Ketik disini

Headline Politika

Ali BD Akan Angkat Guru Honorer Dua Kali Lipat

Bagikan

SELONG-Potret dunia pendidikan NTB saat ini menjadi perhatian calon gubernur independen Ali BD. Ia mengaku prihatin dan miris melihat nasib pendidikan NTB saat ini. Lantaran, pemerintah dianggapnya belum mampu merumuskan pengelolaan pendidikan dengan baik. Salah satu buktinya adalah proses pengangkatan guru honorer SMA/SMK sederajat yang berbelit-belit.

Guru honorer yang dulu mendapat SK bupati dan wali kota saat ini tidak diperpanjang SK-nya oleh pemeritah provinsi yang sudah mengambil alih kewenangan pengelolaannya. Ali BD mengaku heran dengan tindakan Pemprov yang terlalu banyak teori namun nihil hasil. Padahal, seharusnya Pemprov NTB harus bisa mengangkat jauh lebih besar guru honorer yang telah diambil dari kabupaten/kota.

“Setelah SMA/SMK itu dipindahkan, anggaran DAU ataupun DAK yang dulu dikasih ke kabupaten kota dikurangi lalu ditambah ke provinsi. Jadi keliru kalau mereka (pemprov, Red) tidak bisa membayar gaji mereka,” ujar Ali BD.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ order=”desc”]

“Tapi ini akibat pemerintah saat ini tidak bisa mengatur anggaran. Mereka tidak bisa merumuskan bagaimana cara mengangkat guru honorer,” lanjut Ali BD memberikan sindiran.

Ia menyayangkan kondisi ini membuat nasib guru honorer SMA/SMK menggantung sejak tahun 2017 lalu. Terlebih, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB beberapa kali menjanjikan akan melakukan seleksi dan mengangkat guru honorer. Faktanya, hingga saat ini tidak ada realisasinya.

“Kalau saya, dua kali lipat dari jumlah yang ada di Provinsi saat ini akan saya angkat. Karena itu memang kebutuhan akibat tidak ada penggantian guru PNS yang pensiun karena moratorium,” terang pria yang akrab disapa Amaq Asrul tersebut.

Apa yang dikatakan Ali BD bukan pernyataan politis atau janji surga. Hal tersebut telah ia lakukan sebelumnya di Lombok Timur. Ia mengangkat sekitar 385 guru honorer daerah di SMA/SMK. Itu yang kemudian diambil alih oleh Pemprov NTB seiring dengan undang-undang yang berlaku.

“Tapi itu kita sayangkan mereka (Pemprov NTB, Red) tidak melanjutkan SK guru honorer. Tunggu saya, besok itu saya angkat lagi guru honorer kabupaten/kota dan saya tambah pengangkatan dua kali lipat,” tegasnya dengan nada geram.

Lantas dari mana porsi anggaran untuk pengangkatan guru honorer tersebut? Ali BD menjelaskan bahwa anggaran yang ada sudah jelas. Namun saat ini Pemprov menurutnya tidak bisa mengatur anggaran yang ada.  Sehingga mereka tidak menganggarkan untuk para guru honorer tersebut.

“Apakah pendidikan itu menurut mereka (pemprov NTB, Red) tidak urgent? Salah besar kalau mereka berpikir begitu. Pendidikan itu harus nomor satu. Mereka tidak punya kemampuan memilih mana yang prioritas kalau menganggap penganggaran untuk guru honorer tidak penting,” sesal pria yang identik dengan kacamata hitam tersebut.

Dalam pembangunan jangka panjang, pendidikan ditegaskan Ali BD adalah priorotas nomor satu. “Salah besar pokoknya kalau pendidikan tidak nomor satu, titik,” ucap Ali BD kembali menegaskan.

Selain memberi perhatian kepada guru honorer di sekolah negeri, Ali BD juga menegaskan tugas pemerintah harus memberi perhatian kepada guru sekolah swasta, madrasah dan pondok pesantren. Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan dana Bansos kepada yayasan-yayasan tersebut. Agar sekolah swasta dan pondok pesantren bisa meningkatkan kualitasnya.

“Saya siapkan Bansos sepuluh kali lipat sebesar Rp 350 miliar dari yang diberikan Provinsi saat ini. Apa yang sudah saya lakukan pada Ponpes dan madrasah di Lotim akan terus saya lakukan dan tingkatkan,” jelasnya.

Untuk itulah Ali BD menegaskan seorang pemimpin harus bisa memilih pembantunya dalam hal ini kepala dinas yang tahu cara merumuskan pikirannya. Tidak boleh seorang pemimpin dikatakan Ali BD justru mengikuti kemauan kepala dinas. “Mereka kepala dinas itu yang  seharusnya mengikuti pikiran pemimpin,” paparnya.

Kepala dinas ditegaskannya harus mampu merumuskan pemikiran kepala daerah. Terlebih pemikiran Gubernur NTB dalam hal ini TGB M Zainul Majdi yang menurutnya memiliki visi membangun jauh ke depan.

“TGB itu orang baik dan punya visi. Pada waktu kepala dinas provinsi dan direktur rumah sakit datang ke rumah saya bersama TGB. Saya sudah ingatkan dua orang (pendampingnya) saa itu. Anda harus profesional membantu gubernur,” ucap Ali BD menirukan perkataannya mengingatkan kepala dinas Pemprov NTB.

Karena dimakluminya TGB bukanlah pegawai melainkan orang swasta sama seperti dirinya. Namun sebagai pemimpin ia memiliki visi. Namun sangat disayangkan jika tidak ditunjang oleh pembantunya. Ali BD menilai mereka tidak memahmi visi gubernur.

“Kalau kepala dinasnya tidak mengerti visi pemikiran gubernurnya, biarkan mereka jadi pegawai biasa. Jangan jadi kepala dinas,” pesannya. (ton/r8/*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka