Ketik disini

Headline Politika

Gawat, Debat Kandidat Bisa Gagal Lelang, Sekali Debat Rp 1 Miliar

Bagikan

MATARAM– Acara debat kandidat penyampaian visi dan misi calon gubernur dan wakil gubernur NTB berpeluang gagal lelang. Kekhawatiran itu disampaikan langsung Ketua KPU NTB L Aksar Ansori saat pertemuan dengan para pimpinan redaksi media-media di NTB, Rabu (14/3) lalu.

”Ada contoh daerah yang sudah gagal lelang,” katanya membuka data.

Masalah yang dihadapi adalah dana yang dimiliki sangat terbatas. Hanya tersedia anggaran Rp 2 miliar untuk dua kali debat. Anggaran yang sepintas terlihat besar itu, jika ditawarkan pada TV nasional, belum tentu masuk dalam kalkulasi mereka. Ada sejumlah pertimbangan yang harus dilakukan TV nasional. Misalnya dengan anggaran itu, mereka harus membawa berbagai peralatan dari Jakarta ke NTB. Mereka juga harus menyiapkan segala hal teknis terkait debat.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ order=”desc”]

”Itu tak murah,” katanya.

Berbeda dengan daerah lain yang lebih dekat dengan ibu kota, misalnya Jawa Barat. Tentu biaya relatif lebih murah. Selain itu, tingkat ”keseksian” NTB tentu menjadi pertimbangan.  Jika debat Jawa Barat, hampir dapat dipastikan minimal 40 juta warga Jawa Barat akan mengikutinya, sementara NTB hanya dikisaran empat juta saja. Belum tentu warga provinsi lain mau menonton.

”Makanya kami butuh media lokal untuk terus memberitakan Pilgub NTB agar meningkat kadar seksinya,” ucap Aksar.

Hal lain yang berpotensi menjadi penyebab gagal lelang adalah, salah satu dari dua debat rencananya akan diadakan saat momen piala dunia. Sehingga boleh jadi acara itu akan kalah saing ketimbang saat timnas negara-negara peserta bertanding.

”Apalagi kalau di saat bersamaan ada negara besar bertanding,” ujarnya.

Masalah yang dihadapi KPU kini adalah para kandidat tak dibolehkan memasang iklan. Sehingga anggaran yang diterima TV pemenang tender hanya dari KPU saja. Berbeda dengan masa lalu, ketika anggaran debat minim, TV nasional masih mau mengambil, karena ada peluang mendapat iklan dari para calon.

”Kalau sekarang semua dari KPU,” katanya.

Namun demikian Aksar masih menyimpan harap. Ia berdoa agar gagal lelang tak sampai terjadi, sehingga debat benar dapat dilaksanakan. Hal itu menjadi acuan masyarakat dalam menentukan pilihannya.

Ditemui di tempat berbeda, Komisioner KPU NTB Suhardi Soud mengungkap KPU pasti akan memilih media penyiaran nasional yang paling banyak mendapat perhatian penonton.

”Pokoknya TVnya yang paling banyak ditonton, biar populer,”ucapnya.

Hal tersebut dimaksudkan agar Indonesia juga mengetahui kualitas pemimpin NTB selama lima tahun ke depan. Saat disinggung mengenai adanya kemungkinan menggunakan Metro TV dan TVOne, Suhardi hanya mengulas senyum.

”Belum tahu saya, nanti saja kalau sudah di lelang ya,”tuturnya.

Kemudian ia juga mengungkapkan alasan mengapa tidak menggunakan media lokal untuk menyiarkan debat. Menurutnya media lokal dalam hal ini media penyiaran di NTB belum bisa mencakup NTB secara keseluruhan.

”Kendala kami disitu, ingin melibatkan media lokal dalam debat namun tidak dapat mencakup keseluruhan wilayah,”ujarnya.

Nantinya debat pilkada ini akan disiarkan secara langsung. Selain itu pihaknya mencoba bernegosiasi agar tayangan debat tersebut dapat kembali disiarkan.

”Agar TV lokal juga bisa menyiarkan untuk yang relay itu,” katanya.

Sementara calon wakil gubernur HM Amin berharap program debat akan mampu mengatrol elektabilitas pasangan Suhaili-Amin.

”Saya sudah siap menyampaikan ragam capaian lima tahun lalu, dan program lima tahun ke depan,” kata Amin yang kini memang menjabat wakil gubernur.

Pasangan nomor dua TGH Ahyar Abduh dan H Mori Hanafi juga berharap debat biasa terealisasi. Mereka mengklaim sebagai calon yang paling banyak memiliki program jelas dan nyata. Sehingga momen debat dapat digunakan untuk menjelaskan hal itu pada rakyat.

”Kami siap.Setelah debat, pasti rakyat makin banyak mendukung kami, karena visi dan misi yang jelas itu,” kata Mori. (yuk/cr-eya/r4)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka