Ketik disini

Giri Menang

Pangkas Rambut a�?Asyika�� di Pinggir Sawah

Bagikan

Juardi tak membuka tempat pangkas rambut di tempat ramai. Namun dengan modal seadanya, ia menyewa lahan kecil di pinggir sawah. Kreatif. Sembari menunggu giliran, para pelanggan bisa menikmati indahnya pemandangan. Berikut laporannya.

Fatih Kudus Jaelani, Giri Menang

#############################

Ini bukan barbershop. Pangkas rambut a�?asyika�� milik Juardi terbangun dari dinding kayu dengan tiang bambu dan atap seng. Ukurannya tak lebih dari 2,5×3 meter. Di tempat itu, Juardi menaruh dua bangku dan satu kursi. Dua bangku untuk menunggu, dan satu kursi untuk meladeni rambut di kepala pelanggan.

Sejuk sekali. Letaknya tepat di pinggir sawah. Oh tidak. Sebenarnya pangkas rambut Juardi ini terdapat di pinggir kali kecil. Sawahnya terdapat setelah kali kecil tersebut. Jadi selain hamparan pemandangan sawah, kenikmatan mencukur rambut di tempat ini ditambah lagi dengan suara aliran air yang terus mengalir.

Itulah mengapa tempat mencukur rambut ini bernama pangkas rambut a�?asika��. Tapi tidak karena itu juga. Juardi sendiri mungkin membuat nama tersebut karena ingin mengatakan kalau gerakan tangannya di atas kepala begitu lihai. Sehingga jadi asyik.

a�?Biar asyik saja,a�? kata Juardi. Ia meluruskan pendapat banyak orang tentang nama tempat pangkas rambutnya.

Juardi merupakan warga Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Usianya masih muda. Tapi ia sudah berkeluarga. Karena itu ia harus mampu bekerja. Dengan kemampuan memotong rambut yang tumbuh di kepala, setiap hari ia meladeni puluhan kepala di sana.

Juardi mengaku membuka tempat cukur rambutnya sejak setahun yang lalu. Sebelumnya ia membuka di tempat yang tak jauh dari tempatnya sekarang. Tempat itu bukan miliknya. Melainkan di sewa. Rp 3 juta per tahun.

Tidak terlalu mahal bagi Juardi. Apalagi ia bisa meladeni setidaknya 10 kepala setiap hari. Kalau sedang ramai, bisa sampai 25 kepala. Biayanya berapa? Tidak mahal. Tidak semahal barbershop. Rp 7 ribu saja. Rambut di kepala kita akan baru dibuatnya.

Membuka tempat cukur di desa bukan merupakan hambatan bagi Juardi. Justru ia secara tidak langsung mendapatkan langganannya sendiri. Membuka tempat cukur di pinggir kali, terkadang membuatnya didatangi oleh para pemancing yang umpannya tak juga dimakan ikan.

a�?Ya, terkadang ada saja orang mancing, yang kemudian jadi tertarik memotong rambutnya di sini,a�? kata Juardi sambil memotong rambut salah seorang pelanggannya.

Setiap hari, Juardi buka dari pukul 9 pagi dan tutup pukul 4 sore. Tidak lama. Tapi hasilnya cukup untuk menghidupi keluarga. Juardi tidak juga punya impian besar. Baginya rezeki harus dipandang seperti air sungai di pinggir tempat pangkas rambutnya. Kecil, tapi terus mengalir. (*/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka