Ketik disini

Metropolis

Sarjana Jadi Montir, Tak Perlu Malu

Bagikan

MATARAM-Semakin sempitnya lapangan pekerjaan membuat lulusan sarjana pun kesulitan mencari kerja. Namun, bagi mereka yang benar-benar mau bekerja dan meninggalkan kata gengsi, jalur kesuksesan belum tertutup.

Abdul Lathif misalnya. Ia tak malu meski harus jadi montir.

Saat bertemu Lombok Post, Lathif tak menyadari oli yang menempel di pipinya. Ia dengan asyik terus bergumul dengan motor yang sedang ditanganinya di bengkel yang ia bangun sendiri. Orang-orang tak menyangka kalau ia merupakan sarjana lulusan UIN Mataram.

a�?Saya tidak memilih jadi guru karena hobi saya di motor,a�? kata Lathif yang kini berusia 24 tahun.

Bengkel yang dirintasnya tersebut sudah dua tahun berjalan. Ia mengaku sudah menyukai perbengkelan sejak duduk di bangku SMA. Bermodal pengalaman dari SMA, ia pun membuka bengkel sendiri.

a�?Orang tua mendukung saya buka bengkel. Bagi mereka yang penting halal,a�? kata Lathif.

Dibanding bekerja di bengkel, tentu menjadi guru terlihat lebih baik. Akan tetapi, inilah passion. Lathif tak ingin sekedar mencari uang. Ia juga mencari kepuasaan atas apa yang dikerjakannya. Kini, setiap hari Lathif berada di bengkelnya, Azka Motor yang terletak di jalan pemuda, Gomong Mataram.

Sama dengan Lathif, Dodi Hamdani, montir yang bekerja di surya motor juga memilih bekerja di bengkel karena hobinya pada motor. Ia sendiri tak melanjutkan sekolah setelah mendapatkan ijazah SMP.

a�?Belajar perbengkelan ini autodidak. Setahap demi setahap saya pelajari,a�? kata Dodi.

Menurutnya, menjadi seorang montir yang setiap hari bergelut dengan mesin penuh oli bukan merupakan hal yang hina. Hitung-hitung dari pada jadi gembel. Lebih baik bekerja di bengkel. Ia heran, melihat teman-teman seumurannya yang memilih tidak bekerja.

a�?Mungkin masih ada tempat mereka minta uang,a�? kata Dodi menduga-duga.

Pemuda yang kini berusia 22 tahun mengatakan sangat menyukai motor. Sejak duduk dibangku SMP, ia selalu berusaha menangani permasalahan motor teman-temannya. Jika tak bisa, ia akan segera membawanya ke bengkel. Sejak saat itu juga dia memilih untuk bekerja.

Setiap hari, Dodi mendapatkan upah Rp 50 ribu. Kata Dodi, itu sangat tidak cukup. Akan tetapi ia bertahan karena menurutnya, di bengkel tempatnya bekerja tersebut merupakan tempat yang baik untuk belajar. Adapun tambahan pemasukan, ia dapatkan dari perbaikan-perbaikan lainnya.

a�?Terkadang ada saja yang memberi lebih,a�? katanya.

Setelah pulang di malam hari, di rumahnya, ia tak istirahat begitu saja. Namun ia mengatakan masih menggeluti bengkel juga. Hitung-hitung uang tambahan. Dari pada ngumpul tak jelas. Tak karuan. Apalagi bersama teman-temannya yang malas bekerja.

Ia mengatakan, tempat tinggalnya di lingkungan Karang Tumbuk, Keluarahan Negara Sakah Barat, Kecamatan Cakranegara Mataram, banyak sekali pemuda pengangguran. Ditanya mengenai hal tersebut, ia juga tak tahu jawabannya.

a�?Kalau saya buat apa malu bekerja. Biar kotor, yang penting halal,a�? kata Dodi sembari terus memutar kunci T di tangannya. (van/tih/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka