Ketik disini

Metropolis

Tungku Sampah Dilirik Lagi

Bagikan

MATARAM-Satu langkah maju dalam penanganan sampah. Sejak beroperasi motor roda tiga, sampah di lingkungan-lingkungan secara kasat mata volumenya jauh berkurang. Lingkungan lebih bersih dan masyarakat yang buang sampah ke sungai makin jarang terlihat.

Tapi bukan berarti persoalan selesai. Tugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) malah makin berat. Volume sampah di lingkungan memang sudah bisa tertangani dengan menggunakan motor roda tiga, kini menggunung di depo transfer sampah.

a�?Penyebabnya, kita kekurangan armada angkut sampah,a�? kata Kepala DLH Kota Mataram Irwan Rahadi.

Tidak hanya dari segi jumlah, kendaraan angkut juga rata-rata sudah memasuki usia renta dan harus sering keluar masuk bengkel. Inilah yang membuat volume sampah makin tak tertangani dengan baik di depo-depo transfer.

Lihat saja seperti di kawasan olah sampah terpadu (osamtu) Sweta. Volume sampah di tempat ini nyaris menyerupai Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Beberapa teknik pengolahan sampah, seperti menjadikannya kompos hingga masuk ke tungku sampah untuk dibakar tak bisa mengimbangi jumlah sampah yang masuk.

Alhasil tumpukan sampah makin menggunung dan tingginya sudah menyaingi bangunan di sekitar osamtu. Bahkan lebih. Sehingga pola angkut buang dari depo ke TPA seharusnya tidak lagi dijadikan cara penanganan utama dan satu-satunya.

a�?Ya kita ada rencana aktifkan lagi tungku sampah di osamtu itu,a�? imbuhnya.

Dalam kajiannya, tungku sampah efektif menghancurkan berton-ton sampah di kota dalam waktu hitungan jam. Tapi persoalan masih terganjal pada hasil kajian lingkungan hidup. Di mana emisi hasil pembakaran sampah dinilai masih belum aman bagi lingkungan.

Atas dasar itulah sudah lama tungku sampah itu dihentikan operasinya. Sampai ada hasil kajian terbaru untuk menyempurnakan alat itu. Irwan sendiri mengaku kembali bergairah melirik tungku sampah. Setelah membandingkan kekuatan armada dengan volume sampah ke TPA yang tak sebanding.

a�?Memang tidak mungkin selamanya kita bertumpu pada pola angkut buang ini,a�? akunya.

Karena itu memasuki APBD Perubahan tahun ini, Ia berencana kembali mengalokasikan anggaran untuk penyempurnaan tungku sampah. Dengan harapan sisa atau emisi pembakaran tidak lagi mencemari udara.

a�?Ya (saya taksir) anggarannya di bawah Rp 200 juta, kita hanya perlu menyempurnakan hasil penelitian agar emisi karbon tidak ke mana-mana, dan udara tetap bersih dan sehat,a�? harapnya.

Dari hitung-hitungan yang dilakukan pihaknya, setiap hari ada sisa sekitar 30 meter kubik sampah di depo-depo yang tak bisa terangkut. Jumlah ini terakumulasi dengan hasil sampah pengangkutan di lingkungan setiap hari ke esokan harinya. Sehingga jumlahnya kerap terlihat menggunung setiap hari.

Anggota Komisi III DPRD Kota Mataram I Ketut Sugiartha pada dasarnya mengapreasiasi kerja DLH. Terutama menangani sampah di lingkungan. Catatan ini bisa dinilai sebagai kemajuan yang cukup berarti. Hanya saja persoalan berikutnya jadi PR yang tak mudah.

a�?Tungku sampah itu kan sudah dibiayai (penelitian) dari awal, tapi masih gagal memenuhi standar lingkungan hidup,a�? kata Ketut.

Ia pun menantang DLH untuk lebih berani lagi berinovasi. salah satunya mendukung untuk menyempurnakan tungku sampah tersebut. a�?Harus ada perencanaan jangan didiamkan,a�? dukungnya.

Saat tungku sampah itu pernah dioperasikan ia juga sempat mendengar ada beberapa warga yang memprotes. Karena emisi karbon bertebaran dan membuat lingkungan tercemar. Tugas selanjutnya tinggal melakukan penelitian dan merancang bagaimana agar sistemnya aman bagi lingkungan.

a�?Bagi saya yang lebih penting lagi sebenarnya adalah pemberdayaan masyarakat,a�? imbuhnya.

Pemberdayaan masyarakat ini akan sangat penting dalam menangani persoalan sampah. Di tengah minimnya fasilitas penanganan konvensional yakni angkut buang. Pemberdayaan itu dengan mendorong agar masyarakat mau atau terbiasa memilah sampah.

a�?Kuncinya cuma memilah, bagaimana agar sampah organik tidak dicampur dengan non organik,a�? terangnya.

Jika ini dilakukan, tidak hanya akan mengurangi jumlah residu sampah yang terbuang. Tetapi sampah berpotensi menjadi komoditi ekonomi bagi masyarakat.

a�?Pelastik dikumpulkan dengan pelastik, dedaunan dicampur dengan sejenisnya,a�? jelasnya.

Pemerintah hanya perlu mencari rekanan yang bisa mengolah sampah yang telah dipilah masyarakat. Ia yakin akan banyak pihak rekanan yang bergerak di bidang sampah bakal tertarik mengolah itu.

Selama ini sampah dilihat tidak berguna karena bercampur dengan barang tak berguna lainnya. Tetapi esensinya berbeda jika itu dipilah oleh masyarakat dengan sadar. Karena ada potensi didaur ulang dan dimanfaatkan membuat bahan lain.

a�?Jika memilah ini dimulai dari masyarakat saya rasa sampah bisa cepat tertangani, tapi kan selama ini dibiarkan saja bercampur dari lingkungan hingga ke depo, akhirnya kesulitan untuk dipilah karena volumenya terlalu banyak,a�? tandasnya.A� (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka