Ketik disini

Headline Metropolis

Intip Peluang Kerja di Era Milenial

Bagikan

Generasi milenial bukan menunggu lowongan kerja. Tapi menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Sudah siap?

 —————————

NGGAK perlu modal besar. Cukup smartphone di tangan. Ponsel pintar itu ternyata memberi peluang kerja, bagi siapa saja yang jeli melihat peluangnya.

Noe Sara, salah satu pengusaha wanita memanfaatkan smartphone untuk menjalankan bisnis jual beli online. Kerja ini dinilainya lebih menjanjikan ketimbang menggantungkan hidup di perusahaan-perusahaan yang menawarkan gaji tak seberapa.

“Pendapatan memang fluktuatif, tapi kalau bagus bisa tiga sampai empat kali lipat dari gaji di tempat-tempat usaha sekelas supermarket atau dealer motor,” bandingnya.

Pemilik akun facebook Noe Sara, juga mengaku sempat kepincut mau jadi pegawai negeri. Tapi sejak pemerintah memoratorium penerimaan PNS, belum lagi pekerjaan sebagai PNS yang mengikat dan tidak bebas, membuat wanita yang berusia 25 tahun ini lebih senang menjadi pengusaha.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

“Memang enak usaha di zaman milenial seperti saat ini,” ujarnya.

Dulu seorang pengusaha jual beli pakaian harus punya tanah di tempat strategis, uang yang banyak untuk membangun toko, hingga modal tak sedikit untuk menyetok barang. Tapi Noe mengaku mengawali usahanya hanya dengan modal smartphone saja.

“Ada foto barang tinggal posting, kalau orangnya mau ditalangin dulu setelah itu dianterin dan dibayar lebih, jadi untung,” tuturnya pada pengalaman pertama kali ia memulai usaha.

Sudah dua tahun ia menggeluti usaha bisnis online. Kini, Noe sudah menikmati banyak keuntungan. Ia merasa peluang ini semakin menjanjikan di masa yang akan datang. Di saat semua umat manusia akhirnya menjalani hidupnya dengan cara yang efektif dan praktis.

“Hanya pengusaha kecil-kecilan, yang penting tidak minta pada orang tua,” ujar Noe merendah sembari tersenyum.

Sebenarnya cara kerja Noe sudah lebih dahulu dicontohkan oleh Indah Purwanti, owner Indah Mutiara Lombok (IML). Dalam kesempatan berbicang dengan Lombok Post beberapa waktu lalu, Indah pernah bertutur jika usaha mutiaranya itu diawali dengan modal ponsel saja.

“Saya mulai usaha ini pada Agustus 2011, saat itu masih lewat online,” kata Indah di galeri miliknya kala itu.

Indah menjadi contoh salah satu wanita muda hebat kala itu yang berani mengambil keputusan. Memilih keluar dari zona nyamannya yakni karyawati sebuah bank swasta. Dengan gairah dan semangat mudanya kala itu, ia merintis usaha baru dengan menjual salah satu produk prestisius di Lombok yakni mutiara.

“Saya mulai dengan modal nol, saya foto mutiara-mutiara yang dijual lalu saya kirim ke sahabat-sahabat,” tutur Indah.

Kini usaha Indah sudah cukup besar. Ia bangga bisa keluar dari zona nyamannya dan membuat zona baru yang lebih nyaman.

“Wanita muda masa kini, harus bisa menginspirasi. Mereka harus punya value, sebagai orang dengan produktifitas yang sama bahkan bisa melebihi laki-laki,” tegasnya.

Peluang jadi pengusaha itu memang terbuka lebar bagi anak muda milenial saat ini. Tidak melulu untuk usaha yang normatif seperti jualan pakaian hingga mutiara. Tapi ada juga yang memilih jadi pengusaha dengan ‘menjual’ kreativitas dan bakatnya.

Salah satunya yakni Erys Cristalina. Gadis yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Mataram ini memulai usahanya diawali dari kesukaan ia pada kartun dan komik.

Tapi siapa sangka, tayangan kartun setiap hari minggu yang sering ditontonnya waktu ia masih kecil, telah memancing motivasi ia memulai sebuah bisnis out of the box. Ia mengajukan kerja sama dengan media-media komik online seperti webtoon lalu membuatkan mereka komik-komik tematik yang dipesan.

 “Aku suka buat komik bertema komedi, slice of life, romance, dan fantasy,” terangnya.

Runner Up Rising Star Webtoon Challenge pada bulan Juni 2016 juga telah disibukan oleh kegiatan membuat komik online di perusahaan Neo Bazar. Dan tentu saja ia dapat royalti atas kreativitasnya itu.

Ia juga dapat kehormatan menjadi asisten komikus Braveheart. Tidak sampai di situ kini ia telah menjadi staff illustrator gambar soal ujian nasional bahasa Jepang tingkat SMA jurusan bahasa.

“Ya aku rasa sebuah pekerjaan apapun itu bila ditekuni, akan mendapat hasil yang maksimal,” ujar ia sembari tersenyum puas.

Selain itu semua masih banyak lagi peluang usaha yang bisa dikerjakan di era milenial. Dari cara-cara yang tidak disangka-sangka dan mungkin tidak pernah dipikirkan orang-orang tua dulu.

Sebut saja pekerjaan anak muda banget yang banyak mulai dilirik seperti menjadi Youtubers, pengelola akun page Facebook, membuat portal informasi dan masih banyak lagi lainnya. Mereka bisa mendapatkan hasil puluhan juta hingga ratusan juta, hanya dari bersenang-senang di media sosialnya.

Sahri, akademisi dan pengamat ekonomi dari Universitas Mataram melihat lebarnya peluang usaha ini sangat sehat bagi ekonomi suatu negara atau daerah. Jika pemudanya semakin melek pada kesempatan usaha dan berani mengambil kesempatan ini tentu ia membayangkan betapa banyak tenaga muda yang enerjik dan produktif akan menghasilkan karya.

“Mereka bisa disebut sebagai pengusaha (karena menghasilkan uang) dan tentu berdampak baik bagi kebangkitan ekonomi daerah,” kata Sahri.

Semakin besar peluang usaha, semakin besar juga tenaga yang akan terserap. Teorinya jika semua usaha itu bekerja secara kolektif maka itu akan berdampak pada kondisi ekonomi secara regional atau nasional.

“Teorinya kan semakin banyak pengusaha, semakin maju sebuah daerah,” ulasnya.

Era milenial yang khas dengan dunia digitalnya memang telah menghadirkan banyak hal. Tak hanya melulu soal sisi buruk tapi ada juga sisi positif yakni yang bisa dirasakan yakni peluang-peluang usaha yang bisa diciptakan.

“Jika ini juga dapat ditangkap dengan baik oleh anak muda di Mataram, tentu ini sesuatu yang mengembirakan sebab ini awal dari kebangkitan ekonomi daerah,” nilainya.

Apalagi jika para pengusaha itu notabene adalah mereka yang masih berusia muda. Bagi Sahri kelak jika usaha mereka besar, para pengusaha itu telah punya modal pengalaman yang cukup dalam mengambil keputusan.

“Ya tidak apa jatuh bangun dulu sekarang yang penting kan dapat pengalaman yang sangat bermanfaat saat mereka lebih dewasa lagi dan usahanya sudah semakin besar,” ujarnya.

Sebuah keputusan yang diambil saat baru pertama kali membuka usaha, tentu akan berbeda dengan orang yang telah mengerti asam garam dunia usaha. Setelah bertahun-tahun atau berpuluh tahun menggeluti dunia usaha itu. Sahri meyakini peluang pembelajaran itu juga terbuka lebar bagi enterpreneur-enterpreneur yang memanfaatkan kemajuan dunia digital belakangan ini.

“Dan saya rasa, kemudahan dunia digital saat ini bisa jadi alasan yang kuat bagi anak muda saat ini untuk mau memulai usaha dan berani bermimpi jadi seorang enterpreneur besar,” ujarnya.

Sahri pun wajar melihat jika banyak yang akhirnya meninggalkan mimpi-mimpi jadi seorang PNS. Selain melihat dampak dari moratorium PNS kemarin, ternyata tidak berdampak signifikan dalam menjatuhkan perekonomian bangsa. Moratorium itu justru telah memantik anak-anak muda untuk berani out of the box mencari dan membuat pekerjaan yang lebih baik dari menjadi PNS.

“Termasuk kalau nanti dibuka juga peluang penyerapannya juga sedikit jadi wajar banyak yang akhirnya survive membuat usaha sendiri yang penghasilannya bahkan lebih baik dari seorang PNS,” tandasnya. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka