Ketik disini

Headline Kriminal

Awas, Penjahat Kambuhan Jelang Hari Raya!

Bagikan

Sucinya Bulan Ramadan, tidak membuat pelaku kriminal menghentikan aksi kejahatannya. Sebaliknya, momen Ramadan, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri, dimanfaatkan pelaku untuk semakin ‘giat’ beraksi.

== == == == == ==

Jumat sore (1/6), mobil Tim Resmob Satreskrim Polres Mataram menghentikan lajunya di depan Unit Pidum Reskrim. Dari dalam mobil ke luar sejumlah pria berbadan tegap, yang merupakan anggota Buser Polres Mataram.

Di antara mereka, nampak dua pria dengan kondisi berantakan. Baju dan celana keduanya terlihat robek di beberapa sisi. Bukan itu saja, salah satu dari kedua pria ini, tangan kirinya terbungkus perban. Nampak berkas darah yang menembus kain pembalut luka di sisi atas. Ini jelas menandakan kalau luka itu masih segar.

Mereka mendapat pengawalan ketat polisi berpakaian preman menuju ruangan pemeriksaan. ”Baru habis jambret ini,” kata salah seorang petugas polisi merujuk dua pria yang mereka bawa.

Setelah diinterogasi polisi, kedua pria ini mengaku bernama Nur, 39 tahun dan Sap, 18 tahun. Nama pertama merupakan residivis yang baru tiga bulan ke luar dari penjara. Sementara Sap, mengaku baru pertama kali melakukan tindak pidana.

Sebelum tertangkap polisi, keduanya telah menjambret seorang perempuan, di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Sayang-sayang, Kota Mataram, Jumat lalu (1/6). Mereka merampas tas korban yang bernama Baiq Frida, sekitar pukul 15.00 Wita.

Meski jalanan cukup ramai pelaku rupanya tak gentar. Mereka mengejar lalu memepet korban yang  yang melaju dari arah timur ke barat. Secepat kilat, mereka menarik dan memotong tali tas korban menggunakan pisau. Sadar menjadi korban penjabretan, Farida sempat melakukan pengejaran, tetapi, laju motor pelaku lebih cepat.

Keberuntungan masih menaungi korban. Ketika aksi penjambretan, tim Resmob Satreskrim Polres Mataram tengah melakukan patroli di sekitar TKP. Mereka yang mendengar teriakan dari korban.

Kejaran polisi rupanya membuat pelaku panik. Laju kendaraan yang kencang, tak mampu dikendalikan pelaku. Mereka malah menabrak taksi yang berada tepat di depannya. Dari sana,  Nur mendapat luka di tangan kirinya.

Menurut keterangan polisi, aksi jambret di Jalan Ahmad Yani bukan kali pertama. Ini juga ibenarkan Nur saat dikonfirmasi Lombok Post. ”Sudah tiga kali. Yang terakhir itu sebelum ditangkap,” aku dia.

Nur mengatakan, dia pertama kali menjambret di wilayah Gerimax, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Sementara penjambretan yang kedua dan ketiga dilakukan di Selagalas. ”Yang di Gerimax itu Kamis, sehari sebelum ketangkap,” ujarnya.

Aksi kejahatan yang dilakukan dalam rentang waktu berdekatan, diakui pelaku untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. ”Pakai belanja, buat lebaran nanti,” ungkap Nursah.

Untuk melancarkan aksinya, pelaku mengajak Sa. Ketika beraksi, pelaku membagi peran. Nur bertugas sebagai joki, sementara Sap sebagai pemetik tas korban. Dalam aksinya, kedua pelaku membekali diri dengan dua senjata tajam berupa pisau.

Kegunaan pisau, kata Nursah, bukan untuk mengancam pelaku. Melainkan memotong tali tas agar lebih mudah ketika ditarik.

”Saya ajak dia (Sapari, Red). Iseng-iseng aja, ajak dia ke luar. Ayo ke luar,” ucap pelaku.

Nursah tahu jika Sapi tidak ada pengalaman berbuat tindak pidana. Tetapi, dia juga mengetahui kalau Nur butuh uang, sama seperti dirinya. ”Saya gak ajarin (jambret). Cuma saya ajak aja, terus dia mau,” terangnya.

Dari tiga aksi jambretnya, kedua pelaku mendapatkan uang sekitar 1,5 juta. Tetapi, mereka baru menikmati Rp 300 ribu. Sedangkan sisanya, berhasil diamankan kepolisian dan kini menjadi barang bukti kejahatan mereka.

”Cuma Rp 300 ribu. Itu saya bagi, Rp 100 ribu buat dia (Sapi, Red),” katanya.

 Sementara itu, Sapi membenarkan ucapan Nur. Dia mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. Karena itu, mau saja ketika diajak Nur untuk menjambret.

”Tumben saya ikut (jambret). Gak punya kerjaan, sudah cari, tapi gak dapat,” aku dia.

Kapolres Mataram AKBP Muhammad mengatakan, modus seperti ini memang kerap ditemui jajarannya. Penjahat kambuhan merekrut anak baru untuk turut terlibat dalam aksi kejahatan mereka.

Keterlibatan penjahat baru, bukan karena kesadaran mereka. Melainkan ada peran dari penjahat kawakan, yang mengajarkan dan merekrut pemain baru, yang tak jarang merupakan anak di bawah umur.

”Karena kepolosan dan ketidaktahuan permasalahan hukum, mereka akhirnya dimanfaatkan pelaku-pelaku lain yang merupakan residivis,” beber dia.

Mengenai meningkatnya aksi kriminalitasi menjelang hari raya, hampir merata terjadi di setiap daerah. Biasanya pelaku menyasar pusat keramaian dan perumahan, serta jalanan sepi.

”Kriminalitas meningkat, pencurian, dan perampokan jadi jalan cepat untuk mendapatkan uang tunai,” katanya via pesan singkat.

Tradisi lebaran bagi sebagian besar masyarakat Indonesia adalah mengeluarkan uang lebih banyak dari biasanya. Bagi sebagian orang, terutama yang tidak bekerja, akan sulit menjalankan tradisi ini. Mereka yang seperti itu dan mempunyai pikiran pendek, akan memilih jalan pintas. Yakni dengan melakukan tindakan kriminal.(wahidi akbar sirinawa/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka