Ketik disini

Gaya Hidup Metropolis

Nanti Malam Tarawih, Puasa Serentak Dimulai Kamis

Bagikan

MATARAM– Seperti prediksi sebelumnya, tidak ada perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan 1439 H/2018 M. Usai menggelar sidang isbat tadi malam, Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan awal puasa jatuh pada Kamis (17/5) esok. Artinya nanti malam (16/5) sudah mulai pelaksanaan salat tarawih.

Dengan demikian puasa tahun ini kembali kompak. Sebelumnya Muhammadiyah dengan perhitungan hisab sudah lebih dulu mengumumkan 1 Ramadan jatuh pada Kamis 17 Mei 2018.

Untuk wilayah NTB, Tim Kemenag  NTB kemarin menggelar pengamatan hilal (rukyat) di lantai 14 menara Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB hingga kemarin petang. Pemantauan melibatkan BMKG Mataram, Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dan Universitas Mataram.

Dipantau semenjak pukul 14.00 Wita hingga terbenam matahari, hilal tidak nampak. Saat terjadi ijtimak yakni posisi bumi dan bulan berada pada posisi bujur langit yang sama. Tinggi hilal minus 00 derajat 10 menit dan 17.63 detik. Yang berarti hilal masih di bawah ufuk.

Kepala Bidang Pembimbing Syariah Kemenag NTB HM Ali Fikri mejelaskan, kesepakatan Menteri-menteri Agama Brunai Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), kriteria hilal untuk dapat rukyat adalah minimal dua derajat, umur bulan sejak ijtimak minimal 8 jam, dan jarak sudut matahari dan bulan tiga derajat.

Ketika bulan tidak tampak, maka bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari. Sehingga awal puasa 1 Ramadan jatuh pada hari Kamis 17 Mei. Ia berharap masyarakat yang sudah memenuhi masjid Islamic Center sejak sore pun tidak kecewa.

Ali juga mengungkapkan, bahwa sampai sampai tadi malam, pihaknya belum mendengar ada salah satu kelompok masyarakat yang akan memulai puasa hari ini.

“Sampai sekarang (kemarin sore) belum ada laporan yang memulai besok Rabu,” katanya.

Kemarin, pantauan Lombok Post, ratusan warga sejak sore memang sudah memadati Masjid Hubbul Wathan. Mereka mengaku benisiatif datang kalau-kalau Salat Tarawih dimulai tadi malam. Tetapi karena hilal tidak tampak, mereka pun bubar usai Salat Magrib. Banyak di antaranya datang meggunakan mobil pikap.

Kepala Sub Bidang Layanan Informasi Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG Himawan mengatakan, kemarin pemantauan juga terhalang dengan awan. Sore kemarin, Kota Mataram memang sempat diguyur hujan. Teropong merk vixen yang digunakan tim memantau pun tak mampu menembus ketebalan awan. Pun di monitor hanya tampak warna gelap saja.

“Jangankan bulan. Matahari saja ndak kelihatan ini,” kata dia.

Kalender Tunggal

Sementara itu, di Jakarta, Menag Lukman Hakim Saifuddin yang didampingi Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, Ketua Komisi VIII DPR Ali Taher Parasong, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdullah Jaidi usai sidang isbat menjelaskan terkait rencana akan dibuat kalender Islam yang tunggal. Dengan adanya kalender tunggal ini, penetapan awal puasa, lebaran idul Fitri, dan Idul Adha bisa serempak dan dipastikan sejak awal.

“Kami di Kemenag sejak tahun lalu serius terkait aspirasi umat (kalender Islam tunggal, Red). Mudah-mudahan tahun ini bisa terwujud,” jelasnya.

Lukman mengatakan pembahasan kalender Islam tunggal itu dikaji di Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais-Binsyar). Untuk mewujudkannya Kemenag sudah berdiskusi dengan ormas Islam, ulama, serta ahli astronomi dan falak.

Ali Taher mengatakan kalender tunggal itu sangat penting. Sebab, bisa membuat penetapan tanggal-tanggal penting dan terkait ibadah serentak. Selain itu juga lebih efektif serta efisien. Dia mengatakan parlemen mendukung dan menunggu segera ditetapkannya kalender Islam tunggal itu.

Sementara itu Abdullah Jaidi menyampaikan MUI bersyukur bahwa seluruh ormas Islam menetapkan 1 Ramadan secara kompak 17 Mei. Kepada umat Islam yang menyongsong bulan puasa bisa mewujudkan rasa amanah dan menebar rasa kasih sayang.

“Meningkatkan hubungan sebagai bangsa Indonesia dan sebagai muslim yang rahmatan lil Alamin,” tuturnya.

Dia juga menyampaikan di bulan puasa nanti, MUI akan melakukan monitoring tayangan di televisi. Dia berharap kepada pengelola televisi supaya menyiarkan tayangan yang menghormati orang beribadah puasa.

“Tayangan yang sejuk, membawa kemaslahatan, kasih sayang, dan mewujudkan kehidupan penuh rahmah,” pungkasnya.

Di akhir paparan Lukman menyampaikan atas nama pemerintah, dia mengucapkan selamat memasuki bulan suci Ramadan 1439 H. “Mudah-mudahan kualitas puasa tahun ini meningkat,” tuturnya. Termasuk juga ibadah sosialnya. Sehingga lebih memberikan manfaat bagi lingkungan masing-masing. (ili/zad/JPG/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka