Ketik disini

Headline Metropolis

Pandai Besi Diprediksi Punah Tahun 2025

Bagikan

MATARAM-Pada Zaman Anak Agung Bali, Getap merupakan pusat kerajinan pandai besi. Mulai dari membuat berbagai senjata, sampai gong kerajaan. Keahlian itu pun turun temurun. Sampai saat ini, para perajin pandai besi masih bisa dijumpai. Meskipun dari ratusan tukang yang dulu dikenal ahli, kini jumlahnya bisa habis dihitung jari.

Suara besi yang beradu terdengar nyaring. Ting, ting, ting. Suara itu terdengar dari gelanggang pandai besi Muhibulloh. Gelanggang merupakan sebutan untuk sebuah tempat kerja seorang tukang pandai besi.

Siang itu, Muhibulloh yang akrab disapa pak Bang terlihat sedang memukul selongsong pisau. Di dekat nampan air pembasuh (Prako) berusia ratusan tahun. a�?Tahun 2025, tukang pandai besi akan habis,a�? kata Bang meramal usia tukang pandai besi di tanah kelahirannya.

Bang yang berasal dari lingkungan Getap Barat itu kini berusia 62 tahun. Ia mengatakan aroma kepunahan pandai besi setelah mengamati setiap peralihan yang terjadi dari waktu ke waktu.

Saat pertama kali turun ke gelanggang, Bang masih menggunakan pemurungan (alat peniup bara) manual. Ia pun mengeluarkan pemurungan berusia ratusan tahun yang sudah tak dipakainya tersebut. Bang menyimpan dua buah kayu berlubang itu karena sadar akan sejarah yang dikandungnya.

Pemurangan tersebut dipakai dari nenek moyangnya terdahulu. Prako atau tempat air untuk membasuh besi yang membara, dan pemurungan itu merupakan bukti sejarah, bahwa dahulu, Getap merupakan pusat kerajinan pandai besi yang paling terkenal di gumi Lombok.

Setelah pemurungan manual menggunakan kayu, Bang kemudian beralih ke pemurungan putar. Kini, ia tak perlu lagi repot membuat besi atau baja putih itu menyala. Karena dengan blower buatan Jepang, ia bisa bekerja dengan cepat dan mudah.

a�?Kini tinggal cok. Begitu awal bulan, tinggal mikirin cek untuk bayar listrik,a�? kata Bang.

Bang merupakan satu dari sedikit tukang pandai besi yang tersisa di lingkungan Getap. Kini, warga Getap, khususnya para pemuda sudah banyak yang beralih ke bengkel las. Sama-sama menggeluti besi. Namun hasilnya jauh lebih banyak.

Kalau membicarakan kualitas hasil pandai, jangan ditanya. Pisau-pisau yang diciptakan Bang merupakan pisau dengan kualitas tinggi. Ia bisa menjual satu buah pisau dari bahan baja putih dengan harga ratusan sampai jutaan rupiah.

a�?Orang-orang tahu kalau tukang pandai dari Getap memang punya keahlian lebih. Ibaratnya, di banding pandai besi di tempat lain, kita ini seniornya,a�? kata Bang.

Keahlian turun temurun itu sebentar lagi digilas zaman. Bang menyadari hal tersebut. Padahal, bila dilihat dari nilai seni dan budaya, pandai besi memiliki nilai yang sangat berguna bagi masyarakat, khususnya para pemuda. Hal tersebut terlihat dari puluhan pisau yang diciptakan Bang.

Ukiran-ukiran yang semuanya dibuat menggunakan tangan (manual) terlihat sangat cantik. Bang dengan telaten membentuk baja keras itu dengan tangannya. a�?Semua ini cukup dengan tiga sisi,a�? kata Bang menjelaskan alat ukur segi tiganya.

Tokoh remaja Lingkungan Getap Barat, Aeko Zulhimam mengatakan, saat ini, tukang pandai besi yang tersisa di Getap terbagi menjadi tiga. Pertama pembuat peralatan rumah tangga. Kedua, tukang pandai besi pembuat sepatu kuda, dan selanjutnya tukan pandai besi pembuat alat pertanian seperti sabit dan lain-lain.

Jumlahnya memang bisa dihitung dengan jari. Berbicara tentang regenerasi tukang pandai besi, Aeko menerangkan bahwa ada sebuah peralihan yang terjadi. a�?Kalau dulu tukang pandai besi membuat cangkul, saat ini tukang las getap membuat roda traktor,a�? terang Aeko.

Perubahan tersebut tak bisa dielakkan. Tidak bisa dipungkiri, ratusan bengkel las yang ada di Getap membuat angka pengangguran berkurang. Aeko mengatakan adanya kemungkinan Getap sebagai penyumbang angka pengangguran terbesar di Kota Mataram.

BisaA� dihitung, dari 13 RT, setiap RT, terdapat 20 sampai 30 bengkel. Setiap bengkel memiliki 5 sampai 6 karyawan. Satu hari, karyawan bisa menghasilkan Rp 60 ribu. Dengan begitu, keberadaan bengkel sangat bermanfaat bagi para pemuda di Getap.

a�?Bahkan banyak yang memilih tidak sekolah. Meskipun semangat orang tua menyekolahkan anaknya tinggi,a�? terang Aeko.

Peralihan tersebut memang menjadi bagian dari narasi panjang Lingkungan Getap sebagai pusat kerajinan pandai besi di masa lalu. Akan tetapi, bagaimanapun, aroma punahnya tukang pandai besi tentu bisa membuat berkurangnya kekayaan budaya yang sampai saat ini bisa bertahan di sebuah Kota.

Sebagai pemuda, Aeko memandang sejarah sebagai yang terpenting. Dengan memahami sejarah Getap, ketakutan akan punahnya tukang pandai besi akan bisa teratasi. Ia pun mengatakan kalau hampir setiap pemuda di Getap pernah bekerja membantu orang tua atau kakeknya memandai besi.

a�?Saya sendiri sudah membantu kakek sejak duduk di bangku SD,a�? kata Aeko. (tih/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka