Ketik disini

Headline Metropolis

Tenang, NTB Sangat Kondusif

Bagikan

MATARAM-Teror yang menyebabkan genting di Surabaya tidak perlu membuat warga NTB panik. Bumi Gora dipastikan sangat kondusif. Sehingga warga Bumi Seribu Masjid pun diimbau tetap tenang. Kendati kewaspadaan tentu tetap harus dikedepankan.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) NTB H Tarwo Koesnarno usai menggelar pertemuan dengan para tokoh masyarakat di Kantor Bakesbangpol NTB, kemarin (15/5). Indikator NTB dalam kondisi aman adalah tidak ada gangguan keamanan seperti daerah lain. Terhadap kemungkinan bangkitnya sel-sel terorisme pascateror Surabaya, menurutnya semua pihak saat ini berupaya menekan agar jaringan tersebut tidak bangkit kembali.

”Sampai hari ini belum ada (bangkit) meski pun ada aktivis garis keras kita yang ada di luar kota, tetapi belum ada indikasi keterkaitannya,” ujar Tarwo.

Ia menyebutkan, sel-sel tidur jaringan terorisme tersebut sebagian besar ada di Pulau Sumbawa. Namun jumlahnya tidak banyak. Dari kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) saja sekitar 60 orang. Belum termasuk kelompok lainnya.

”Semua kelompok yang tidak sejalan dengan ideologi Pancasila patut diwaspadai,” imbuhnya.

Meski demikian, ia meminta warga tidak perlu terlalu khawatir, sebab situasi di NTB relatif baik. Bahkan indeks kerawanan NTB sudah berubah dari zona merah menjadi zona hijau, dan berada di urutan 18 secara nasional. ”Sudah berubah dari daerah rawan menjadi tidak rawan,” katanya.

Sementara itu, Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat NTB HM Natsir mengatakan, hasil kunjungannya ke 10 kabupaten/kota dalam rangka cegah dini radikalisme, ia menilai di NTB masih ada bibit-bibit radikalisme yang berafiliasi pada kelompok tertentu yang harus diwaspadai. Tapi pengaruhnya terhadap masyarakat tidak terlalu besar. Sebab, warga sudah mulai sadar dan bisa memilih kelompok yang baik dan tidak.

”Kelompok ini semakin hari semakin kecil tetapi justru kita harus meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.

Biasanya kelompok kecil tersebut menggurita untuk mencari pendukung baru. Sehingga pencerahan terhadap generasi muda harus terus dilakukan. Sebab paham radikal dapat mengganggu keamanan dan keutuhan negara.

Saat berkunjung di Kabupaten Dompu beberapa waktu lalu, ada beberapa tokoh yang tidak berdiri saat lagu Indonesia raya dinyanyikan. Tapi mereka tetap menyatakan dirinya siap membela negara. Mereka itu bukan kelompok radikal yang membunuh orang, mereka hanya radikal dalam memahami ajaran agama. ”Bukan radikal yang membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa,” ungkapnya.

Mereka masih mau menerima masukan tentang wawasan kebangsaan negara NKRI. Radikalisme yang berbahaya itu adalah mereka yang sudah tidak mau menerima masukan atau pendapat orang lain di luar kelompoknya. Tapi kelompok radikal di Dompu itu masih punya kebesaran hati untuk menerima masukan tentang kebangsaan.

Ia menyebutkan, saat ini ada pergeseran lokasi pertemuan kelompok tersebut dari wilayah Bima ke Kabupaten Dompu. Dalam artinya mereka hanya pindah lokasi melakukan pertemuan dan pengajian. Sebelumnya masing-masing melakukan pertemuan di daerah masing-masing. Tapi ia memastikan kelompok-kelompok garis keras itu mulai berkurang di NTB.

”Mereka melemah, anggotanya berkurang dan berkumpul dengan warga yang lain, ada pembauran,” katanya.

Sementara kemarin, kecaman terhadap aksi terorisme di Surabaya terus mengalir. Termasuk datang dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda dan tokoh adat mengeluarkan pernyataan sikap mengutuk terorisme. Pernyataan sikap itu dibaca bersama-sama.

 Bandara Normal

Sementara itu, teror bom di Surabaya menjadikan NTB berstatus Siaga I. Namun begitu, status tersebut tak menyebabkan pengamanan mencolok di Lombok International Airport (LIA). Pengamanan di bandara kebanggaan NTB tersebut normal seperti biasa.

Di pintu masuk bandara, tak ada penambahan personel. Berbeda seperti tahun 2015-2016 lalu di mana di areal pintu masuk tersebut dijaga pasukan TNI bersenjata lengkap.

Pantauan Lombok Post kemarin, penjagaan hanya dilakukan di pintu masuk areal terminal penumpang. Yang diperkenankan masuk ke sana hanya penumpang saja dan para petugas bandara yang punya ID khusus.

Di depan pintu masuk areal terminal tersebut, dijaga dua petugas aviation security dan dua orang personel kepolisian. Di sana juga ikut bertugas empat personel dari Kodim Lombok Tengah.

Sementara di pintu masuk check in, penjagaan juga seperti biasa. Begitu pula di lantai dua dan di lantai tiga terminal. Para penumpang akan melewati pemeriksaan normal sebagaimana hari-hari biasa. Masing-masing dijaga 4-6 orang petugas Avsec. Tidak ada personel kepolisian, apalagi TNI.

“Karena kita percaya, Lombok aman,” kata General Manager PT Angkasa Pura I LIA I Gusti Ngurah Ardita LIA pada Lombok Post, kemarin (15/4).

Meski begitu, pihaknya telah menyepakati pengamanan bandara bersifat kondisional dan terpadu. Aksi terorisme di Surabaya dan Jakarta pun, diakui Ardita tidak berpengaruh pada lalu lintas penerbangan di LIA. Tetap berjalan seperti biasa, antara 100-110 kali penerbangan per hari. Begitu pula, penumpang, baik domestik maupun internasional.

“Intinya, pengamanan yang kami jalankan sesuai standar saja. Kalau pun ada pemeriksaan, itu hal biasa,” ujar orang nomor satu di jajaran PT AP I LIA tersebut.

Disinggung bagaimana dampak travel advice dari Singapura. Ardita menjelaskan, telah berkoordinasi dan berkomunikasi dengan maskapai Silk Air, yang merupakan maskapai yang melayani rute Lombok-Singapura. Kesimpulan sementara, memang ada peningkatan pemeriksaan pada penumpang di sana. Namun, tidak ada yang sampai membatalkan penerbangan.

Secara umum, kata Ardita, kondisi penerbangan dan pelayanan penerbangan tidak ada gangguan sedikit pun.

Sementara itu Kapolres Lombok Tengah AKBP Kholilur Rochman mengungkapkan, pihaknya telah menambah 10 personel di bandara. Mereka kata dia disiagakan di Pospol LIA. Jika pihak bandara membutuhkan pengamanan ketat, kata Kholilur maka tinggal menggerakkan personel yang dimaksud.

“Intinya, ada atau tidak adanya terorisme kita waspada,” kata Kholilur. (ili/dss/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka