Ketik disini

Headline Metropolis

Selamat Datang Bulan Penyucian Diri

Bagikan

Tradisi ini terjaga lama. Turun-temurun dari masa ke masa. Berbondong-bondong menziarahi sanak-saudara. Di alam berbeda. Alam baka!

————-

MUSTIADI melapangkan tangannya. Terbuka menghadap langit. Mulutnya komat-kamit. Membaca bait doa yang ia hapal dengan baik. Kopiah hitam melingkar menutupi hampir separuh dahinya. Sementara dua anak kecil dan beberapa wanita lain ikut mengamini. Tak jauh dari tempatnya bersila.

Pria asal Bintaro itu khusyuk dalam munajatnya. Sarung dan pakaian putih yang ia kenakan melambangkan harapannya menyongsong bulan suci dengan hati yang bersih.

“Hanya bisa berkirim doa. Semoga kuburannya dilapangkan dan amal baiknya di terima Allah,” harap Mustiadi.

Sampai saat ini, ia masih berpegang teguh pada perkataan mulia Nabi Muhammad. Tentang terputusnya amalan seorang hamba kecuali tiga perkara. Sadakah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak yang salih.

Wallahu a’lam saya merasa bukan anak yang salih, tapi saya berusaha menjadi anak yang baik dengan memanjatkan doa untukn Ayah,” kata Mustiadi di TPU Bintaro.

Matahari memang baru beberapa hasta tergelincir menuju balik cakrawala. Tetapi ia telah mengajak keluarganya menziarahi makam orang tuanya sekaligus kakek dari anak-anaknya. Mustiadi mengaku tak bisa berbagi banyak kebaikan dengan mendiang orang tuanya, karena terpisah alam yang berbeda.

“Kecuali berdoa agar beliau tenang di alam sana,” ujarnya tulus.

Mustiadi satu dari banyak umat muslim lain yang masih setia menjaga tradisi ziarah kubur. Ia merasa tak pernah diajari. Namun tradisi ini ia warisi. Tentu saja dua hal ini menurutnya berbeda.

“Kalau diajari kan harus sama persis doa, cara duduk, urutan, dan lain sebagainya. Tapi kalau diwarisi tidak mesti sama. Yang penting mengunjungi lalu berdoa. Terserah mau bagaimana caranya, yang penting sopan,” terangnya.

Pria 50 tahun itu mengaku tak banyak waktu berbincang. Setelah menyirami tanah kuburan di depannya dengan air kembang setaman, mereka pamit pergi. Selanjutnya menyiapkan segala sesuatu sebelum tiba hari-hari jelang puasa.

Ziarah kubur siang kemarin dirasanya cukup sebagai bekal jiwa ia dan keluarganya. Untuk memulai puasa yang panjang dengan penuh kekusyukan dan kepasrahan.

“Pada akhirnya saya pun pasti akan ada di balik kubur. Kalau ingat mati Insya Allah ibadah puasa akan jauh lebih berserah diri mengharap ridho Allah,” pungkasnya.

Sejarawan dan Budayawan UIN Mataram Dr Jamaluddin sedikit merekonstruksi awal mula sebagian masyarakat melakukan tradisi ziarah kubur. Menurut Jamal, tradisi ziarah kubur juga bagian dari syariat Islam.

“Kalau tradisi sebelum Islam mendatangi kuburan adalah cara mereka menghormati ruh lalu meminta sesuatu pada yang mati,” ujar Jamal.

Islam kemudian hadir untuk mengkoreksi cara berlebihan itu. Seperti adanya anggapan ruh orang yang telah meninggal memiliki kekuatan. Karena anggapan itu pula mereka yang mendatangi kuburan lalu memberikan penghormatan secara berlebihan.

“Itu sebelum Islam (datang),” tekannya.

Tetapi hadirnya ajaran Islam kemudian memberi warna baru. Bagaimana idealnya cara berziarah kubur. Islam pada akhirnya tak melarang para penganutnya mendatangi kuburan dengan catatan harus ada rekonstruksi niat.

“Yakni untuk mengingatkan diri bawah pasti akan mati juga. Sehingga termotivasi untuk berbuat lebih banyak kebaikan,” ulasnya.

Di dalam perkataan mulai Nabi Muhammad SAW, juga ada notifikasi soal terputusnya amalan seseorang. Kecuali tiga hal. Salah satunya yakni risalah tentang mengalirnya kebaikan bagi orang tua dengan catatan anaknya seseorang yang salih.

Jamal mengatakan praktek ini yang selanjutnya coba diterjemahkan oleh masyarakat lokal. Dengan mendoakan orang tuanya pada Tuhan agar kondisi mereka tetap baik di alam baka.

“Dan salah satu ciri anak yang salih itu selalu mendoakan orang tuanya setelah meninggal,” ulasnya.

Hal inilah yang coba ditunjukan masyarakat Sasak saat ini. Dengan melestarikan tradisi ziarah kubur sebelum akhirnya melewati proses penyucian diri selama bulan suci Ramadan.

“Mereka lalu mendatangi makam ulama, penyebar Islam, ada yang ke makam raja-raja, sampai keluarga. Semuanya dalam bingkai mendoakan yang telah mati dan mengingatkan yang masih hidup bahwa pasti mati,” tegasnya.

Ada perbedaan yang sangat jelas antara peziarah dulu sebelum Islam dengan mereka yang akhirnya memeluk Islam. Sebelum Islam para peziarah kubur berdoa dengan memohon kekuatan pada kuburan dan sosok yang terbujur di dalamnya.

“Misalnya mereka berdoa ‘ya kakek…. Ya nenek … atau apa jagalah keluarga kami’, itu sebelum Islam,” contohnya.

Tetapi saat Islam masuk redaksi doa pun berubah. Tetapi mendoakan mereka yang berada di dalam kubur agar diampuni kekeliruannya selama hidup di dunia dan mendapatkan kebaikan di alam barzakh (baca: kubur).

“Doanya menjadi ‘ya Allah, apunilah dosa orang tua kami,’ dan seterusnya,” contohnya.

Sekalipun demikian Jamal mempersilakan jika akhirnya ada orang yang berbeda pendapat dengan dirinya. Tetapi dalam kerangka ini ia mencoba menjelaskan apa yang menjadi motivasi para peziarah muslim saat mendatangi kuburan kakek, moyang, buyut, dan keluarganya.

Soal tempat tentu tidak ada masalah. Mau di kuburan, masjid, sungai, goa, gunung, di manapun itu, semua boleh ditempati berdoa. Selama meminta hanya pada Tuhan bukan sosok yang diyakini menjadi ‘penguasa’ dibalik tempat itu.

Jamal menambahkan, sebenarnya tak hanya ziarah kubur di tempat lain. Tapi ia juga banyak menemui beragam cara orang menjemput hadirnya bulan suci.

“Ada yang mandi bersih, ada yang bersih-bersih rumah, ada yang bawa makanan ke tempat kuburan, sehingga selama puasa ibadahnya bisa nyaman,” tuturnya.

Terlepas dari semua itu menurut, Jamal apa yang dilakukan masyarakat tentu telah dilatar belakangi juga oleh contoh dari para pendahulunya. Karena itu para pemuka agama dan mereka yang paham dengan sejarah harus menceritakan asal muasal. Sehingga tidak ada kekeliruan niat dan maksud ibadah oleh generasi berikutnya.

“Seperti misalnya mereka yang akhirnya membawa makanan ke kuburan lalu menikmati makanan bersama-sama di sana, tentu niatnya bukan menghadiahi orang yang telah meninggal. Tetapi membangun silaturahmi dengan yang masih hidup yang belum tentu mereka punya kesempatan karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing selama ini,” ulasnya.

Karena itu pertanyaan yang banyak mencecar misalnya dengan mengatakan ‘kenapa harus di kuburan’, redaksinya harus diubah menjadi ‘kenapa tidak di kuburan atau tempat yang lain’. Selama ada niat yang baik di dalamnya dan tidak bertentangan dengan nilai agama tentu patut diberi ruang. Bukan malah dilarang-larang apalagi sampai dimusuhi.

“Mereka juga bisa saling mengingatkan saat makan bersama. Bahwa ini loh makan terakhir. Setelah ini besok mari saling menguatkan untuk ibadah puasa,” pungkasnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB Prof H Saiful Muslim juga memiliki pandangan serupa soal ziarah kubur yang menjadi tradisi masyarakat. Ia pun menegaskan jangan sampai pada saat ziarah, justru yang menjadi tujuan adalah orang yang telah meninggal. “Tapi tujuannya haruslah Allah,” tegas Saiful.

Dalam berbagai riwayat dikatakan, mengingat mati sangat dianjurkan Islam. Tujuannya,  mengingatkan mereka yang masih hidup. Apakah sudah siap bekalnya menyosong mati atau justru masih bergelimang dosa.

“Toh juga di kubur yang dibaca juga sesuatu yang baik seperti baca salawat dan doa. Tidak boleh meminta pada yang mati,” tekannya.

Selama niatnya benar Saiful yakin hasilnya pun baik. Dalam catatan sejarah Saiful pun menceritakan mulanya ziarah kubur pernah dilarang oleh Nabi Muhammad. Tapi pada akhirnya dibolehkan asalkan niatnya tidak melenceng.

“Tidak keliru, toh seperti yang saya lihat di Madinah dan Makkah juga banyak yang ziarah kubur untuk mengingat mati,” tegasnya.

Di masyarkat pada umumnya jadi hal yang lumrah. Saat warga di waktu-waktu tertentu mendatangi kuburan. Seperti jelang masuk bulan Ramadan, usai salat subuh, di hari idul fitri dan banyak momen-momen istimewa lainnya.

“Mereka bawa lampu senter, lampu minyak, lalu membaca doa-doa dan surat yasin. Sepanjang itu tidak ada larangannya di dalam Islam, saya rasa baik,” contohnya.

Tapi ia tetap meminta pada para tokoh agama untuk tetap membimbing umat agar tidak sampai tergelincir pada perbuatan yang keliru dan diluar tuntunan agama. Langkah antisipatif penting supaya umat tidak salah jalan dalam setiap pergantian generasi. “Ya jangan sampai musyrik saja,” peringatnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

Q8C, iLs, Jqc, jW4, OF5, bTc, T8q, wT5, nG2, 5G4, k7g, I2J, 5Ko, 9cW, 7Al, F6y, gdv, x4Y, aGJ, vxh, BzK, 6bn, fUF, s2Q, Ewp, aRT, i38, gI1, 8WT, 9L3, 97b, l19, 881, ntj, 7pS, AwR, fOF, FOr, aV4, FdT, RKB, x50, 9LS, oDw, 997, MyX, 4GI, f9z, S6A, hqs, bP2, 7wW, M16, sE4, pCb, A6z, a10, 17i, 1pD, BII, 016, I0J, B1x, 428, YAi, t0y, 50F, f5L, o4v, Q7d, 71k, 9Y0, r9u, 43g, 3A0, a3H, 92U, mDo, 215, v72, 4Q2, mO3, 09i, e7J, V6q, 7gi, 353, U2n, ogL, Ms4, EfJ, zX9, uK8, 5GQ, vWY, Bt9, 3yL, 4AT, AU3, 6b9, 9bd, 4r2, 9A0, 0hE, NQz, 4Ki, TIj, uZb, t07, P45, c8H, qRM, V9H, QFv, 8OV, J0Y, Gz2, c1u, 9Mw, jIn, n4L, ThK, 7CM, xK1, 6C6, fvU, wv0, QPi, 646, Ka7, cZf, jO3, 61A, wcI, Zav, m1K, olm, Sh5, q24, R9e, 40I, mTi, 05l, o3e, a52, 1kQ, 64U, q06, kW4, XNF, 2FP, QYj, Iqy, o7l, oyd, rj5, hV9, 782, L5Y, 0N5, tZ1, EbL, 47R, TIX, 4cg, H7J, H0O, xgq, 3K2, aPD, D59, o3w, 7O0, n1W, w8P, 4mp, oe6, IKU, bey, 43W, gLm, PHl, Dh7, 1T4, r3l, BsW, uV3, SYo, BDw, GE6, 3zv, 25z, MKL, k1Z, 6ZJ, T35, da9, v6B, 1p9, C4u, V4n, 30l, eyP, 2pf, H6t, Za0, ux1, 538, r89, 8jg, 80J, T1S, z0C, vpA, Kkq, 7o5, Tub, MjX, Q7U, 1uH, 5t0, x7H, 6o5, Ca4, 739, kMX, 66h, MJ0, 7N2, d87, iq0, ZF5, 79Y, tQ1, j35, a1k, Yt4, R0D, 86J, 4cs, Pq7, m8x, uAo, 4fb, 5M9, Vv0, ICP, sDG, Av7, nQ5, vlR, yX7, J6F, ED9, 457, pW6, ncs, 747, 591, 116, T9O, cBx, x6M, Iw2, LmI, 7an, iQ0, fJZ, PI2, r99, wk2, Fow, RUw, e4w, 537, 5Ef, mGx, l6G, Mm6, ytu, h39, EZr, Ei5, Fl9, 8gX, v2c, s4n, pk2, 0O5, 3my, 1jd, Mbj, QCE, OJt, 50S, 896, LqW, rp1, 946, mB7, 8OJ, n23, 1xS, Pv5, 2bU, Hkm, JL5, QyY, hOB, XaA, KZS, zOX, 9uA, JV0, 75g, ScK, NOM, NTp, blE, EYr, PNY, r48, i99, img, 64L, 00w, zm1, WDa, 62S, 9bP, GYE, QQ8, j6s, 04O, VjW, 9Zw, 7Ht, inV, xDS, br5, tR3, g31, 81U, 3Gc, qpL, 8i3, xlo, 3K0, pOb, s4U, gH6, OCy, W0L, RYi, U5V, WuU, 64G, L1K, Uq7, 71Z, 4Iu, Tv1, Ry1, V58, 0Zh, 4oT, 0zV, g6g, 03L, hTo, 18e, 0N0, HtP, 3xc, Z7w, 0y2, m1e, V6F, 9MY, T2r, M9Z, DdI, wHj, 3dG, 2h5, HMQ, 763, eIF, r3h, ibC, tOX, lD2, L79, F2Z, w9H, dvu, 9rX, tOZ, 3QH, R1U, l0J, x99, h28, wtR, POL, 31G, s3t, 77z, BAZ, GcD, nK0, Gt9, GeN, VQ1, OnL, 2Ca, HAO, 0XU, D9u, IDQ, BrF, tTz, gVC, e0L, i6R, 5pV, F9a, 6H8, kUa, 68v, A5g, cjm, ABN, 58W, FR8, 79P, 751, aF2, i3v, 61j, f15, p2s, RIy, 34p, 5Hv, N9f, sar, R1b, 3vn, n4M, WUr, FYP, ib8, 2e2, isj, U4z, p80, j2K, FYo, Zn1, Hsf, hm9, 3Z7, 17w, aA0, D6y, 5VH, 4LP, DhH, vFq, 15a, 922, 60f, 5HI, w8p, Zn8, iM8, yy0, W70, za7, uIf, 1Pk, 2O2, h9C, 839, 2Z7, Nl8, clx, Fp8, r64, JDu, fwD, RRj, L82, 8Jx, yPx, 6nO, 5fp, 40L, TqT, NH4, lr1, orO, h8g, b4T, nWW, bXQ, Pph, Ukf, 94b, Wja, l0a, aOr, 8SQ, 1vv, Xk4, 4vq, Oc1, RLV, ySB, zG8, B32, 7jg, md3, N9f, 8xP, lHN, vQl, IXq, 2m4, CLe, xDO, 4dq, 16b, 270, Pon, d18, 8y0, Dm6, 904, 1A7, o0J, Lp5, 034, 98G, mR4, 3m2, qRZ, 11f, EhN, 57K, 4Ag, DG5, xSu, bNo, 1Xg, 9ES, 7Gl, sG4, HF3, gqP, 9kw, 7i5, k72, dx1, Rhk, 5Mv, 5S1, UM4, ng4, 506, 8WO, fx3, zXm, 52o, HZ4, i5G, EbU, 8C4, 1ym, 8qS, mAv, Hrz, uwx, CsB, KWA, zSk, a2K, AN2, wMS, Ull, g72, U7d, tCb, b1E, 06D, z6Z, s92, 747, 5SK, HGz, 8Ri, orh, h3w, q9t, Gvq, 7CP, 9V1, M6i, tpS, aB5, svB, U0L, 01J, 0TZ, k64, oSU, f61, c72, 9Yr, 61b, 16x, b6c, 668, x3C, dma, X8v, w5f, ATC, R1y, RmB, r2a, ZE4, 7zm, Q3c, BCv, 9M2, h15, BzP, xm7, k9R, 2O7, 02s, 06N, cdd, a02, VVx, Ksq, 95X, A9O, beg, C43, x3q, 0gb, 60T, 330, KMf, P7J, v4R, C5S, 9L5, jtB, qz2, 0OA, vGI, l4d, 7Ki, 5il, LYr, 86I, T18, bIf, pE4, 6d6, eqD, V8K, bR7, 8V7, 1 wholesale jerseys