Ketik disini

Headline Opini

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Bagikan

Oleh : Ahmad Syamsul Hadi

*Eksekutif Nasional WALHI 2010 – 2016-Aktif di Publik Institute NTB.

***

Catatan Kementerian PPN/Bappenas menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tinggi. Hal ini didukung oleh pertumbuhan investasi di atas 7 persen, peningkatan ekspor sebesar 3,62 persen dari periode yang sama di tahun 2016, dan peningkatan konsumsi masyarakat, utamanya konsumsi jasa sebesar 5,3 a�� 5,4 persen yang mengindikasikan adanya pergerakan kelas menengah di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2017 sebesar 5,07 persen ini lebih tinggi dibanding capaian tahun 2016, yaitu 5,03 persen.

Tiga tahapan pembangunan nasional untuk mencapai Indonesia Emas menitik beratkan pada : Pertama: pembangunan infrastruktur. Karena negara kepulauan maka konektivitas menjadi penting dengan infrastruktur yang memadai sehingga Indonesia menjadi lebih kompetitif. Kedua: pembangunan industri pengolahan. Indonesia tidak lagi ekspor bahan mentah seingga pembangunan industri pengolahan ini diyakini dapat memberi nilai tambah bagi produk nasional yang berimbas positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ketiga: pembangunan industri jasa. Pariwisata adalah andalan dalam sektor ini.

Sementara itu Pilar Visi Indonesia 2045 yang digagas oleh Presiden Joko Widodo adalah: pembangunan SDM dan penguasaan IPTEK, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan, serta ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan. Hal ini cukup berbanding jika membaca dokumen UN Population Prospect 2010-2085 bahwa jumlah penduduk usia produktif Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dengan prosentase 41 persen sedangkan Philipina 19 persen, Viet Nam 11 persen, Myanmar 8 persen, Thailand 7 persen dan lainnya 11 persen.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”116″ order=”desc”]

Demikianlah beberapa perkembangan upaya pemerintahan Jokowi-JK dalam paruh waktu kepemimpinanya.

Catatan diawal bisa jadi tidak berbanding lurus dengan diskursus yang berlangsung belakangan ini, bahkan sejak Jokowi sendiri dicalonkan oleh PDI Perjuangan untuk maju sebagai calon presiden.A� Jika diibaratkan sebuah bangunan maka bisa jadi negara bangsa ini sedang bersusah payah menjaga pondasinya yang rapuh. Secara perlahan diamuk rayap dan mahluk-mahluk berjubah demokrasi sedang berupaya keras menopang tiang-tiangnya sehingga bangunan utama tidak roboh.

Saya pernah menyatakan dalam tulisan sebelumnya bahwa demokrasi berada dalam bibir jurang kehancuran, pendapat saya bisa jadi subyektif tapi hal tersebut bukannya tidak beralasan. Karena faktanya kata demokrasi dan keadaan yang terbangun saat ini masih jauh dari cita-cita; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Empat pokok kalimat tersebut adalah dasar-dasar yang sedang diperjuangkan terus menerus menuju Indonesia yang Berdaulat, Maju, Adil dan Makmur. Sehingga secara bertahap Demokrasi selalu melahirkan putra-putri terbaik bangsa.

Sehingga konstitusi juga mengamanatkan kepada pimpinan negara ini untuk melaksanakan hal tersebut tanpa kompromi.

Kepemimpinan Nasional

Menilik nama TGB yang mulai digadang ke istana, ada baiknya melihat situasi pada 2014 lalu dimana Joko Widodo dan Jusuf Kalla meraup perolehan suara sebanyak 70.997.833 suara atau 53,15 persen dari total suara sah nasional. KPU kemudian memutuskan secara resmi pasangan ini sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode tahun 2014-2019. Tetapi hasil pemilu tersebut dihadapkan pada sidang-sidang di Mahkamah Konstitusi sepanjang tanggal 6-21 Agustus 2014.

Kemudian pada 21 Agustus 2014, Majelis hakim Mahkamah Konstitusi memutuskan menolak seluruh gugatan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) yang diajukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Mahkamah Konstitusi menilai, Prabowo-Hatta tak bisa membuktikan dalil permohonannya. Putusan tersebut kemudian menyatakan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla resmi sebagai presiden dan wakil presiden terpilih 2014-2019. Sebuah putusan yang final dan mengikat.

Jauh sebelum palu majelis hakim Mahkamah Konstitusi diketuk, sesungguhnya ada proses panjang seorang Joko Widodo menuju istana yang menurut saya senyap tapi merancang momentum. Bahkan saat menjabat Gubernur DKI masih seumur jagung, dalam kunjungan saya ke Kalimantan Timur, tepatnya di Samarinda saya dihadiahi kaos putih oleh seorang teman dengan tulisan JKW4P.

Nama Jokowi mulai menjadi perbincangan para politisi dan aktivis sekalipun. ada yang menerka-nerka, tapi tak sedikit yang menganggap remeh dan mengatakan Jokowi tak punya peluang sama sekali.

Tetapi hal yang paling menarik adalah pusaran politik Jakarta (nasional) tidak menyeret dia meninggalkan aktifitas ke-Gurbenuran-nya. Sosoknya kemudian muncul dimana demokrasi membutuhkan transisi paska reformasi ditengah kejenuhan rakyat ber-demokrasi. Tidak berjarak sejak ditunjuk oleh PDI Perjuangan muncullah nama-nama seperti Ryamizard Riyachudu, Abraham Samad, dan mengerucut ke Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden.

Semakin tinggi pucuk, semakin keras angin menerpa; pun Jokowi. seperti adu tinju, dia berdiri tegak meskipun babak belur sepanjang pertandingan dan mampu mengkanvaskan lawan. Terlepas dari itu semua, pribadi saya melihat sendiri gelombang dukungan yang dahsyat diluar mesin partai yang sangat massif.

Serupa tahun 2014 maka tahun 2019 pun demikian, tahun demokrasi, tahun politik, tahun pesta memilih pemimpin nasional.

Menuju Pucuk Kekuasaan

Adalah Tuan Guru Bajang atau TGKH. Dr. Muhammad Zainul Majdi belakangan ini mulai meramaikan bursa nasional.

TGB meraih gelar Doktornya dengan predikat Martabah El-Syaraf El Ula Ma`a Haqqutba atau Summa Cumlaude di Kairo Mesir pada Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qura��an Universitas Al-Azhar adalah gubernur termuda pada masanya, tahun 2008 melenggang merebut kursi NTB 1 didukung oleh PBB dan PKS dalam usia 36 tahun yang pada waktu sebelumnya duduk di Komisi X DPR RI dari PBB.

Kemenangannya mampu mengalahkan golongan tua yang sarat pengalaman birokrasi dan politik, juga petahana saat itu. Selain sebagai Gubernur NTB, saat ini juga menjabat sebagai Ketua Alumni Al-Azhar Mesir cabang Indonesia menggantikan Prof. Dr. Quraish Shihab.

Saya coba mencari di mesin google dan menghasilkan; TGB. Dr. Muhammad Zainul Majdi 146.000 dalam 0,53 detik. TGB calon presiden 2019 sebanyak 835.000 dalam 0,52 detik. Sedangkan Muhaimin Iskandar 1.360.000 dalam 0.41 detik. Ahok 6.490.000 dalam 0,51 detik. Anies Baswedan sebanyak 425.000 dalam 0,43 detik. Prabowo Subianto 447.000 dalam 0,37 detik.A� Moeldoko 1.340.000 dalam 0,36 detik. 1.280.000 dalam 0,39 detik. AHY 4.110.000 dalam 0,51 detik. Kalau mengetik TGB maka hasilnya adalah 5.260.000 dalam 0,51 detik (per 22 Maret 2018).

Sebagai Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, secara sadar publik melihat bahwa Cikeas tidak bisa berpaling dari AHY yang dalam saat bersamaan TGB muncul sebagai kader terbaik dan suka tidak suka juga harus mendapatkan atensi. SBY sebagai tokoh sentral partai tentu berfikir keras akan hal ini. Soal kepartaian boleh jadi diperdebatkan banyak pihak. Tetapi upaya mendorong TGB ke pentas nasional juga tak boleh dianggap premature.

Saya sendiri meyakini bahwa sosok TGB cukup punya tenaga untuk bertarung sehingga mesin yang bekerja untuk itu tidak lagi pidato soal prestasi atau meregang urat leher mengklarifikasi cuitan twitter. Energi positif TGB adalah modal besar untuk membangkitkan semangat khalayak menghantarkannya menuju kekuasaan, berkhidmat dan mengabdi untuk negeri.

Mesin google mungkin tidak bisa menjadi acuan kuat seberapa popular TGB di dunia maya, sama seperti saya selalu meragukan survey yang kehilangan obyektifitasnya. Tetapi dunia maya dan survey adalah satu-satunya alat yang memang saat ini bisa menghadirkan skala dalam banyak hal, prioritas, popularitas, keterpilihan bahkan keberpihakan sampai skala a�?pertempurana�� sekalipun.

Akhirnya, segenap doa��a dan ikhtiar pula yang akan menghantarkan beliau menuju Jakarta. Sekarang atau menunggu sekian masa. Amin.(*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys