Ketik disini

Headline Pendidikan

UNBK Molor Empat Jam, Di Mataram, Siswa Inklusi UN Tak Pakai Soal Braille

Bagikan

MATARAM-Hari pertama pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) tingkat SMA/MA di NTB tak berjalan mulus. Di sejumlah sekolah di Pulau Sumbawa UNBK bahkan berantakan. Ini disebabkan proses sinkronisasi server yang ngadat. Akibatnya, ujian yang harusnya dimulai pukul 07.30 malah baru bisa dimulai pukul 11.00 Wita. Molor hingga empat jam.

Gangguan tersebut disampaikan Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo. Dia mengatakan, gangguan server tersebut dialami SMA 1 Labuhan Badas dan SMA 1 Lunyuk. Di SMA 1 Labuhan Badas, komputer untuk UNBK tidak bisa dijalankan lantaran proses autopatching berlangsung hingga empat jam. Autopatching ini adalah proses awal yang harus dilalui komputer saat pertama kali dihidupkan. Tanpa autopatching, soal UNBK yang terdapat di server tak akan muncul di komputer.

a�?Solusinya, proktor menggunakan tiket bantuan langsung ke pusat untuk meminta patching manual. Tapi itu ujian baru bisa mulai pukul 11.00 WITA,a�? kata Heru Purnomo.

Sementara di SMAN 1 Lunyuk, server 1 juga ngadat pukul 07.30 WITA. a�?Solusinya ganti paket,a�? katanya.

FSGI sendiri kata Heru Purnomo memang sedari awal sudah mengingatkan bahwa gangguan teknis UNBK SMA/MA masih akan terjadi. Dan diduga bahkan kian meningkat. Sebab, jumlah penyelenggara UNBK SMA/MA lebih banyak dari UNBK SMK dan dibandingkan dari tahun sebelumnya. Sehingga kerentanan server menjadi lebih tinggi. Mengingat server diakses lebih banyak orang pada saat bersamaan.

Gangguan server juga terjadi di Lombok Barat. Kali ini menimpa SMAN 1 Gerung. Namun, yang terjadi di sana tak separah dua SMA di Sumbawa. Di SMAN1 Gerung, server sempat ngadat pada sesi pertama UNBK. Beruntung, gangguan itu segera dapat diatasi.

a�?Tapi sudah kita ganti ke server cadangan,a�? ungkap Kepala SMAN 1 Gerung Hj Erni Zuhara, kemarin (9/4).

Erni menjelaskan, untuk pelaksanan UNBK ini, jumlah peserta yang mengikuti sebanyak 356 siswa dari jurusan IPA dan IPS. Di mana untuk setiap sesi, dibagi menjadi 120 siswa dengan masing-masing ruangan terdiri dari 30 siswa.

a�?Kita punya empat ruangan yang dipergunakan untuk UNBK,a�? sambungnya.

Meski demikian, mantan Kepala SMAN 1 Lembar ini, pihak sekolah masih kekurangan sarana pendukung komputer untuk pelaksanaannya. Sekolah hanya memiliki sekitar 70 unit komputer, yang idealnya jika melihat peserta harusnya terdapat 140 unit komputer. Guna menyiasati kekurangan ini, sekolah meminjam komputer atau laptop milik guru dan siswa.

a�?Paling tidak itu ada 140 unit minimalnya. Jumlah ini, kita miliki satu orang teknisi, dan 4 orang protol,a�? katanya.

Tidak hanya komputer, pihaknya juga mengkhawatirkan terjadinya mati listrik. Meski sekolah telah memiliki satu generator listrik, namun dayanya hanya sebesar 2.500 volt.

a�?Sementara 2.500 volt ini hanya cukup untuk lima komputer maksimal, kita memiliki 120 unit komputer, bisa dibayangi berapa genset yang dibutuhkan,a�? ucap Erni.

Diakui, ia sempat berniat untuk menyewa genset selama pelaksanaan UNBK ini. Hanya saja, keterbatasaan anggaran membuat hal itu urung dilakukan. Lantaran untuk satu genset menghabiskan biaya sewa sekitar Rp 1 juta.

a�?Jadi bisa dibayangkan, paling tidak harus disediakan 20 jenset. Sudah kami sampaikan (kondisi ini) ke Dinas, tapi diserahkan kembali kepada pihak sekolah untuk mengantisipasi semaksimal mungkin,a�? ungkapnya.

Terlepas dari beberapa kendala tersebut, Erni melihat seluruh siswanya sangat menikmati UNBK tahun ini. Tidak ada raut ketegangan dari para siswa, disamping kini UNBK bukanlah satu-satunya penentu kelulusan.

Sebab kini, kriteria kelulusan ditentukan pada lulus USBN. Baik ujian praktek maupun tertulis atau nilai rapot. Kemudian UNBK hingga tingkat kehadiran siswa yang bersangkutan. a�?Kita harapkan semua lulus dengan nilai yang memuaskan,a�? pungkasnya.

Sementara itu, salah seorang siswa SMAN 1 Gerung L Alvi A�mengaku, tidak terlalu kesulitan dalam mengerjakan soal UNBK. Menurutnya, pendampingan dan simulasi yang diberikan sekolah kepadanya sangat membantu.

a�?Tidak terlalu sulit, karena pengerjaannya cuma tinggal di klik saja, lain halnya yang manual,a�? singkat remaja yang bercita-cita menjadi TNI ini.

Tanpa Braille

Sementara di Kota Mataram. UNBK SMA dan MA di ibu kota provinsi terpantau lancar. Meski begitu, ada ketimpangan antara pelaksanaan sistem UNBK pada siswa reguler dengan ujian siswa inklusi.

Pantauan Lombok Post, di SMAN 6 Mataram, siswa reguler tinggal mengklik jawaban yang dianggapnya benar. Di sisi lain siswa inklusi, khsususnya tuna netra dibacakan naskah soal baru bisa menjawab soal.

a�?Ada soal braille, tapi kita tidak pakai karena soal ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia panjang-panjang,a�? kata salah seorang pengawas ujian Prapanca Adi Wijaya di SMAN 6 Mataram, kemarin (9/4).

Dari pantauan koran ini, dua siswa SMAN 6 Mataram. Bima Pratama dan Lalu Galang Gumilang dibacakan naskah soal ujian guna bisa menjawab soal ujian. Empat orang pengawas secara bergantian membacakan naskah soal ujian yang jumlahnya 50. Belum lagi naskahnya panjang-panjang.

a�?Kita bergantian membacakan naskah soal,a�? terangnya.

Pada ujian sebut dia, siswa inklusi ini disediakan naskah huruf braille. Hanya saja tidak dipakai karena naska soal panjang. Jadi kata dia, untuk menghemat waktu, para pengawas membacakan naskah soal. Siswa tinggal menjawab apa yang dianggapnya benar.

a�?Siswa tinggal menjawab A, B atau yang lain yang dianggapnya benar,a�? kata Panca.

Menurutnya, soal mata pelajaran Bahasa Indonesia akan lebih efisien jika siswa dibacakan. Beda dengan soal ujian besok (hari ini) mapel Matematika harus menggunakan braille agar lebih mudah. Karena naskah soal banyak angka maka siswa harus faham.

Dari 50 butir soal disajikan lanjut Panca, tidak ada satu pun butir soal yang tidak difahami siswa. Semua siswa menjawab soal tanpa banyak bertanya.

Pengawas lainnya M Saiful Fahmi mengatakan, ujian siswa inklusi ini mendapat bonus waktu. Yakni 45 menit. Ujian bagi siswa inklusi, khususnya tuna netra bukan hanya menjawab soal. Melainkan, ada empat proses yang dilakukan. Yakni membaca, mendengar, mencerna, dan menyalin.

Sebelum siswa menjawab soal ujian. Terlebih dahulu para pengawas membaca naskah soal yang didengarkan langsung siswa. Kemudian mencerna jawaban mana yang kira-kira dianggapnya benar. Setelah itu, barulah pengawas menyalin jawaban para siswa dari braille ke huruf awas.

a�?Banyak tahapan yang kita lakukan pada ujian ini,a�? terangnya.

Waka Kurikulum SMAN 6 Mataram Hj Maisarah menuturkan, secara teknis pelaksanaan ujian berjalan lancar. Tidak ada kendala pada ujian hari pertama. a�?Mudah-mudahan ini akan berlanjut hingga hari terakhir. Tak ada gangguan,a�? harap perempuan berjilbab ini.

Pelaksanaan ujian menggunakan tiga sesi. Sesi pertama dimulai pukul 07.30 Wita sampai 09.30 Wita, sesi kedua dimulai pukul 10.00 Wita sampai 12.30 Wita. Dan sesi ketiga dimulai pukul 14.00 Wita sampai 16.00 Wita.

a�?Kita berharap tidak ada mati lampu saat ujian berlangsung,a�? singkatnya.

Sementara itu Kabid PKLK Dikbud NTB H Saiful Islam mengatakan, pelaksanaan ujian bagi siswa inklusi sudah disiapkan naskah sesuai dengan ketunaannya. Untuk tuna netra maka naskah soal brialle.

a�?Ada kok soal braille,a�? ujarnya.

Jika pun tidak ada Saiful akan langsung kroscek ke sekolah nantinya. Sudah semestinya siswa inklusi ini mendapat naskah soal sesuai ketentuan.

Sementara di Lombok Utara, pelaksanaan UNBK terpantau lancar. Di SMAN 1 Tanjung, UNBK hari pertama dibagi dalam tiga sesi. UNBK dilaksanakan pada pagi, siang dan sore hari. a�?Untuk jumlah keseluruhan siswa yang mengikuti UNBK sebanyak 272 orang,a�? ujar Kepsek SMAN 1 Tanjung Marijo, kemarin.

Pelaksanaan UNBK di SMAN 1Tanjung untuk sesi pertama dilakukan dalam dua ruang kelas. Sesi pertama dan kedua diikuti 91 orang, sedangkan sesi ketiga diikuti 90 orang. a�?Ketersediaan alat kita sudah mencukupi, tapi tetap dilakukan tiga sesi karena jumlah komputer yang ada 103 unit,a�? katanya.

Marijo mengungkapkan segala persiapan sebelum pelaksanaan UNBK sudah dilakukan dimulai dengan simulasi bagi siswa serta koordinasi dengan pihak terkait dalam hal ini PLN. a�?Simulasi sudah kita lakukan tiga kali. Untuk ketersediaan listrik sudah ada kerjasama antara PLN dan dinas, jadi kami yakin semua bisa berjalan lancar,a�? imbuhnya.

A�Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 1 Bayan Iwan Kurniawan menjelaskan jumlah siswa yang melaksanakan UNBK sebanyak 223 orang terdiri dari 82 siswa Kelas IPA, 110 siswa kelas IPS, dan 31 siswa Kelas Bahasa. a�?Disini UNBK juga diberlakukan tiga sesi,a�? katanya.

Ditambahkan Iwan, untuk pelaksanaan UNBK, sekolah menyiapkan 82 unit komputer. Selain siswa sekolah tersebut, UNBK di SMAN 1 Bayan juga diikuti SMAS Lotara sebanyak 22 siswa.

Sedangkan di SMAN 2 Bayan, UNBK diikuti 40 orang yang dilakukan dalam tiga sesi. Pihak sekolah menyiapkan 14 unit komputer untuk pelaksanaan UNBK tersebut. (jay/ewi/puj/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka