Ketik disini

Headline Metropolis

Jagung NTB Rambah Filipina, Diekspor 30 Ribu Ton Tahun Ini

Bagikan

MATARAM-NTB memastikan mengekspor 30 ribu ton jagung ke Filipina tahun ini. Kemarin (20/3), pengiriman tahap pertama sudah dilakukan. Total 11.500 ton jagung dikapalkan ke negeri tetangga tersebut. Pegapalan dilakukan dari Pelabuhan Badas, Kabupaten Sumbawa.

Ekspor perdana jagung ke Filipina dilepas langsung Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi. Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Badan Ketahanan Pangan Nasional Kementerian Pertanian Agung Hendriadi, Pangdam IX Udayana Mayor Jenderal TNI Beny Susianto, dan tuan rumah Bupati Sumbawa HM Husni Djibril.

Terkait ekspor perdana tahun ini, Gubernur TGB menegaskan, hal tersebut merupakan wujud mendukung NTB terhadap ketahanan pangan nasional. Terlebih, NTB telah ditetapkan pemerintah pusat sebagai daerah lumbung pangan nasional.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Tak Cuma mengekspor ke Filipina. Jagung NTB juga dikirim beberapa daerah di dalam negeri. Hal ini sudah dilakukan semenjak tahun lalu. ”Ini menunjukan NTB selalu berkontribusi positif untuk pembangunan nasional,”  kata Gubernur.

Dia tak lupa berterima kasih kepada semua pihak yang membantu swasembada pangan di NTB. Terutama kepada petani jagung NTB. Ia mengapresiasi kesungguhan para petani meningkatkan produksi jagung secara terus-menerus. Sehingga produksi jagung NTB terus meningkat. Tahun 2016 produksi jagung NTB 1,1 juta ton. Dan tahun 2017 melonjak menjadi 2,127 juta ton.

”Itu berkat kerja keras petani kita,” tandas Gubernur.

Setelah petani menanam, tugas pemerintah adalah memastikan kemanfaatan ekonomi semakin besar untuk petani. Caranya dengan memangkas biaya produksi. Ia berharap distribusi pupuk benar-benar lancar. Sementara di sisi lain, pembelian hasil petani harus di atas Harga Pokok Penjualan (HPP).

Petani Harus Menabung

Melonjaknya produksi jagung di NTB juga menjadikan perputaran uang pada komoditas ini sangat besar. Gubernur mengungkapkan, dengan produksi 2,1 juta ton, perputaran uang kini menembus angka Rp 6,5 triliun setahun.

Karena itu, orang nomor satu di NTB ini berharap, keuntungan para petani dari menanam jagung tidak hanya dipakai untuk kegiatan konsumtif. Tapi juga ditabung, atau diinvestasikan untuk kegiatan produktif.

Dikatakannya, sejauh ini, aksi menabung memang masih minim dilakukan para petani di NTB. Karena itu, ia meminta dana dari hasil jagung dijadikan modal desa membuat BUMDES.

”Itu akan  menguatkan struktur ekonomi  jangka pendek maupun panjang,” ujarnya.

Sementara itu, Agung Hendriadi mengatakan, NTB berkontribusi besar dalam membebaskan Indonesia dari Impor jagung. Pada tahun 2015 Indonesia impor 3,2 juta ton namun angka ini terus turun hingga menjadi nol tahun 2017 lalu.

NTB menempati urutan kelima, provinsi dengan produksi jagung terbesar, dengan peningkatan 18,5 persen pertahun. Capain itu luar biasa, megingat luasan lahannya jauh dibandingkan provinsi besar lain.

Dalam pelepasan ekspor jagung itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa mencanangkan Gerakan Masyarakat Jagung Integrasi Sapi (GAMAJIPI). Gerakan itu diinisiasi Pemda Sumbawa, karena limbah jagung meningkat siring dengan meningkatnya produksi jagung.

Bupati Sumbawa HM Husni Djibril mengungkapkan, program GAMAJIPI ini dalam rangka mengkolaborasikan sektor pertanian melalui tanaman jagung dengan sapi pada sektor peternakan. Melalui program tersebut, pemda berharap, limbah jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain juga bisa menghasilkan biomasa.

Agar program tersebut bisa berjalan dengan baik, maka dukungan dari Pemprov dan Kementan sangat diharapkan. Terutama dalam hal bantuan penyediaan benih, pupuk, sapi, alsintan dan sarana pertanian lainnya.

Bupati juga berharap 112 BUMDes yang ada di Sumbawa, dapat berperan memanfaatkan potensi limbah jagung melalui penyediaan jasa pembuatan. Sekaligus penjualan pakan ternak sapi.

Dalam enam  tahun terakhir, sejak tahun 2012, produksi jagung di Sumbawa terus meningkat. Luas tanam pun begitu. Jumlahnya terus bertambah. Luas tanam dari semula 35.462 hektare kini menjadi 97.204 hektare. Sementara jumlah produksi dari 192.390 tahun 2012 menjadi 621.405 ton tahun 2017.

Tahun ini, ditargetkan produksi jagung Sumbawa bisa menembus satu juta ton. Menurut Husni, dengan produksi 1 juta ton, diperkirakan limbah yang bisa diolah menjadi pakan mampu menghidupi 133.333 ekor sapi selama 75 hari. (aen/ili/LPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka