Ketik disini

Headline Kriminal

Saksi : Rekanan LTB Milik Terdakwa

Bagikan

MATARAM-Sidang dugaan korupsi dana penyertaan modal PT Lombok Tengah Bersatu (LTB) digelar di Pengadilan Tipikor Mataram, kemarin (20/3). Kali ini jaksa menghadirkan mantan staf dan mandor perusahaan, yakni Muhammad Rosidi serta Mimbal.

Nama pertama diketahui mulai bekerja sebelum PT LTB didirikan, dari 2012 hingga 2014. Dalam keterangannya, Rosidi mengatakan, dirinya yang mengurus seluruh teknis perizinan untuk pendirian PT LTB. Seperti NPWP hingga SK pembentukan perusahaan.

a�?Saya sebagai staf, dari sebelum perusahaan berdiri sudah bekerja di sana,a�? kata Rosidi.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ order=”desc”]

Selama menjadi staf, Rosidi mengaku hanya tiga kali menerima gaji. Jumlahnya juga tidak sesuai dengan kesepakatannya, yakni Rp 3 juta setiap bulannya. Bukan itu saja, pemberian tiga kali gaji dilakukan dengan cara merapelnya.

Ketua Majelis Hakim Suradi sempat menanyakan mengenai peran saksi dalam perusahaan. Saksi juga ditanya di bidang apa perusahaan bergerak. Menurut Rosidi, dia lebih banyak mengurus masalah teknis.

Sebelum perusahaan berdiri, Rosidi bertugas mengurus segala perizinan pembentukan PT LTB. Selanjutnya, ketika turun SK pembentukan PT TLB, yang bersangkutan bertugas mencari investor yang mau bekerja sama dengan perusaan.

a�?Tidak ada usaha bata ringan saat RAB dulu. Yang ada hanya Agro, Tourism, dan Properti,a�? ujar Rosidi menjawab pertanyaan hakim mengenai bidang usaha dari PT LTB.

Bagaimana dengan pencairan dana sebesar Rp 1 miliar dari Pemkab Loteng di 2014? Kata saksi, dirinya hanya sekadar mengetahui ada dana yang diberikan kepada PT LTB. Itu juga diketahui setelah diberi tahu terdakwa Lalu Martadinata, yang saat itu selaku Direktur Utama PT LTB.

Karena itu, sebelum adanya penyertaan modal dari pemda, operasional perusahaan lebih banyak menggunakan uang pribadi Lalu Martadinata. a�?Rapat dan lain-lain itu menggunakan uang pribadi Dirut. Operasional dari Dirut saja,a�? ujarnya.

Meski dalam RAB tidak terdapat rencana usaha bata ringan, saksi mengakui bahwa perusahaan akhirnya bergerak di bidang usaha tersebut. Rosidi mengatakan, usai berhenti, dirinya sempat dipanggil lagi untuk bekerja di PT LTB.

Setelah masuk untuk yang kedua kali, perusahaan juga telah beroperasi untuk memproduksi bata ringan. Penasihat hukum terdakwa Hadi Muhlis menanyakan, apakah saksi mengetahui dan mengikuti beberapa kegiatan terkait produksi bata ringan.

a�?Pernah ke lokasinya juga di Rembiga. Saat itu ada pengerjaan bata ringan. Saya juga pernah ikut rapat untuk promosi pemasaran bata ringan,a�? terang Rosidi.

Selanjutnya, saksi kedua, yakni Mimbal mendapat giliran untuk memberi keterangan. Di hadapan majelis hakim, Mimbal mengatakan mulai bekerja di PT LTB dari Juli 2014 hingga akhir 2016.

Masuknya Mimbal karena diajak Direktur Marketing Abdul Karim. a�?Saya sebelumnya pernah bekerja dengan beliau di tempat usahanya di Senggigi, kemudian diajak untuk gabung dengan PT LTB,a�? kata Mimbal menunjuk terdakwa Abdul Karim.

Mimbal menerangkan, selama bekerja dirinya ditugaskan sebagai mandor. Mengawasi sekaligus meracik bahan untuk membuat bata ringan. Masuknya Mimbal, setelah PT LTB menjalin kerja sama dengan PT Prima Graha Cemerlang (PGC), rekanan untuk memproduksi bata ringan.

Hakim lantas menanyakan di mana lokasi perusahaan dan siapa pemilik dari PT PGC. Kata saksi, PT LTB dan PT PGC berada di satu lokasi yang sama, yakni di Rembiga, Kota Mataram.

a�?Secara struktur saya tidak tahu siapa di PT PGC. Tapi, setahu saya, Pak Zahrun merupakan pemilik dari PT PGC,a�? terang Mimbal merujuk nama terdakwa Zahrun Arbaidi, yang juga Direktur Keuangan di PT LTB.

Setelah mendengarkan keterangan saksi, hakim menutup sidang dan akan melanjutkannya pada pekan depan. Agendanya masih sama, mendengarkan keterangan saksi.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys