Ketik disini

Headline Metropolis

Ribuan Guru Honor Bakal Nganggur, Tak Boleh Ngajar di SMA dan SMK Negeri

Bagikan

MATARAM-Para guru honorer di SMA/SMK dan SLB negeri bersiap-siaplah. Ribuan guru honorer ini dipastikan menganggur setelah Pemprov NTB menyeleksi guru honorer yang rangkaiannya dimulai 24 Maret 2018.

Yang tak lulus seleksi, tak lagi diperbolehkan mengajar di SMA/SMK dan SLB negeri di bawah Pemprov NTB. Sebab, sudah tak ada jam mengajar lagi buat mereka di sana. Jam mengajar sudah dibagi habis kepada para guru PNS dan pada guru honorer yang sudah lulus dalam seleksi.

Diperkirakan ada 2.700 hingga 3.500 guru honorer yang akan diterima dalam proses seleksi ini. Sementara menurut data sementara saat ini, total guru honorer di SMA/SMK dan SLB negeri di bawah Pemprov NTB saat ini jumlahnya mendekati 9.000 orang. Itu berarti akan ada sedikitnya 5.500 guru honorer yang akan langsung jadi pengangguran.

Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB H Aidy Furqan pada Lombok Post, kemarin (22/3) memastikan bahwa 2.700-3.500 guru honorer yang akan diterima tersebut sudah melalui analisis mendalam sesuai kebutuhan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Karena itu, untuk guru honorer yang sedang mengajar saat ini dan dinyatakan tidak lulus seleksi, nantinya tidak akan memiliki jam di sekolah tempatnya mengajar. Karena jam mengajar mereka sudah dibagi oleh guru yang lulus seleksi.

Mengapa itu bisa terjadi? Aidy mengindikasikan bahwa jumlah guru honorer di SMA/SMK dan SLB negeri saat ini memang melebihi kuota. Indikasinya adalah banyaknya guru  honor yang memiliki jam di sekolah tempatnya mengajar hanya enam jam per pekan.

Artinya dalam satu pekan itu mereka hanya masuk satu hari. Jadi, kebanyakan mereka di luar. Oleh karena itu ia meminta guru yang tidak lulus nantinya bisa memilih profesi lain jika memang waktunya lebih banyak di luar.

“Mengajar ini tidak boleh nyambi,” tuturnya.

Jadi, guru yang tidak lulus harus siap-siap banting setir. Alih profesi jika tidak lulus pada seleksi. Karena tidak ada jam mengajar bagi honorer.

“Kalau waktunya lebih banyak di luar, lebih baik tidak usah mengajar,” kata Aidy.

 Dimulai Akhir Pekan Ini

Rangkaian seleksi guru honorer ini sendiri akan dimulai Dikbud NTB pada 24 Maret 2018. Bagi honorer yang lulus  seleksi kata Aidy,  akan mengantongi SK Gubernur NTB. Besaran gajinya sesuai Upah Minimum Provinsi. Sekitar Rp 1,8 juta tiap bulan.

Proses seleksi guru honorer ini sendiri memang sempat tarik ulur cukup lama. Dan seleksi guru honorer ini memang dikhususkan untuk guru SMA/SMK/SLB yang menjadi milik provinsi.

“Kalau MA ranahnya Kemenag. Begitu juga dengan guru SD dan SMP meiliknya kabupaten/kota,” kata Aidy.

Guru yang boleh ikut seleksi minimal sudah mengabdi satu tahun yang dibuktikan dengan SK pembagian tugas dari sejak pertama mengajar hingga terakhir di sekolah tempat mengabdi. Usia tidak dibatasi. Memiliki ijazah S1 atau linier dengan materi diajarkan. Dan terakhir sehat jasmani dan rohani.

“Jangan sampai ada yang terpidana atau sebagai pengurus parpol,” terangnya.

Dalam proses seleksi ini, diutamakan guru umum. Artinya guru mata pelajaran normatif dan adaftip. Sementara untuk guru produktif yang mengajar di SMK, akan ada seleksi terpisah.

“Guru produktif ini akan ikut seleksi tersendiri,” ujar pria asal Desa Sigar Penjalin KLU ini.

Ditegaskan, guru yang lulus seleksi nantinya akan mendapat SK gubernur. SK ini akan diperpanjang tiap tahun berdasarkan hasil kinerja. Namun demikian SK bisa diputus jika permintaan dari guru itu sendiri.

“Bisa saja diputus kalau guru ingin ubah profesi,” terangnya.

Proses seleksi honorer ini cukup panjang. Aidy membeberkan, rencananya pada 24 Maret Dikbud NTB sudah mulai mengumumkan pendaftaran. Sementara pendaftaran dan penyerahan berkas pendafaran dimulai pada 26 sampai 31 Maret melalui UPT masing-masing kabupaten/kota yang dikirim melalui kantor pos.

Sementara pada 9 April akan diumumkan hasil seleksi administrasi pendaftaran melalui website Dikbud NTB. Bagi guru yang lolos seleksi administrasi akan mengikuti tes kompetensi dasar pada 16 sampai 25 April.

“Honorer yang lulus seleksi tes kompetensi dasar ini akan kita umumkan 30 April,” sebut Aidy.

Tahap selanjutnya lanjut Aidy, honorer yang lolos seleksi kompetensi dasar akan mengikuti tes selanjutnya. Yakni tes  kompetensi bidang pada 14 sampai 18 Mei. Honorer yang lulus nantinya akan mengikuti tes kesehatan dari BNN.

“Lulusnya tidaknya dari hasil screening napza. Jika honorer dinyatakan sehat maka akan lulus,” terangnya.

Aidy menuturkan, honorer yang lulus seleksi ini akan mulai mengajar pada tahun ajaran baru. Sesuai SK. Gaji mereka tidak lagi menjadi tanggungan sekolah. Melainkan gajinya dari APBD yang disesuaikan UMP.

“Pemprov sudah menyiapkan Rp 60 miliar untuk para honorer,” paparnya.

Terpisah Ketua PGRI NTB H Ali Rahim menuturkan, mestinya proses seleksi pengangkatan honorer SMA/SMK/SLB dilakukan pada Desember 2017 lalu. Sehingga pada Januari 2018 guru sudah mulai mengajar sesuai SK.

Ali menyebutkan, pada Desember 2017 lalu Dikbud NTB sendiri melakukan pendataan kepada honorer terkait berapa kepastian dibutuhkan untuk homorer. Sehingga ditemukan angka 3.200 orang. Namun demikian, pendataan tersebut tidak dibarengi dengan seleksi. “Dikbud jangan hanya berwacana saja,” sindirnya.

Kini Ali sangat menyayangkan dengan sikap Dikbud NTB yang terkesan acuh dan tidak mau tahu. Ratusan honorer yang mendapat SK bupati/wali kota tidak bisa dibayarkan tunjangan sertifikasi guru (TPG) setelah peralihan SM/SMK di NTB. Dimana, honorer yang mendapat SK bupati/wali kota ketika SMA/SMK dikelola provinsi tidak lagi diakui.

Dampaknya, miliaran rupiah dana TPG guru honorer tidak disalurkan karena tidak ada pengakuan dari pemprov. “Gara-gara tidak ada SK dikeluarkan pemprov, miliaran TPG dari pusat tidak disalurkan,” cetusnya.

Mestinya lanjut Ali, honorer yang medapat SK bupati/wali kota dipertimbangkan untuk mendapat SK gubernur. “Kasian TPG mereka sekarang tidak dibayarkan,” tutupnya.

 Ombudsman Warning Pemprov

Sementara itu terpisah, Ombudsman NTB meminta pemerintah berhati-hati. Pemberian SK pengangkatan harus memperhatikan aturan yang ada. ”Harus hati-hati, ada ketentuan yang mengaturnya,” kata Kepala Ombudsman Perwakilan NTB Adhar Hakim pada Lombok Post, kemarin.

Ia menjelaskan, dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 56 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas PP 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Honorer. Pasal 8 mengatur, semua pejabat pembina kepegawaian dan pejabat lain dilarang mengangkat honorer, kecuali ditetapkan melalui peraturan pemerintah.

”Gubernur dan bupati/wali kota dilarang mengangkat tenaga honorer atau yang sejenisnya,” kata Adhar membacakan bunyi pasal itu.

Dalam aturan itu juga dijelaskan, apabila gubernur dan bupati/wali kota tetap mengangkat honorer atau sejenisnya. Maka segala konsekuensi dan dampaknya ditanggung pemerintah daerah. Menurut Adhar, regulasi itu harus menjadi bagian dari pertimbangan gubernur. Karena pengangatan honorer berkaitan dengan beban anggaran. ”Pemerintah pusat sudah mewarning tidak boleh lagi mengangkat,” ujarnya.

Menurutnya, honorer adalah bagian dari persoalan lama yang memang harus diselesaikan. Termasuk para honorer yang masuk dalam kategori dua (K2). Kalau honorer K2 yang bisa diproses adalah mereka yang memiliki SK per 15 Januari 2014. ”Mereka adalah guru honorer yang nasibnya sudah digantung sejak lama,” katanya.

Pemerintah perlu memberikan kepastian nasib mereka, dengan menjadikannya CPNS. Terkait itu, PP Nomor 56 Tahun 2015 serta UU ASN Nomor 5 Tahun 2014 sudah mengaturnya. Regulasi itu mengatur pengangkatan honorer menjadi CPNS. Tapi tidak ada ketentuan kapan harus diangkat. ”Yang diatur hanya mekanisme dan tata cara pengangkatan,” jelasnya.

Terkait waktu pengangkatan yang dikaitkan dengan momentum Pilkada. Adhar memaklumi hal itu. Kekhawatiran masyarakat pasti selalu ada. Tapi Ombudsman hanya mengingatkan, seleksi honorer ini tetap harus melalui proses yang benar. ”Transpran dan akuntabel,” harapnya. (jay/ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka