Ketik disini

Headline Metropolis

Fantastisnya Bisnis Mobile App

Bagikan

Jangan patah arang, dunia belum mau kiamat! Tak ada CPNS atau lowongan kerja perusahaan bukan berarti dunia tak adil padamu. Ini hanya soal mindset dan kesiapan menghadapi zaman milenial, di mana segala sesuatu seharusnya sudah serba digital!

———————

Pernahkah Anda mengkhayal? Bisa kerja kapan saja, Anda mau. Tidak perlu pakai dasi celana panjang dan seragam yang bikin boring. Cukup celana pendek, kaus oblong dengan earphone yang medengungkan lagu suka-suka.

Kerjanya sambil di depan komputer dalam kamar. Ada snack dan berbagai makanan kesukaan di meja. Kalau lapar tinggal ke dapur rumah. Bosen? tinggal main gitar atau mendengkur di tempat tidur. Tapi gajinya gede. Hingga Rp 400 juta. Mau?

Kerja juga gak perlu mikir sudah mandi apa belum. Jigong bau naga pun tak mengapa. Toh yang tahu cuma Anda yang ada di dalam kamar. Tapi yang jelas bukan money game atau Multi Level Marketing (MLM) yang kerap bikin kesal karena persentasinya selangit tapi bikin bad mood.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

“Ya senang aja buat Mobile App,” kata Ivan Ananda Harsono.

Ivan adalah putra dari Iwan Harsono, seorang akademisi jempolan Universitas Mataram. Pria yang saat ini bekerja menjadi salah satu tim Yunior Programmer Mobile App Developer di Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, ini pantas menjadi salah satu ikon Industri Kreatif generasi milenial.

Tak hanya menjadi tim yunior programmer, Ivan juga telah membuat beberapa aplikasi Mobile App. Dan ia mendapatkan penghasilan yang fantastis dari bisnis digitalnya itu.

“Salah satunya adalah Mobile App Cupace yang bisa unduh melalui layanan Google Play,” terangnya.

Aplikasi ini telah diunduh 72 ribu kali. Kebanyakan peminat karyanya itu berasal dari Eropa dan Amerika Serikat. Rata-rata yang mendownload aplikasinya 1.800 orang per hari saat ini. Drastinya peningkatan ini tidak lepas dari semakin populernya karya tangannya di dalam kamar.

“Kalau bulan lalu hanya berkisar 700 per hari,” terangnya.

Aplikasi yang ia buat itu, telah bekerja dengan sendirinya, menghasilkan uang untuknya. Ia hanya perlu bekerja saat ingin meningkatkan kualitas aplikasi.

Ide dasar Ivan menang sederhana, tentang sebuah aplikasi edit foto yang simpel. “Semua orang memiliki smartphone yang ada kameranya. Setiap hari juga, orang-orang mengabadikan momen spesialnya, mereka tentu tidak ingin foto-foto spesial itu terlihat biasa, karena itu Cupace dibuat,” ulasnya.

Aplikasi Cupace milik Ivan memang baru seumuran jagung. Pria yang saat SD sampai kelas 2 pernah menikmati pendidikan di Australia, lalu pindah ke SD 4 Mataram itu, sudah bisa menikmati penghasilan rata-rata Rp 4 juta dalam setiap bulan. Dan kemungkinan akan berpeluang naik lagi.

Itu di luar pekerjaan tetapnya, sebagai tim IT di Bank BRI. Lengkap dengan segudang prestasi yang ia raih sebagai karyawan berotak encer di sana.

“Softwerenya saya buat kalau ada waktu luang, hanya butuh beberapa minggu saja sampai benar-benar sempurna,” terangnya.

Saat aplikasi hasil dari ide kreatifnya itu selesai, maka Ivan memilih berbisnis dengan memejeng aplikasinya di layanan Google Play. Ia tak layak dicap sebagai pengangguran, karena nyatanya hanya dengan menunggu aplikasinya didownload oleh ribuan orang, ivan telah menikmati buah manis industri kreatifnya.

“Ini soal bakat dan kemauan, siapa saja bisa mengerjakan ini. Di internet juga banyak tutorial cara membuat Mobile App,” ujar mantan siswa lulusan SMP 2 Mataram ini.

Benar kata Ivan. Jika para pengangguran di kota yang jumlahnya sampai 13 ribu itu, 10 persennya saja mau merambah binsis Mobile App, maka mereka sudah terselamatkan dari intaian kemiskinan. Rahasianya menurut lulusan SMAN 1 Mataram dan Sarjana di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya ini, hanya ada pada bakat dan kemauan.

“Dari pada punya smartphone atau laptop buat nge-game, kan mending belajar programmer. Saya rasa semua orang pasti bisa. Yang membuat beda hanya kemampuan menyerap, ada yang cepat ada pula yang lambat,” ulas pria yang berhasil lulus dengan predikat Cum Laude itu.

Binsis mobile app menurut Ivan sangat menjanjikan. Apalagi era milenial telah menasbihkan segala urusan manusia akan dikerjakan serba digital. Tak ada sedikit pun keraguan untuk itu. Bahkan, Ivan bertutur bisnis industri kreatif dalam bentuk Mobile App, sampai ada yang telah mencetak rekor dengan mendapatkan ratusan juta sebulan.

“Ada yang sampai RP 400 juta sebulan, tergantung banyak penggunanya,” ujarnya.

Bisnis Mobile App jadi salah satu industri kreatif lainnya selain Youtubers yang bisa dirambah para sarjana. Maka sekali lagi ini hanya soal kemauan dan keberanian diri, untuk fokus menggeluti pekejaan itu.

“Karena kalau setengah-setengah tentu percuma, hasilnya pasti mengecewakan,” tutupnya.

Wakil Ketua DPRD Kota Mataram Muhtar, juga setuju sektor industri kreatif menjadi perhatian serius OPD terkait yang mengurusi masalah ketenaga kerjaan. Tidak hanya menyediakan pelatihan industri kreatif konvensional. Seperti cara membuat kue, pakaian, dan lain sebagainya.

Tetapi harus bisa menawarkan pelatihan yang sifatnya sesuai dengan kemajuan dan kebutuhan teknologi saat ini. “Salah satunya itu (industri kreatif digital),” kata Muhtar.

Pemerintah juga harus berani membuat terobosan. Mulai dari mengkampanyekan soal industri kreatif digital dan memberi pelatihan. Generasi saat ini perlu dibuka lagi wawasannya agar tidak terpaku pada hal-hal normatif. Seperti, menunggu pembukaan CPNS dan lowongan pekerjaan dari perusahaan.

“Dunia sudah sangat maju. Teknologi juga sangat pesat, kita harus bisa menyesuaikan diri untuk mencetak generasi sesuai dengan kebutuhan zamannya,” tegasnya.

Jika hanya menggantungkan harapan pada pekerjaan konvensional peluangnya sangat terbatas. Bahkan hingga saat ini kejelasan CPNS yang hanya memberikan peluang 250 posisi untuk rekruitmen di kota, belum ada kabar pasti.

“Belum ada,” kata Sekda Kota Mataram H Effendi Eko Saswito.

Porsi ini jelas tidak akan mampu mengakomodir 13 ribu pengangguran di kota. Jika tidak segera survive dan menyesuaiakan kopetensi dengan kebutuhan di era modern ini, maka ancaman menjadi pengangguran akut tentu sudah di depan mata.

“Ya saya rasa selain mengandalkan aspirasi dari masyarakat bagaimana mendorong penyerapan tenaga kerja melalui MPBM, kita butuh pola-pola lain penyerapan tenaga kerja melalui sektor industri kreatif. Sehingga angka pengangguran di kota bisa lebih banyak terserap,” kata ketua Komisi I DPRD Kota Mataram I Gede Sugiartha. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka