Ketik disini

Bima - Dompu

Tahanan Polsek Diserang Bom Air, Pengendara Ikut Disiram

Bagikan

Perayaan Cera Labu (selamatan laut) masyarakat Desa Soro berlangsung meriah pada Senin (9/4). Ribuan masyarakat meriahkan acara ritual tahunan itu. Tak terkecuali para pejabat tinggi lingkup Pemda Dompu. Bagaimana kemeriahannya, berikut liputannya.

Juwair & Saddam – Dompu

Suasana di Desa Soro, Kecamatan Kempo, A�Kabupaten Dompu,Senin pagi (9/4) terlihat begitu padat. Anak-anak, pemuda dan orang tua tumpah ruah di jalan raya. Selain di wilayah perkampungan,A� sepanjang pesisir pantai desa juga dipadati dengan perahu yang sudah dihias.

Hari itu merupakan hari ritual selamatan laut atau yang dikenal dengan Cera Labu. Ritual tahunan ini salah satu tradisi masyarakat Soro sejak zaman nenek moyang mereka. Ritual ini bertujuak mengaharapkan keselamatan laut, sehingga laut bisa memberikan rejeki melimpah untuk kehidupan para nelayan.

Ritual adat ini dilakukan dengan memberi sesajen berupa kepala kerbau dan hasil bumi lainnya ke dalam laut. Ditambah dengan pembakaran kemenyan sebagai bentuk rasa syukur pada Sang Kuasa.

Setelah pemberian sesajen, momen yang paling ditunggu pun akhirnya tiba. Perang air antar perahu di tengah laut. Saling siram ini merupakan simbol untuk membersihkan segala sesuatu yang kotor dan kembali dalam keadaan bersih atau suci.

Perang air itu dimulai setelah pemberian sesajen kepala kerbau di tengah laut. Dilengkapi dengan ember para peserta saling serang dengan air. Tak sedikit dari perahu warga terbalik akibat serangan lawan.

Tak hanya di laut, perang air berlanjut di permukiman warga. Ember dan gayung yang menjadi senjata utama tak luput dari pegangan warga.

Tak hanya warga setempat, warga dari berbagai desa lain di Dompu juga ikut terprovokasi. Tak terkecuali para pejabat yang hadir juga tak luput dari serangan warga.

Kantor-kantor yang ada di desa itu semuanya dilalap air.Parahnya, kantor polsek yang berada di desa setempat juga kena imbasnya. Puluhan warga lengkap dengan senjata airA� menyerang anggota yang sedang bertugas maupun tahanan di dalamnya.

Sejumlah wartawan yang meliput kegiatan itu takut membawa kamera karena takut diserang warga. Para pengendara yang melintas di jalan desa tersebut juga dihadang dan diserang dengan air. Beberapa pengendara berbalik haluan dan memilih jalan pintas.

“Kami terpaksa mengambil jalan pintas di Desa Kempo agar terhindar dari serangan warga,” aku wargaA� Kecamatan Bolo, WiwinA� yang saat itu tengah menuju Gunung Tambora.

Walau basah kuyup, tidak satu orang pun yang marah. Karena, budaya tersebut merupakan tradisi yang menghibur rakyat sebagai ungkapan rasa sukur atas nikmat sang pencipta dari hasil laut.

“Tidak boleh marah, walaupun ada barangA� yang rusal akibat terkena serangan air warga,” kata Jumardin, warga desa setempat.

Guru di salah satu SD di Desa Soro ini mengaku, acara ini untuk memberikan semacam persembahan kepada laut. Acara ini bentuk terima kasih dan rasa syukur atas alam.

Ritual ini tidak sembarang digelar. Ada waktu-waktu tertentu. Acara ini dilaksanakan ketika ada tanda-tanda atau diberikan isyarat terlebih dahulu.Seperti ada warga atau kepala suku bermimpi bertemu seorang gadis di tengah laut. Maka itu tandanya bahwa acara Cera Labu harus di lakukan. Acara ini biasanya berlangsung selama 2 hari.

Cera Labu sangat merakyat.Dalam acara ini melibatkan semua masyarakat setempat. Ritual ini di yakini akan mendatangkan rezeki serta menolak bala, sehingga antusias warga untuk melaksanakannya sangat tinggi.

“Acara ini sangat menghibur, menarik diikuti,” pungkasnya. (r4/*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka