Ketik disini

Headline Politika

IPM Lotim Hanya Ranking Delapan, Ini Saran Ahyar

Bagikan

SELONG– Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lombok Timur (Lotim) masih ada pada urutan bawah. Data BPS 2016 menunjukkan, dari 10 kabupaten/kota di NTB, daerah yang dipimpin HM Ali BD itu ada pada peringkat delapan.

Kepala BPS Lotim Saphoan sebagaimana diberitakan Lombok Post (29/3) lalu menjelaskan ada tiga indikator yang menjadi barometer pengukuran IPM. Yakni angka harapan hidup yang diukur dari usia harapan hidup. Lalu dari segi indikator pendidikan yang dilihat dari komponen angka harapan sekolah dan rata-rata lama sekolah.

“Kalau sekarang dirata-ratakan, warga usia 25 tahun ke atas jenjang pendidikannya baru tamat SD, karena rata-rata lama sekolah kurang dari enam tahun,” jelasnya.

Indikator ketiga menghitung IPM adalah daya beli masyarakat. Hal itu berdasar pengeluaran per kapita dalam pemenuhan kebutuhan makanan dan non makanan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ order=”desc”]

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Kota Mataram yang menempati ranking pertama.

“Alhamdulillah, usaha dan kerja keras kita bisa membuat IPM Mataram nomor wahid,” ucap Wali Kota Mataram non aktif TGH Ahyar Abduh.

Ahyar yang kini mencalonkan diri sebagai calon gubernur, berpasangan dengan H Mori Hanafi mengatakan dalam konteks Mataram sebagai pemimpin ia melakukan segala cara agar IPM terus meningkat.

“IPM baik itu kan secara sederhana artinya masyarakat sejahtera, kesehatannya terjaga, pendidikan bagus,” ucapnya.

Dia mengatakan tak masalah kantor Wali Kota Mataram jelek, bahkan bocor jika hujan. Tak masalah juga kantor DPRD Kota Mataram biasa-biasa saja. Ahyar juga tak mempermasalahkan kantor dinas dan instansi tidak mewah.

“Yang penting rakyat sejahtera, ekonomi baik, kalau sakit bisa berobat lancar, anak-anaknya bisa sekolah tinggi,” tegasnya.

Kondisi Lotim yang kebalikan Kota Mataram membuatnya tak habis pikir. Gedung kantor bupati dibangun menjulang. Namun di banyak lokasi masih banyak warga miskin, masih banyak yang tak bisa sekolah, dan masih banyak yang susah mendapat pelanan kesehatan.

“Pemimpin sepatutnya bertanggung jawab atas daerah yang dipimpinnya, itu yang selalu saya camkan dalam diri saya,” ucapnya.

Sehingga kala memimpin Mataram, puskesmas dibangun sebaik mungkin. Rumah Sakit Kota Mataram juga dibangun dengan fasilitas terbaik sebagai satu dari sedikit yang terlengkap di NTB. Untuk urusan pendidikan, gedung-gedung sekolah plus fasilitas penunjang untuk siswa belajar juga dijadikan prioritas. Sekolah-sekolah di Mataram menjadi contoh bagi NTB.

“Yang tak mampu bisa berobat dan sekolah dengan gratis,” imbuhnya.

Untuk urusan ekonomi apalagi. Sang tuan guru sukses menjadikan Mataram sebagai barometer ekonomi terbaik di NTB. Investor berdatangan, lapangan kerja terbuka, masyarakat sejahtera. Muaranya masyarakatlah yang merasakan dampak ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

“Jika diberi amanah, saat memimpin NTB, semua daerah akan kita buat maju bersama-sama, termasuk Lotim yang sekarang nomor delapan,” tegasnya.

Saat berkesempatan mengunjungi Suralaga, Lotim, ia menegaskan komitmennya untuk membangun bagi semua. Jargon NTB untuk semua yang digaungkan ditegaskan Ahyar bukan semata slogan.

“Itu adalah komitmen kami Ahyar-Mori untuk memajukan semua daerah,” tegasnya.

Jika Lotim sebagai daerah dengan jumlah penduduk terbesar bisa digenjot IPM-nya, maka sebagian masalah NTB sudah teratasi.

“Itu komitmen paket AMAN jika terpilih kelak,” ujarnya.

Mori menambahkan, kemenangan bukan semata tentang kekuasaan. Namun bagaimana pemimpin bisa membawa daerah yang dipimpinnya menuju keadaan yang lebih baik. “Harusnya kita berlomba-lomba menyejahterakan rakyat,” tegasnya.

Soal penganggaran, ia memang ahlinya. Sebagai salah satu pimpinan dewan, Mori terbukti mampu memimpin legislator lain untuk bersama-sama berjuang demi rakyat. Hal itu berujung beragam capaian positif NTB, termasuk aneka perbaikan.

“Izinkan kami meluaskan pengabdian untuk NTB,” katanya.

Dia mengingatkan untuk memilih pemimpin bukan berdasar kedekatan emosional semata. Namun dilihat dari rekam jejak kepemimpinannya, aneka capaian, termasuk program kerja yang akan dilaksanakan. “Pilihan anda menentukan nasib kita ke depannya,” politisi Gerindra itu mengingatkan. (yuk/r4/adv)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka