai memang langka.

a�?Saya perdiksi ini sampai April, karena di sana panen sudah mulai lagi di daerah-daerah,a�? tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys