Ketik disini

Headline Metropolis

Naik Gunung, Keselamatan yang Utama, Gaya Nomor Dua

Bagikan

Anak muda zaman now telah menerima pesan baik dari alam. Ke pantai, ke gunung, dan ke tempat-tempat yang memiliki panorama indah. Mereka dilarang terlalu sering berdiam diri di rumah. Keindahan alam menanti di luar sana. Datanglah!

———————–

Kini, liburan ke gunung pun jadi trend. Pesan tersebut tidak datang dari para pecinta alam. Namun menjalar dari media sosial. Postingan foto-foto di instagram atau facebook akan segera menggoda muda-mudi yang lain. Inilah zaman milenial.

a�?Kita senang melihat anak-anak zaman sekarang tertarik untuk liburan ke gunung. Tapi resah melihat mereka yang datang karena hanya ingin gaya-gayaan,a�? kata Zaenudin, salah seorang pecinta alam alumnus mahasiswa pecinta alam (MAPALA) FKIP Unram.

Menurutnya, mendaki tidak hanya persoalan mengejar puncak. Lantas sampai di atas sana hanya fokus pada foto-foto. Melainkan ada pelajaran yang bisa didapatkan di atas sana. Salah satunya adalah memahami kehidupan dalam keindahan alam ciptaan Tuhan.

Zaenudin atau yang akrab disapa Koreng (nama gunungnya) menyayangkan perubahan yang terjadi di masa kini. a�?Dulu, hampir bisa dipastikan anak-anak yang mendaki gunung adalah anak-anak Mapala. Sekarang tidak, semua ada. Kita pun jadi lebih memfokuskan edukasi lingkungan. Bukan lagi selalu ke atas sana,a�? terang Koreng.

Koreng mengatakan, anak-anak zaman sekarang (kebanyakan anak-anak SMA), sudah banyak yang menjadwalkan liburannya ke puncak. Kalau tidak gunung Rinjani, tujuan yang lebih mudah adalah ke bukit-bukit di sekitarnya. Seperti Nanggi.

Sayangnya, Koreng menyoroti, bahwa trend ke gunung saat ini hanya untuk gaya-gayaan saja. Tidak lagi melihat hal penting. Seperti safety atau keamanan selama perjalanan. Plek. Semua mentok di tujuan foto-foto, kemudian upload di media sosial. Kesimpulan tersebut merupakan pengamatan yang selama ini ia lakukan bersama teman-temannya di Mapala FKIP Universitas Mataram.

Koreng mengatakan pentingnya memikirkan keamanan dalam perjalanan. Menurut pengalamannya, sudah begitu banyak yang menemui musibah di atas sana. Paling parah meninggal dunia, atau yang ringan mengalami hipotermia ringan, dan atau asma.

a�?Seharusnya cek dulu kondisi fisik. Cuaca di gunung, kondisi medan, dan peralatan,a�? terang Koreng.

Ia menceritakan bagaimana calon pendaki harus berlatih mengitari lapangan untuk menguji coba fisik. Jika tidak lulus, maka ia harus menunggu setahun lagi untuk bisa ke puncak. Semua itu kini sudah berubah. Menurutnya, tak ada lagi uji coba. Apalagi mempersiapkan ketahanan fisik. Padahal di atas sana, bukan main cobaan cuaca dan medannya. Terlebih bagi yang memiliki riwayat penyakit hipotermia, asma, atau maag.

Kata Koreng, yang sebelumnya hanya punya maag biasa, di atas sana bisa jadi kronis.

Trend anak-anak zaman sekarang pun diiyakan oleh Latif Akbar, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris FKIP Unram. Ia mengatakan, anak-anak sekarang lebih mementingkan style atau gaya ke puncak dari pada keselamatan. Di atas sana, terkadang ia ingin menegur mereka yang naik dengan pakaian standar.

a�?Bukan kita mau meremehkan. Tapi ke gunung pakai jaket korea, sepatu licin, dan celana jeans. Bisa kedinginan dan berakibat fatal di atas sana,a�? terang Latif.

Latif menjelaskan, kalau anak-anak pecinta alam membawa carrier besar bukan untuk gaya-gayaan. Tapi karena memang itu sudah standar. Begitu banyak yang ingin disampaikan oleh Latif mengenai kegelisahannya pada anak-anak pendaki zaman now, akan tetapi ia tak bisa menghalau perkembangan zaman saat ini.

Ia pun menyadari bahwa perubahan zaman sudah mengakibatkan semuanya juga berubah. Sebagai ketua organisasi pecinta alam Mapala FKIP Unram, Latif tak ingin tinggal diam melihat perubahan tersebut. Setiap tahun, ia pun mengadakan kegiatan Jambore siswa pecinta alam. Dari kegiatan tersebut, ia memberikan edukasi kepada anak-anak SMA tentang pentingnya mencintai alam.

a�?Jadi jangan sampai ke gunung buat memetik bunga sembarangan. Apalagi corat-coret batu dengan menulis namanya di situ,a�? kata Latif.

Selain itu, ia juga berharap, agar anak-anak zaman now bisa lebih mempersiapkan diri kalau ingin naik gunung. Mengutamakan keselamatan atau safety dari pada style sangat penting. a�?Sekarang tidak perlu ke TNGR atau Mapala untuk mengetahui persiapan naik gunung. Cukup browsing. Di internet sudah banyak. Intinya sadar dan mau memperhatikan keselamatan. Jangan sampai heboh setelah kejadian,a�? tambahnya. (tih/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka