Ketik disini

Headline Metropolis

Prangko dan Nostalgia Para Filatelis

Bagikan

Prangko memiliki nilai seni hingga kenangan dari masa ke masa. Tak heran, pengkoleksi perangko, atau filatelis, akan selalu memburu prangko yang diinginkannya. Sayang, kini, para filatelis semakin berkurang.A� Yang tersisa tinggal hitungan jari.

————————–

SEORANG remaja SMA awal tahun 1997 berlari ke arah bagian umum sekolahnya. Dengan harap-harap cemas melengoskan kepala lewat lubang setengah lingkaran. Di dalamnya seorang pria memasang wajah dingin dan kaku. Ia hanya menyeringai sedikit seolah bertanya.

a�?Ada apa?a�? kata pria itu.

Dengan harap-harap cemas pemuda itu bertanya soal surat untuknya. Bapak itu diam sesaat seperti tengah menambah kecemasan pemuda itu. Sorot matanya tak berubah dingin di balik kaca mata tua yang bertengger di hidungnya.

Tangannya bergerak kaku membongkar-bongkar tumpukan berkas bercampur surat di samping kiri mejanya. Ia tak mengucapkan sepatah kata sekalipun remaja di depannya berulang kali melempar senyum menyapa.

a�?Ini,a�? jawab pria tua itu singkat. Raut wajahnya sepertinya tak banyak berubah.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Pria itu pun menggamit surat dengan harap-harap cemas. Ia berjalan pelan ke arah belakang menuju pojok sekolah.

Hari itu ia sudah bisa menerka ada surat untuknya. Sebab tiga hari yang lalu ia sudah berkirim surat ke seseorang di Lombok Timur.A� Sebuah surat dengan amplop warna pink yang harum dan segar kini sudah di tangannya.

a�?Surat dari sang kekasih hati,a�? ujar pria yang bernama Muhammad Alwi itu tersipu-sipu.

Cerita di atas adalah kisah yang ia bagi pada Lombok Post pada sebuah kesempatan berbincang di angkringannya di kawasan Majeluk. Pria yang dulu sekolah di STM Mataram (kini SMKN 3 Mataram) masih mengingat prangko yang kerap menghiasi surat ia dan kekasihnya sekitar dua dasawarsa silam.

a�?Prangko itu saksi bisu kisah cinta kami. Saya ingat prangkonya ada gambar burung tajai gading ada juga elang bondol,a�? kenangnya.

Bagi Alwi, prangko itu saksi bisu betapa romantisnya kisah cintanya kala itu. Tak hanya sekadar menjadi saksi, prangko-prangko itu juga telah setia menjadi a�?pengantara�� dan penjalin hubungan cinta antara ia dan kekasihnya.

a�?Walau akhirnya ujung-ujungnya kamiA� tak berjodoh juga,a�? ujarnya terkekeh.

Alwi hanya satu dari sekian banyak orang yang menikmati indah dan geregetnya masa-masa keemasan prangko. Barangkai anak muda masa kini hanya beberapa saja yang tahu apa itu prangko dan manfaatnya.

Teknologi yang sudah sangat pesat membuat komunikasi tidak perlu repot menggunakan surat dan tetekbengeknya. Kini komunikasi bisa lebih praktis dan cepat, hanya via ponsel dan internet. Sekalipun prangko hingga kini masih dicetak, tapi peminatnya jauh berkurang. Tak heran prangko dicetak dengan jumlah terbatas.

Bicara soal prangko maka tidak lengkap rasanya jika tidak mengulik soal kegiatan mengkoleksi prangko atau sering disebut filateli. Pada pertengahan tahun 2015 lalu sebenarnya sudah ada upaya untuk menggugah semangat warga kota untuk membangkitkan kembali memori warga kota pada prangko.

Kemenkominfo bahkan menggelar semacam Lokakarya Filateli Nasional di Mataram. Saat itu Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika Kalamullah Romli menginginkan filateli dapat menjadi sarana edukasi bagi warga, khususnya anak sekolah.

a�?Rajin mengoleksi prangko maka akan tahu juga tentang asal prangko itu, misalnya ada prangko dari luar negeri itu akan menambah wawasan,a�? kata Kalamullah kala itu.

Tapi sayang kegiatan itu tak ada powernya. Gaungnya menyurut seiring kegiatan seremoni tersebut usai. Jumlah para filatelis atau para pengoleksi tak banyak bertambah. Anak-anak sekolah dari SD, SMP, dan SMA yang disasar kala itu pun seiring waktu melupakan kegiatan ini. Ridwansyah salah seorang filateli asal Ampenan menilai menjadi filatelis memang tak bisa dipaksakan.

a�?Ini soal panggilan jiwa,a�? kata pria yang senang melukis itu.

Ia sendiri sudah jadi filatelis sejak delapan tahun terakhir. Ada beberapa prangko yang ia koleksi dalam albumnya. Hanya saja Ridwan mengatakan ia tak a�?sehausa�� filatelis lain yang sampai berburu ke luar daerah atau tempat yang jauh.

a�?Kalau ada nemu ya dikoleksi, kalau nggak ada yang gak nyari,a�? ujarnya.

Tapi ia mengaku ada beberapa manfaat yang didapat dengan menjadi filatelis. Ia bisa menambah sahabat dan merasakan kegembiraan yang sulit dilukiskan saat menemukan prangko yang banyak di buru orang.

a�?Ya kebanyakan prangko lama semua yang diburu,a�? tuturnya.

Meski hanya selembar prangko dan memiliki tampilan kuno, bukan berarti tidak punya nilai komersil. Bahkan harganya bisa bikin orang jantungan mendengarnya. Ia pernah mendengar beberapa prangko kuno yang pernah dicetak di Indonesia dihargai Rp 20 miliar.

a�?Seperti prangko kuno masa pemerintahan Hindia-Belanda tahun 1864 yang ada stempel Ngawi di dalamnya,a�? tuturnya.

Sebagai seorang filatelis alamiah ia kepincut memiliki barang itu. Tapi karena sudah sangat langka, mencarinya dengan cuma di tong sampah sepertinya sudah tidak mungkin lagi.

a�?Kalau saya punya satu saja tentu saya tidak perlu kerja lagi, hidup saya bisa tenang dengan Rp 20 miliar di tabungan,a�? timpalnya sembari tertawa lebar.

Sekadar untuk diketahui, dulunya prangko dicetak rata-rata sebanyak 300 ribu lembar. Saat masa edarnya habis, maka prangko-prangko yang tersisa akan dimusnahkan. Orang-orang tua di masa dulu mungkin tidak pernah berpikir bahwa prangko yang pernah mereka pakai dan menempel di amplop suratnya, bisa jadi warisan yang lebih berharga dari sepetak tanah.

a�?Kalau mereka tahu ini akan terjadi, barangkali mereka tak perlu menyisakan lahan tanah dan sawah. Cukup sisakan saja prangko dua tiga lembar di selip di sempare (tempat meletakan makanan di dapur, biasanya di atas tungku) dari bekas surat menyuratnya, maka generasinya dua sampai tiga turunan akan hidup bahagia,a�? kelakarnya.

Beberapa prangko yang paling diburu di dunia antara lain the three skilliing yellow. Prangko ini milik Pemerintah Swedia. Konon prangko ini malah dulu disebut-sebut salah cetak. Pada tahun 1996 kabarnya prangko ini pernah terjual dengan harga Rp 21,85 miliar.

Lalu ada prangko the first two mauritius. Prangko ini masuk jadi dua seri prangko pertama yang dicetak oleh pemerintah kolonial Inggris. Pada tahun 1993 prangko ini pernah dijual dengan harga Rp 10 miliar.

Selanjutnya the inverted jenny. Prangko milik Amerika di tahun 1918 dengan gambar pesawat Curtiss JN-4. Tanpa sengaja prangko ini juga tercetak terbalik. Tapi pada tahun 2005 pernah terlelang dengan harga US$ 2,7 juta. Gila kan?

Dan masih banyak lagi prangko dengan harga jutaan hingga miliaran. Padahal dulu, prangko di masa berlakunya tak pernah seberharga itu. Bahkan setelah isi suratnya diambil amplop dan prangko itu masuk tong sampah.

Sapoan, filatelis lain asal Lombok Barat juga bercerita pada Lombok Post jika dirinya mulai mengoleksi prangko sejak tahun 1981. Berawal dari hobinya yang gemar menulis surat. Sampai ia mungkin menyadari ada potensi prangko itu bisa diwariskan pada anak cucunya.

A�a�?Saya punya beberapa prangko seri Pak Harto, seri-seri pembangunan, prangko biasalah,a�? kata Sapoan.

Ada hal positif yang ia rasakan dengan menjadi filatelis. Terutama dari aspek pendidikan. Wawasannya bertambah baik itu tentang pembangunan, kebudayaan, flora dan fauna, serta segala macam informasi yang kerap melekat pada prangko.

a�?Ada prangko biasa ada prangko yang seri limited edition,a�? terangnya.

Ia sangat mencintai kegiatan filateli. Karena itu ia mewajibkan dirinya bisa mengumpulkan banyak prangko. Baik yang telah atau segera akan dirilis. Untuk hobinya itu ia mengaku mengeluarkan banyak tenaga dengan biaya tidak sedikit.

A�a�?Tak puas di daerah saya terbang ke luar daerah seperti ke Bandung,a�? tuturnya.

Dari 1981 hingga 2018, Ia telah mengoleksi lebih dari 2.000 perangko. Harga yang ia punya pun bervariasi. Dari yang paling murah Rp 40 ribu. Ia juga punya beberapa prangko langka yang harganya lumayan tinggi.

A�a�?Seri Presiden Soekarno-Hatta, itu ada yang pernah mau bayar Rp 2 juta,a�? tuturnya.

Ia punya harapan bisa mempelopori lagi semangat filateli di NTB. Sapoan menjelaskan ia bersama teman-temannya telah membentuk kembali pengurus daerah. Terbentuknya pengurus ini diharapkan dapat memberi ruang lebih lebar lagi bagi para filatelis untuk sosialisasi lagi ke sekolah-sekolah.

a�?Dulu di sekolah-sekolah di Kota Mataram, ada sosialisasi soal filateli,a�? kenangnya.

Dulunya, anggaran filateli di Indonesia ada di Dinas Perhubungan dan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfotik). Setiap tahun kegaitan mereka dianggarkan untuk menggelar pameran.

a�?Tapi sekarang di OPD terkait tidak ada nomenklatur yang membahas tentang Pos dan filateli,a�? ujarnya.

Ia juga brencana menginisasi pembentukan klub filateli di tingkat SMP-SMA. Tak perlu muluk-muluk soal jumlah anggota. Ia menarget di dalam satu sekolah ada 10 anak yang bisa bergabung menjadi filatelis.

Sedangkan ia mulai mengaku terkendala. Karena jam kerjanya cukup padat. Sapoan pun mengaku jarang bisa meluangkan waktu ke kantor pos untuk mendapatkan seri-seri prangko terbaru. a�?Begitu juga agenda keluar daerah juga jadi sangat sedikit,a�? terangnya.

Sabtu (24/3) lalu, sekitar pukul 2 siang Lombok Post bertandang ke Kantor Pos Mataram di Jalan Sriwijaya. Sayangnya beberapa top manajemen tidak ada yang bisa ditemui. Untungnya salah seorang staf di bidang SDM berbaik hati menunjukan pada Lombok Post prangko keluaran terbaru PT Pos Indonesia.

a�?Saya hanya bisa bantu memperlihatkan prangkonya saja. Tapi tidak bisa beri keterangan soal ini,a�? kata I Gusti Agung Bagus Aditya Prayoga, ramah.

Prangko terbaru itu adalah prangko dengan gambar Dilan. Gambar yang diambil dari novel best seller karya Pidi Baiq. Di temani Yoga, Lombok Post sudah menunggu Manager Marketing PT Pos Indonesia Mataram.

a�?Setahu saya ini adalah prangko terbaru, selebihnya nanti biar pak Rusli (Manajer Marketing) yang menjelaskan lebih detail,a�? saran Yoga.

Lombok Post selanjutnya menghubungi Rusli Hanafi, Manajer Marketing. Dengan harapan dapat cerita lebih panjang soal perjalanan prangko di Kota Mataram. Namun melalui sambungan komunikasi whatsapps, Rusli hanya sempat membenarkan ada prangko baru Dilan yang dikeluarkan PT Pos Indonesia.

a�?Ooo… Nggih (iya, Red). Tyang (saya, Red) di Praya tadi,a�? tulis Rusli singkat.

Dari berbagi sumber prangko ini kabarnya mulai diluncurkan sejak tanggal 6 Maret lalu. Langsung dari Gedung Graha Pos Indonesia. Prangko ini hanya dicetak sebanyak 100 ribu. Dan dihargai Rp 25 ribu perlembar. (zad/cr-yun/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys