Ketik disini

Selong

Kejari Lotim Masih Nunggak Tiga Kasus Korupsi

Bagikan

SELONG-Tiga kasus dugaan korupsi di Lombok Timur (Lotim) masih menjadi atensi Kejari Lotim. Diantaranya, dugaan Pungli Prona Kepala Desa Pringgabaya Utara,  kasus penyalahgunaan Anggaran Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) di Mendana Raya, dan Penerbitan puluhan sertifikat di kawasan hutan lindung Sekaroh.

Kasi Pidsus Kejari Lotim Iwan Gustiawan mengatakan, kasus dugaan Pungli Prona yang dilakukan Kepala Desa Pringgabaya Utara memasuki tahap akhir. Penyidik tinggal melakukan pemeriksaan terhadap ahli. ”Kasus pungli prona ini tidak akan lama untuk kita limpahkan ke pengadilan,” kata Iwan.

Sedangkan kerugian negara dalam kasus pungli prona tersebut sudah didapatkan. Namun, Iwan enggan membeberkan jumlah kerugian negaranya. ”Ada beberapa yang sudah disetorkan ke penyidik. Janganlah disebutkan nanti juga saat di persidangan akan terbuka semuanya,” jelasnya.

Sedangkan kasus penyalahgunaan Anggaran Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) di Mendana Raya masih dalam penyelidikan. Pada kasus tersebut penyidik meminta bantuan inspektorat menghitung kerugian negara. ”Kita belum mendapatkan laporan dari inspektorat,” jelasnya.

Kasus yang diusut 2016 lalu ini sudah menetapkan kepala desa sebagai tersangka. Namun, sampai saat ini kasus tersebut belum juga dilimpahkan ke pengadilan. ”Kita masih akan meminta keterangan ahli,” ujarnya.

Diketahui, anggaran yang diperiksa pada kasus tersebut adalah 2015 dan 2016. Anggaran yang turun dalam dua tahun itu jumlahnya lebih dari Rp 1 miliar.

”Mudahan  ini bisa segera kita selesaikan,” harapnya.

Kasus yang dianggap akan lama diselesaikan adalah dugaan korupsi penerbitan puluhan sertifikat di kawasan hutan lindung Sekaroh. Penerbitan sertifikat tersebut diperuntukkan untuk PT APC yang beroperasi sejak 2005 silam.”Di kawasan tersebut ada beberapa bangunan yang beroperasi di dalam hutan Sekaroh itu yang kita telisik,” ujarnya.

Menurutnya, kasus tersebut akan diselesaikan cukup lama. Rencananya, akan diperiksa dua saksi ahli.

Audit kerugian negara juga belum didapatkan. Kerugian negara di kasus tersebut cukup besar. “Kalau seukuran saya kerugian negara kemungkinan besar di kasus sekaroh ini,” ujarnya.

Ketika dipertegas terkait jumlahnya, Iwan enggan membeberkannya. Apakah ada  Rp 1 miliar?.  ”Ya, kemungkinan sekitaran itulah,” jawabnya. (arl/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka