Ketik disini

Headline Metropolis

Pak Menteri Idrus Marham Kritik Mental Kere!

Bagikan

MATARAM-Saat anjangsana ke gedung Graha Pena Lombok, Minggu (15/4) kemarin, Menteri Sosial Republik Indonesia Idrus Marham sempat menyindir soal mental miskin alias kere sebagian masyarakat. Akibatnya program sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan dan Bantuan Pangan Beras Sejahtera kerap salah sasaran.

Mereka yang seharunya tergolong mampu, seperti tak rela jika tidak ikut menikmati bantuan dari pemerintah. Padahal jika disebut sebagai miskin, gengsinya bukan main. a�?Nah itulah makanya,a�? sesal Idrus.

Karena itu, pria kelahiran Sempang, Sulawesi Selatan ini merasa perlu memerangi mental kere yang cukup akut di tengah masyarakat. Mereka tidak hanya mengambil hak orang yang tidak mampu. Tetapi secara tidak sadar ikut melanggengkan mental malas dan miskin inovasi dalam memperbaiki taraf ekonomi.

a�?Karena itu sebenarnya ada relevansinya Pak Presiden dalam mencanangkan program pembangunan yang tertuang dalam nawa cita, yakni revolusi mental,a�? ulasnya.

Ia berharap masyarakat secara kolektif ikut mengawasi orang-orang bermental kere seperti ini. Sebab, ini persoalan serius bangsa. Berpotensi menghambat laju perkembangan bangsa, jika orang-orang seperti ini semakin banyak menggragoti program pemerintah.

a�?Kita harus hadapi kemiskinan mental dan kemiskinan inovasi ini,a�? tegas mantan Sekjen Golkar ini.

Karena itu ia berharap media-media besar tanah air bisa membantu membangun optimisme. Dalam rangka melawan atau memerangi krisis metal. Perang melawan pesimisme sangat penting untuk membuat bangsa ini maju dan menjadi lebih baik.

Ia lalu mencontohkan pada kisah nyata hidupnya. Optimisme dan tekad belajar yang kuat telah membawanya sebagai orang yang punya perjalanan karir yang tak banyak orang menduga.

a�?Ayah saya dulu hanya buruh tani, tidak punya sawah. Tapi saya bertekad mengubah nasib dengan banyak belajar dan belajar. Siapa sangka Idrus Marham akan jadi Sekjen Golkar dan kini jadi Menteri,a�? tuturnya.

Menurutnya, kesukesan yang ia dapat lahir dari optimisme. Tidak mungkin bisa muncul dari mereka yang punya mental mudah pesimis dan peminta. Karena itu, ia berharap media bisa jadi lokomotif perubahan ini. Dengan membangun optimisme pada masyarakat.

a�?Mari membangkitkan semangat hidup rakyat untuk bisa mandiri, media harus jadi motivator bangsa. Lebih dari sekedar peran edukasi, tetapi harus bisa membangun mental,a�? harapnya.

Ia yakin jika kesamaan persepsi ini bisa dibangun oleh semua pihak termasuk media, maka menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang kuat dengan motivasi rakyat yang berlimpah bukan sesuatu yang sulit. Rakyat harus diberi pandangan luas tetang bagaimana seharusnya berpikir yang benar dan maju.

a�?Motivasi itu sangat hebat, saat saya ke Bogor bersama jajaran beberapa anak difabel, ternyata bisa menghasilkan karya-karya yang bagus,a�? terangnya.

Ia juga berharap hal ini bisa dilakukan di NTB. Di mana optimisme dibangun oleh semua elemen masyarkat dan pemerintah. Ia juga percaya, hal ini bisa dilakukan. Setidaknya setelah ia berkunjung Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Paramitha Mataram, sebelum bertandang ke Lombok Post, kemarin.

a�?Mereka anak-anak korban kekerasan, ada juga yang tercatat telah melakukan perbuatan kriminal, setelah dibina ternyata mampu menjadi tenaga terampil yang baik, dengan membuat berbagai hasil perabitan, bengkel motor, dan lain sebagainya,a�? ulasnya.

Idrus menambahkan persoalan sosial banyak terjadi karena kurangnya perhatian. Salah asuh dan kurangnya perlindungan orang tua terhadap anak-anak mereka. Untuk itu kaitannya dengan dua program andalan yang dimiliki kementerian sosial, ia berharap Keluarga Penerima Manfaat atau KPM Program Keluarga Harapan mampu mengasuh, mendidik dan melindungi anaknya.

Sementara itu, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat mengaku selalu berpesan kepada pendamping PKH untuk melakukan bimbingan kepada KPM agar bisa menjaga dan mendidik anaknya untuk bisa berprestasi.

Ia mencontohkan salah satu cerita warga di Lombok Barat yang ia dengar langsung. a�?Namanya Huriani,a�? tutur Idrus.

Wanita itu lanjut Idrus mulanya peserta KPM PKH. Tapi kemudian memilih keluar sebagai peserta program karena jualan pecel yang laku keras. Ia mampu memberikan penghasilan yang cukup untuk keluarganya. a�?Ini kan contoh yang hebat,a�? celetuknya.

Menurutnya, Huriani punya kesadaran yang baik. Kemudian mengundurkan diri sebagai peserta PKH. Karena sadar masih banyak warga yang lebih membutuhkan dari pada dirinya.

Sementara itu, Direktur Lombok Post Haliluddin memastikan keikutsertaan Lombok Post dalam gerbong membangun optimisme di tengah masyarakat. Tidak menyebakan berita yang melemahkan apalagi terindikasi hoax. a�?Kami sudah tegaskan, akan melawan berita hoax dan dapat memprovokasi warga,a�? tegas Halil.

Pempimpin Redaksi (Pimred) Lombok Post Jony Marthadinata juga sempat menyinggung soal mental miskin yang kerap menjadi cerita dalam setiap pembagian bantuan pemerintah. Mereka adalah orang-orang yang enggan disebut miskin. Tetapi terdepan dalam menampakan diri untuk menerima bantuan.

a�?Sehingga para kadus atau kepala lingkungan kerap dibuat dilema, sebab mereka juga ngotot ingin dapat bantuan,a�? kisahnya pada Idrus.

Sebagai informasi, total jumlah peserta PKH di NTB sebanyak 325.320 keluarga dengan nilai Rp 615.250.030.000.A�Sementara penerima bansos Rastra/Bantuan Pangan Non Tunai, sebanyak 473.049 orang dengan nilai Rp 624.424.680.000. Dengan total bantuan yang disalurkan selama satu tahun senilai Rp 1.239.674.710.000.

Melihat alokasi anggaran yang cukup besar ini, Idrus mengingatkan, agar penerima manfaat menggunakan bantuan sesuai ketentuan. Terutama untuk keperluan sekolah dan perbaikan gizi anak-anak. Sebab, dengan pendidikan yang baik, mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang pintar dan cerdas.

a�?Bisa sekolah sampai lulus SMA bahkan ke perguruan tinggi. Dengan pendidikan tinggi, mereka bisa bekerja dan berpenghasilan mengangkat nasib keluarga,a�? ucap politisi Golkar ini.

Terpisah, Huriyani warga Desa Duman, Kecamatan Lingsar selaku mantan penerima bansos PKH mengapresiasi bantuan yang pernah diterimanya dari Kemensos RI. Ia mengundurkan diri sebagai peserta PKH, karena merasa masih banyak orang lain dinilai layak menerima bansos tersebut.

Kesehariannya hanya berdagang pecel di sebuah warung, patut disyukuri mampu menghidupi kebutuhan anak-anaknya bersekolah. Ia berharap, kepada peserta lainnya jika sudah merasa mampu untuk sadar sendiri berhenti sebagai peserta bansos PKH atau Rastra.

a�?Jadi ada yang bantu-bantu saya untuk cuci piring di warung, dia orang tidak mampu, tapi tidak dapat (bantuan), sementara saya (merasa mampu) justru mendapat bantuan ini,a�? tutupnya.

Hentikan Kekerasan pada Anak

Selain ke markas Lombok Post, Idrus Marham juga berkunjung ke PSMP Paramita Mataram, Bengkel, Kecamatan Labuapi, Lobar. Di sana ia meminta siapa saja pelaku yang melakukan kekerasan pada anak, harus ditindak tegas.

a�?Saya sudah berkunjung, masih ada anak-anak yang menjadi korban,a�? kata Idrus Marham usai menyerahkan bantuan sosial PKH dan Rastra di aula PSMP Paramita, kemarin (15/4).

Ia menuturkan, sebelum penyerahan bantuan sosial tersebut dirinya bersama rombongan menyempatkan diri mengunjungi Satuan Bakti Pekerja Sosial Perlindungan Anak (Sakti Peksos PA) NTB. Ia melihat cukup banyak anak-anak di NTB menjadi korban kekerasan. Khususnya kekerasan seksual.

a�?Saya meminta agar mereka para korban dipastikan untuk bersekolah, biayanya nanti dari pemerintah dan akan dibicarakan, atau dari Kementerian Sosial,a�? tambahnya.

Diakui, selama ini penegakan hukum bagi para pelaku kekerasan seksual pada anak masih sangat lemah. Sebab itu, ia meminta Kepolisian Daerah (Kapolda) NTB untuk memastikan, siapa saja pelaku tindakan kekerasan pada anak harus ditindak tegas.

a�?Karena apa, negara kita ini negara hukum. Sejatinya hukum pemegang remot kontrol seluruh sistem kehidupan kita,a�? ucap politisi Golkar ini.

a�?Siapa pun yang melakukan tindak pidana (pada anak) harus ditindak tegas, apalagi pelaku yang memperkosa anak-anak kecil,a�? tambah Idrus.

Ia sendiri mengaku prihatin dan tidak menyangka, atas perbuatan para pelaku-pelaku yang sangat tega melakukan kekerasan pada anak. Padahal anak-anak tersebut masih memiliki masa depan yang panjang sebagai penerus bangsa.

a�?Tidak ada maaf baginya (pelaku), bukan lagi langgar aturan tapi sudah tidak bermoral dan tidak berperikemanusiaan,a�? tegasnya.

Wakapolda NTB Kombes Pol Tajuddin menambahkan, sejauh ada laporan kekerasan pada anak yang masuk ke kepolisian maka segera dilakukan penindakan. Meski demikian, kepolisian bertugas sebagai penyidik yang memberikan data serta memprosesnya. Penentuan hukuman bagi pelaku kekerasan anak ada di tangan pengadilan.

a�?Masyarakat juga meminta agar (pelaku) dihukum berat, kalau saya pribadi bila perlu seberat-beratnya, karena ini menyangkut harga diri manusia,a�? ungkapnya.

Meski demikian, ia mengimbau kepada masyarakat khususnya orang tua, untuk mengingatkan anak-anak mereka agar tidak mengenakan pakaian seksi atau yang dapat membangkitkan hawa nafsu. Kurangi pemberian izin pada anak-anak untuk keluar malam hari.

a�?Karena pakaian itu, buat orang merangsang. Paling tidak dimulai dari diri sendiri untuk jaga pakaian,a�? tukasnya. (zad/ewi/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys