Ketik disini

Headline Metropolis

Pusaka – Pusaka Penjaga Sang Wali

Bagikan

Pusaka itu beberapa kali melindungi keluarga almarhum HM Ruslan. Namun Mohan enggan mengaitkannya dengan tuah dan hal mistis lainnya. Ia lebih percaya takdir Tuhan.

***

GERIMIS turun di antara berkas cahaya siang. Sebuah rumah dengan penjagaan ketat Satpol PP di Karang Sukun, tepatnya di Jalan Kali Brantas, perkasa menantang terik dan hujan. Mobil Toyota Fortuner plat hitam, merangkak mundur, menyusuri lubang garasi.

a�?Bapak baru saja masuk,a�? kata seorang ajudan, Gerrid.

Rumah seperti sedia kala. Tenang tanpa ada kebisingan berarti dari para penghuni atau tetangga sekitarnya. Sabtu (4/8) kemarin, Lombok Post sangaja menemui sang tuan rumah, mencari pusaka apa saja yang diwarisi almarhum ayahnya HM Ruslan.

Sebelumnya banyak kabar yang bertutur jika ia gemar mengumpulkan berbagai bilah senjata dari penjuru negeri. Konon Ruslan pun tak surut, melakoni segala tantangan untuk mendapatkan senjata yang ia sukai. Alhasil bilah-bilah senjata itu bertumpuk telah ia koleksi.

a�?Praaaak!a�?

Sebuah tempat lebih mirip pot bunga baru saja diletakan dua orang ajudan. Tapi bukan bunga yang bertengger di atasnya. Melainkan belasan bilah keris hingga pedang. Dari yang bergagang perunggu hingga berkepala naga.

a�?Tapi yang dekat dengan saya tiga benda ini,a�? ujar Mohan.

Istilah dekat ia bahasakan sebagai jerak. Senjata yang berada di pot itu ia letakan di lantai dua kediamannya. Tapi untuk tiga benda itu, Mohan meletakannya lebih dekat. Di kamar tidurnya.

Benda-benda itu nampaknya sudah lama berkawan debu. Mohan tersenyum sembari mengusap-usap, sekelebat tangannya. Ia memang tak punya waktu untuk membersihkan benda pusaka itu sewaktu-waktu.

a�?Saya juga tidak begitu tahu bagaiamana cara merawat benda-benda seperti ini, karena saya tidak pernah mentelateninya,a�?A� ungkapnya polos.

Yang bisa ia lakukan hanya dengan mengelap menggunakan kain saja. Itupun akhir-akhir ini jarang dilakukan. Padatnya agenda telah membuat putra Almarhum HM Ruslan ini banyak berada di luar rumah. Kalaupun ada di rumah, ia lebih memilih menghabiskan waktu untuk istirahat.

Namun Mohan tak menampik jika benda-benda pusaka itu punya riwayat yang berbeda. Kisahnya telah ia warisi dari mendiang ayah tercintanya.

A�a�?Ya semua benda-benda ini ada ceritanya, bagaimana memperoleh dari siapa yang memberikan,a�? akunya.

Tapi bagi Mohan dari sekian cerita dan kisah yang melekat pada benda-benda itu, hingga kini seatap tinggal bersamanya, tak ada yang lebih dekat dari tiga benda yang diletakan tak jauh dari tempatnya duduknya.

a�?Ya jungkat (tombak, Red), dan dua bilah keris ini,a�? bebernya.

Mohan sendiri menolak menyebut dua benda itu istimewa. Alasannya, pertama ia tidak ingin meletakan ada kekuatan yang lebih baik melindungi manusia, kecuali Tuhan Sang Pencipta Alam. Lalu yang kedua, ia juga melihat bahan pembuatan benda itu juga sama saja dengan yang lain.

Tiga benda itu ia sebut dekat, karena langsung diwarisi secara turun temurun dari leluhurnya, setelah itu diterima sang ayah baru akhirnya sampai ke tangannya. Sedangkan benda-benda pusaka yang lain hanyalah hobi sang ayah berburu benda pusaka.

a�?Karena benda-benda ini rasanya lebih dekat dengan saya, karena ada pertalian dari leluhur,a�? terangnya.

Ia mencontohkan semisal tombak. Benda itu ia terima dari ayahnya. Setelah diberikan secara turun temurun dari datuknya. Mohan menceritakan, kala itu sang datuk punya peran yang penting di tengah masyarakat yakni sebagai lid atau mirip dengan peran jaksa.

a�?Setiap ada perkara di tengah masyarakat, untuk mendamaikan atau menengahi persoalan, datuk selalu bawa jungkat ini,a�? tuturnya.

A�Bentuk tombak ini cukup sederhana. Gagangnya dengan panjangnya sekitar satu setengah meter. Di pangkal tombak ada besi yang sudah mulai tua dan berkarat. Besi itu sepertinya digunakan untuk menancapkan tombak di tanah. Tak jauh dari situ bilah gagang terlihat pecah. Sepertinya terlalu sering dihantamkan ke bumi.

Sedangkan pipih mata tombak, cukup tipis. Lebarnya tak jauh beda dengan jempol orang dewasa. Kondisinya serupa dengan bilah besi di pangkal tombak, berkarat.

a�?Nggak ada,a�? jawab Mohan pendek, sembari tersenyum saat digoda Lombok Post soal tuah benda tua itu.

Tapi kemudian Mohan bercerita sebuah kisah puluhan tahun silam. Saat itu ia masih kuliah di Universitas Atma Jaya Jogjakarta, Jurusan Ilmu Komunikasi. Mohan muda, sepertinya kebanyakan anak muda lainnya. Dalam daranya bergejolak darah muda.

a�?Jadi saat ke Jogja dulu saya juga bawa benda ini,a�? kenangnya.

Mohan juga tidak habis mengerti, kenapa ia ingin membawa benda itu. Ia hanya berpikir akan pergi merantau menutut ilmu. A�Jadi harus bisa menjaga diri. Maka agar benda itu tetap bisa bersamanya, maka ia pun menyiapkan sebuah rencana agar tombak itu lolos dari penjagaan pengawas di pelabuhan.

a�?Dulu nggak pernah pakai A�pesawat, jadi pakai bus dan kapal laut kalau ke Jogja. Tombaknya, saya masukkan ke dalam pipa lalu ditinggalkan dalam bus,a�? kenangnya sembari tertawa kecil.

Tapi ia tak pernah menduga jika tombak itu akan bermanfaat baginya. Setidaknya untuk melindungi harga diri. Bahkan lebih dari itu nyawanya!

Pernah terjadi ada temannya yang bermasalah. Permasalahan itu rupanya menyeret nama dirinya. Dari penuturannya, Mohan saat itu hanya ingin menempatkan diri sebagai seorang sahabat yang baik bagi temannya. Karena itu sebisa mungkin ia membela temannya itu.

Tapi pembelaan yang dilakukan Mohan, rupanya cukup membuat gerah orang yang berseteru dengan temannya. Ia lalu membawa sekitar 20 rekannya untuk menghajar Mohan.

a�?Menyadari itu teman saya memilih menyelamatkan diri, di kontrakan hanya tinggal saya dan adik (H Novian Rosmana),a�? tuturnya.

Kawanan itu semakin dekat. Mohan meminta pada adiknya segera menyelamatkan diri. Ia lalu berpesan, jika nanti dirinya dikeroyok orang-orang itu, keluarganya di rumah harus segera tahu.

a�?Saya bilang ke adik saat itu, yang boleh basaq (basah oleh darah, Red) hanya salah satu di antara kita, kamu segera pulang,a�? perintahnya.

Novian pun dengan berat hati pergi. Ia sebenarnya tak tega meninggalkan kakaknya menghadapi 20 orang yang akan mengeroyok kakaknya. Tapi perintah kakaknya jelas dan terang. Ia harus mengabarkan kejadian ini pada keluarganya.

Di satu sisi Mohan memilih menghadapi 20-an orang itu. Tombak warisan dari datuknya ia pegang dengan erat. a�?Harga diri juga bagi saya saat itu (kalau harus lari dan kabur),a�? kenangnya.

Kawanan itu sudah mengepung. Mohan tak punya pilihan lain, kecuali menghadapi mereka sampai titik darah penghabisan. Ia pun membuka warangka tombak warisan sang datuk, setelah melihat orang-orang yang telah mengepungnya juga dengan senjata yang telah terhunus.

a�?Saya bilang ke mereka, ya sudah karena sudah terlanjur kita selesaikan sekarang,a�? kenangnya.

Tetapi sebelum pertarungan maut itu dimulai. Mohan kembali menggertak dengan kata yang cukup menggetarkan nyali. a�?Saya pasti mati dalam pertarungan ini, tapi ingat tiga di antara kalian juga harus ikut mati dengan saya,a�? ujarnya.

Mohan sudah siap menerjang dengan senjata tombak terhunus. Tapi ia melihat ada ekspresi berbeda dari lawan-lawannya. Mereka jauh lebih lunak. Tidak seseram mulanya dengan suara menggertak-gertak marah. Bahkan mereka pun meminta Mohan menenangkan diri.

a�?Saya kaget juga dengan sikap mereka, padahal mereka sudah sangat bersemangat dengan senjatanya yang terhunus. Apa karena gertakan saya, tombak saya yang lumayan panjang, atau mereka yang urung mau cari ribut, saya tidak tahu,a�? kenangnya.

Tapi semenjak peristiwa pengepungan itu nama Mohan jadi terkenal di kampusnya. Banyak yang menceritakan kenekatannya menghadapi kepungan orang-orang itu. Bahkan sejak itu pula, Mohan jadi sosok yang dituakan di kampusnya.

a�?Bapak dituakan dan sering dimintai pendapat jika ada persoalan di tengah teman-teman mahasiswa,a�? timpal Noviani Danar Kinnastri, istri tercinta Mohan yang ikut nimbrung di tengah cerita kami siang itu.

Mohan tersenyum. Ia membenarkan banyak orangA� yang memang akhirnya meminta pendapatnya tentang berbagai permasalahan setelah kejadian itu. Tapi sekali lagi ia enggan mengaitkan peristiwa itu dengan tuah dari tombak warisan sang datuk.

a�?Lalu benda yang juga dekat dengan saya adalah keris ini,a�? tuturnya.

Mohan awalnya, selalu menghindar. Setiap kali digelitik soal aroma mistis seputar senjata warisan sang ayah. Tapi akhirnya ia luluh juga mengisahkan satu kejadian supranatural yang pernah dialami benda-benda itu.

a�?Tapi ini bukan berarti, saya mengukuhkan soal kemistikan benda-benda ini ya. Ya mungkin saja ini semua kebetulan,a�? celetuknya.

Peristiwa ini terjadi saat mendiang ayahnya HM Ruslan, hendak mengikuti Pilkada Kota Mataram, kala itu. Keris dengan warangka dan gagang berwarna keemasan itu, terlilit dengan kain yang kokoh di tembok rumah.

Posisi itu sudah lama dan tak pernah berubah. a�?Ikatan kain itu cukup kuat, sehingga kita tidak pernah berpikir untuk membenahinya,a�? terangnya.

Tapi suatu ketika, keris itu tiba-tiba melorot jatuh. Suaranya cukup mengejutkan seisi rumah. Tapi tak ada kata-kata berarti dari seisi rumah sampai akhirnya keris diletakan kembali ke tempat semula.

a�?Ya mungkin ikatannya longgar, atau apa tapi setahu kami ikatannya cukup kencang,a�? kenangnya.

Mohan lalu memilih keluar dari ruang tamu. a�?Entah kenapa pandangan saya, mengarah pada pot tanaman di dekat rumah, pada pot itu tertanam bunga (bonsai) yang sudah cukup tua,a�? jelasnya.

Mohan hanya mengaku mengikuti kata hatinya saat melihat bunga itu. Ia merasa didorong memecahkan pot itu. Ia sempat tak sadar dengan apa yang ia lakukan. Sampai ada bunyi pot yang hancur berantakan!

a�?Praaak!a�?

Dari dalam pot, ia mendapati benda yang cukup membuatnya takjub. Sebuah botol kecil yang sepertinya masih baru. Uniknya terlilit kuat di antara akar tanaman. Di dalam botol tersimpan sesuatu yang tak lazim ada di tempat umum. Menurut a�?pakar-nyaa�� benda itu kerap dijadikan untuk a�?menjahilia�� orang lain.

a�?Saya tidak tahu benda apa itu, tapi melihat botol dan usia tanaman dengan kondisi berbeda, saya rasa ini bukan pekerjaan orang biasa, tapi orang yang hebat,a�? kenangnya.

Tapi Mohan lebih memilih melihat semua kejadian ini sebagai peristiwa kebetulan saja. khususnya soal keris yang tiba-tiba jatuh dari gantungan. Ia merasa, tidak punya kemampuan untuk menerjemahkan apakah ada unsur mistis atau tidak dibalik peristiwa itu.

a�?Saya juga tidak ingin suuzhon,a�? kelitnya.

Satu lagi keris yang ditunjukan Mohan. Keris yang serupa dengan keris yang baru saja ia kisahkan. Tapi soal senjata pusaka ini, Mohan tak bercerita banyak. Ia hanya sempat mengatakan jika mendiang ayahnya memang menyiapkan senjata itu untuk cucunya.

a�?Makanya di sini (warangka) tertulis dengan huruf hijaiyah ada Zimy,a�? tunjuknya.

Mohan tak berpikir menjual benda-benda itu. Berapapun nilai yang ditawarkan orang lain. Baginya ini adalah warisan sekaligus harta tak ternilai.

a�?Orang juga tidak banyak tahu soal ini, kecuali Anda (Lombok Post, Red) yang memang datang untuk mencari tahu soal ini,a�? jelasnya.

Ia menggenggam dengan erat petuah sang ayah. Benda itu harus ia simpan baik-baik dan dijaga sebagai benda pusaka peninggalan leluhur yang lain. Dirawat dengan sebaik-baiknya. Sebagai jalan mengenang, betapa heroiknya kisah hidup trah keluarga moyangnya.

a�?Saya gak begitu paham ya soal pamor atau hal-hal mistis. Saya menyimpan benda ini murni untuk mengikat pertalian (silsilah) dengan leluhur saya,a�? tegas Mohan.

Lombok Post masih penasaran. Setelah berputar-putar dengan pertanyaan berbeda, tetapi sebenarnya memiliki maksud sama, Mohan akhirnya luluh. Ia mau membuka sedikit rahasia. Ternyata, di balik senjata-senjata pusaka rahasia itu, Mohan masih menyimpan a�?satua�� senjata rahasia lagi.

a�?Ya (oke) ada-lah,a�? aku Mohan, dengan raut dongkol. Meski akhirnya ia tetap tersenyum.

Senjata itu kerap ia a�?selipa�� ketika mendamaikan berbagai kasus konflik horizontal di Kota Mataram. Senjata itu pula yang dibawa mendiang sang ayah ketika Mataram pernah melewati masa konflik terberat yakni peristiwa 171. Yakni 17 Januari, 2000 silam.

a�?Tapi cukup sampai di sana saja ya,a�? pintanya.

Lombok Post, masih menawarkan satu pertanyaan lagi. Apakah senjata pusaka itu ada di salah satu senjata yang ia bawa keluar. Mohan tersenyum kecut. Lalu dengan nada datar, memastikan benda itu tidak ada di sana.

a�?Tidak ada,a�? ujarnya. Sembari meminta agar soal benda itu, tidak ditanya lagi.

Jawaban Mohan ini, sudah lebih dari cukup. Di balik rahasia, memang ada rahasia yang tak boleh diungkap. Dan Mohan telah menempatkan amanah para leluhurnya pada tempat yang tepat dan benar dengan tetap merahasiakan itu sebagaimana mestinya.

a�?Tapi sepertinya dari salah satu keris itu ada juga yang kalau ada keributan, selalu bergetar. Saya tidak tahu yang mana,a�? timpal H Novian Rosmana, mengakhiri obrolan kami siang itu.

Budayawan senior NTB Lalu Muksin mengisahkan, sebenarnya setiap daerah selalu punya senjata pusaka. Fungsinya sebagai pasek atau pasak, agar sebuah tatanan pemerintahan tidak goyah. Senjata pusaka, itu adalah senjata terbaik di antaranya yang terbaik yang ada di sebuah daerah.

a�?Untuk sekelas desa atau kampung saja ada senjata pusaka,a�? kata Muksin.

Senjata pusaka, itu digunakan atau akan dikeluarkan jika kondisi daerah genting. Selain untuk menghalau bala-bahaya, senjata pusaka berfungsi untuk meningkatkan pamor sang pembawa agar tetap disegani sebagai pemimpin.

a�?Di sebuah pertarungan yang sengit dan menyangkut nyawa, orang tidak akan pernah peduli apakah yang mendekat itu seorang wali kota, bupati, gubernur, atau presiden sekalipun. Tetapi pamor senjata pamungkas mampu membuat, orang yang tengah dilalap api amarah, mereda kala melihat ada pemimpin yang datang,a�? ulasnya.

Bentuk senjata pusaka dari segi fisik sebenarnya cendrung tak menarik. Semakin bertuah, bentuknya semakin tak meyakinkan.

a�?Kadang pusaka yang bertuah, bentuknya sama persis seperti alat untuk gali ubi,a�? ujarnya.

Tapi saat dipakai, orang bisa merasakan faedahnya. Mulai dari menghilang, musuh terjungkal dalam radius puluhan meter, musuh mati mendadak saat punya niat jahat, dan berbagai efek misterius lainnya di luar logika manusia.

a�?Pak Mohan mungkin tidak bercerita, karena ia tidak memegang benda pusaka itu, atau bisa jadi ia memegang tetapi karena amanah ia tak boleh bercerita, semua kembali pada sifat benda pusaka datang dari tempat rahasia dan kembali pada kerahasiaan,a�? tutupnya. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka