Ketik disini

Headline Pendidikan

Janji Pemkab Lobar Untuk Bangun Jembatan Tak Kunjung Terealisasi

Bagikan

LOBAR-Puluhan tahun, para siswa dari sejumlah desa di Kecamatan Labuapi, Lombok Barat harus bersekolah dengan naik perahu. Sudah tak terbilang, berapa janji pemerintah Kabupaten Lombok Barat terlontar. Namun, tak satupun ditepati. Sejak dulu hingga kini, mereka kompak merindukan hal yang sama. Sebuah jembatan.

Karena ketiadaan jembatan itulah, warga akhirnya harus mengandalkan perahu. Jalur darat memang ada. Namun harus memutar. Jauhnya bukan kepalang. Bisa mencapai jarak 10 kilometer. Dan buat siswa, itu sungguh berat di ongkos. Sementara jika menyeberangi sungai dengan perahu, para siswa tersebut hanya cukup berjalan lima menit untuk sampai ke sekolah.

Siswa-siswa yang menggunakan perahu untuk ke sekolah ini antara lain dapat ditemui di sejumlah titik di Kali Babak, salah satu kali besar di Pulau Lombok dan membelah Kecamatan Labuapi. Kemarin, Lombok Post menyambangi salah satu titik penyeberangan yang ada di Desa Parampuan. Titik ini merupakan salah satu yang paling ramai saat ini. Titik penyeberangan tersebut menghubungkan akses jalan dari Desa Parampuan, Desa Telaga Waru dan Desa Karang Bongkot dengan Desa Sukamakmur di seberang selatan Kali Babak.

Pagi hari adalah waktu paling ramai di perlintasan penyeberangan ini. Tak cuma para siswa yang memanfaatkan jalur penyeberangan dengan perahu ini. Warga setempat juga memanfaatkannya. Keperluan mereka biasanya untuk berbelanja ke Pasar Karang Bongkot, yang memang letaknya tak jauh dari sana.

Perlintasan lain yang juga ramai adalah di perlintasan Desa Banyu Mulek, yang terhubung dengan Desa Telaga Waru. Pada pagi hari, perlintasan ini biasanya dimanfaatkan para siswa dari desa tersebut yang hendak bersekolah di SMA 1 Labuapi. Hanya saja, kondisi jalur penyeberangan ini sudah tak seramai dulu. Terutama semenjak jalan bypass BIL yang baru, mulai beroperasi.

Selalu ada perahu yang stand by dan siap melayani warga yang hendak menyeberang di perlintasan-perlintasan yang sudah terhubung dengan jalan yang sebagian beraspal dan sebagian lagi masih berupa jalan tanah. Ali, salah satunya. Dia saban hari mangkal untuk melayani warga di perlintasan di Desa Parampuan.

Biasanya, laki-laki 66 tahun ini sudah stand by di tempat kerjanya pada pukul 06.00 Wita. Selain perahu kayu kecil, dia juga bekerja dengan sebilah galah bambu untuk mendorong perahu sampai ke pinggir. Bambu sepanjang 15 meter ditancapkan ke dasar sungai yang bisa mencapai kedalaman rata-rata 10 meter. Dengan cara itu, perahu kemudian bergerak membelah aliran sungai mengantarkan para penumpang hingga ke pinggir.

“Saya sejak masih muda sudah bekerja seperti ini,” akunya. Dia sudah lupa semenjak tahun berapa. Namun, mengingat usianya yang kini sudah 66 tahun, berarti Ali sudah melakukan pekerjaan ini berpuluh tahun lamanya.

Menjelang pukul 07.00 Wita, sebagian besar penumpangnya adalah pelajar. Bolak-balik Ali dengan perahunya mengantar penumpang. Sekali muat, perahu penuh dengan lima orang dewasa. Perahunya kecil. Karena kecil, tentu saja para penumpang dilarang keras berjingkrak-jingkrak di atasnya. Kecuali ingin tenggelam bersama.

Sebetulnya tak ada tarif resmi penyeberangan perahu di sini. Tapi, biasanya par apelajar membayar ongkos Rp 1.000 pada Ali. Kadang ada bahkan yang tak membayar sama sekali. Ali pun tak apa-apa. Toh, bagi Ali, anak-anak masih satu desa dengannya tersebut dianggap anak-anaknya pula.

Pantauan Lombok Post, kemarin ada seorang perempuan paruh baya ikut menyeberang. Perempuan berjilbab hitam bernama Sufiani itu membawa seorang murid Paud. Dia bekerja sebagai seorang seorang guru Paud Al-Muslimin yang ada di Desa Sukamakmur. Dia menyeberang bersama muridnya. Dan sudah 13 tahun Sufiani melakukan rutinitas yang sama tersebut saban hari saat hari sekolah.

“Saya sejak tahun 2005 menyeberang lewat sini,” katanya.

Ia mengungkapkan, menyeberangi Kali Babak bukan satu satunya jalan menuju sekolahnya. Hanya saja dengan membayar jasa Ali, ia bisa menghemat waktu, tenaga, dan uang. Bagaimana tidak, jika melalui jalur darat ia harus berjalan memutar sejauh 10 kilometer.

“Kalau ngojek abis Rp 20.000 sekali jalan,” ungkapnya.

Warga BTN BHP, Desa Telaga Waru tersebut mengaku tak hanya dirinya dan para siswa sekolah yang sangat bergantung pasa jasa penyeberangan perahu tersebut. Terutama para pelajar yang bersekolah di Ponpes Al-Muslimin NW di Desa Sukamakmur.

Dan menyeberang dengan perahu bukan tanpa kendala. Sebab, jika air sungai meluap, layanan penyeberangan perahu ditiadakan. Sebab, arus Kali Babak juga deras. Sehingga bisa membahayakan. Kalau sudah seperti ini, warga pun harus rela memutar. Berat di ongkos, tidak hemat waktu dan tidak hemat tenaga.

Sufiani membeberkan, warga desanya sempat mendapatkan mendapatkan asa saat Bupati H Zainy Aroni memimpin Lombok Barat. Saaf itu Bupati Zainy meninjau titik-titik penyeberangan tersebut dan menjanjikan pembangunan jembatan. Patok-patok untuk pembangunan jembatan bahkan sudah dipasang. Namun entah kenapa, kini proyek itu tidak berlanjut. Malah patok yang sudah dipasang menghilang tanpa jejak.

“Nggak tau, mungkin patoknya hanyut,” kata Sufiani.

Entah kapan lagi janji pembangunan jembatan itu akan ditepati. Dan kemarin, saat bangsa ini memeringati hari Pendidikan Nasional, para siswa kembali merindukan hal yang sama. Sebuah jembatan. (van/r8)

Komentar

Komentar

Tags: