Ketik disini

Headline Metropolis

Titip Rindu Sebelum Mudik

Bagikan

Waktu lebaran tinggal menghitung hari. Orang-orang bergelombang berbondong-bondong kembali ke kampung halaman. Segenggam cerita kesuksesan di dalam dada dan rezeki siap dibagi ke handai tulan. Tapi, sisakan juga sedikit rindu pada bumi rantauan. Agar kaki tak berat kembali ke tanah yang telah ditakdirkan!

———————————-

USMAN bin Safrudin memeluk erat sahabatnya Munawar Fahmi. Dua mahasiswa yang memilih jalan hidup sebagai aktivis itu berusaha meredam genderang rindu sebelum bus yang akan membawa Usman mengaspal menyusuri jalanan beraspal nan panjang.

Mereka bakal berpisah dalam waktu yang lama. Setelah hanya sempat bertemu beberapa waktu kemarin. Melanjutkan romansa serunya diskusi, adu argumentasi, mengeritik, dan merenda ke mana arah bangsa ini sebaiknya di bawa.

“Kami memang sudah berkawan lama,” tutur Fahmi di terminal Mandalika.

Sekalipun keduanya sudah lama berkawan. Sejak Fahmi dan Usman masih menempuh pendidikan S1 di UIN Mataram. Mereka akhirnya berpisah ketika akhirnya memutuskan untuk menentukan takdir pendidikan masing-masing.

“Dia kuliah S2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kami sempat bertemu lagi saat ia bercerita akan Mudik ke Bima. Lalu saya jemput ia di bandara,” ujarnya.

Pertemuan singkat itu dimanfaatkan keduanya saling berbagi cerita dan pengalaman sejak berpisah almamater. Fahmi sendiri tetap memutuskan melanjutkan kuliahnya di UIN Mataram.

Namun tidak hanya cerita soal almamater yang berbeda. Dua sahabat itu memutuskan untuk merintis karir aktivisnya di organisasi yang berbeda. “Saya ikut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan dia (Usman) ikut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI),” tuturnya.

Sudah makfum. Dua organisasi ini baik PMII dan HMI kerap berbeda pandangan dan dialektika. Sekalipun semua sadar dalam kerangka berpikir ke-Indonesiaan, dua organisasi ini sedang mengamalkan substantsi dari perintah agama: fastabiqul khairot. Berlomba-lomba dalam ide yang baik membangun Indonesia yang bermartabat.

Sekalipun rivalitas PMII dan HMI itu sangat deras dan kencang. Tapi tak pernah menganggu persahabatan Fahmi dan Usman. Terbukti momen mudik waktu yang sangat istimewa bagi keduanya untuk berbagi rindu. Lalu menyambung tali silaturahmi yang mulai lekang dikarati zaman.

“Iya kalau tidak ada mudik mungkin kami tidak bisa bertemu,” timpal Usman bahagia.

Ia bersyukur sekalipun sudah lama tidak bersua, Fahmi tetap sahabat karibnya yang bisa ia banggakan. Fahmi juga yang menjemput dirinya di Bandara Internasional Lombok (BIL) lalu mereka bisa bermalam di kontrakan Fahmi untuk beberapa waktu. Sampai akhirnya Usman harus undur diri karena waktu yang terus menggelinding.

“Ya saya senang bisa menyempatkan diri bertemu dengan sahabat hebat saya ini (Fahmi). Tapi keluarga di rumah juga menunggu. Saya hanya punya waktu sebentar sekitar dua minggu di rumah dan harus kembali lagi ke rantauan,” tutur Usman.

Terminal Mandalika berkali-kali jadi persimpangan terakhir mereka sampai akhirnya berpisah dalam waktu lama. Dan kemarin mereka kembali mengulangi romantisme persahabatan di terminal itu.

Kisah Usman dan Fahmi hanya potret cerita, satu dari banyak kisah para pemudik di terminal Mandalika. Terminal yang sudah semakin tua dan mulai dilupakan. Persaingan bisnis transportasi telah menggerus angkutan darat hingga ke titik nadir.

“Sekarang dengan dulu memang beda jauh. Dulu di sini sudah ramai dan padat kalau H-4 seperti saat ini,” timpal Fahmi.

Suasanannya jauh terlihat lengang. Sekalipun hilir mudiknya beberapa orang di terminal. Baik itu oleh orang-orang yang pulang kampung atau sopir AKAP dan AKDP yang tidak henti-hentinya menawarkan jasa transportasi terlihat jauh lebih ramai. Jika dibanding dalam beberapa tahun terakhir belakangan ini.

“Harga tiketnya tidak jauh beda. Ya kasihan juga angkutan daratnya, orang-orang pasti memilih pakai pesawat daripada naik bus malam,” ujarnya.

Tapi tentu menurut Fahmi yang jauh lebih memprihatinkan mereka yang mengalami phobia ketinggian. Hanya karena persaingan transportasi udara dan darat yang mengakibatkan usaha angkutan darat kolaps, mereka yang tidak berani naik udara harus mendapati sulitnya transportasi darat saat ini.

“Tidak semua orang siap naik udara. Mereka yang naik darat karena alasan ingin menikmati perjalanan juga ada loh yang karena takut ketinggian,” terangnya.

Ia sendiri berharap pemerintah bisa lebih bijak lagi mengatur bisnis transportasi. Ruang kompetisi yang dibuka dengan perang tarif yang terlalu lebar terbukti bukan solusi dalam menangani perbaikan transportasi.

“Malah telah memicu dan mendorong terjadinya banyak pengangguran,” sesal Usman yang juga Presiden Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ia pun berharap pemerintah lebih memperhatikan lagi perbaikan sarana terminal. Sehingga ke depan giroh masyarakat memadati terminal-terminal kembali meningkat. Terlepas dari sarana dan prasarana terminal yang masih jauh dari harapan, Usman menyebut mudik sebagai tradisi yang langka dan nyaris tidak pernah ada di negara manapun.

“Mudik tradisi yang sangat bagus. Di mana kota-kota metropolitan saat berisik dan krodit, kini berubah lengang dan tenang. Sedangkan di kampung-kampung perputaran uang meningkat, senyum dari silaturahmi yang dibangun pun mengembang di mana-mana,” nilai Mahsiswa asal Bima ini.

Pemerintah menurutnya hanya perlu konsisten dalam kontribusinya membangun fasilitas umum. Sehingga tradisi mudik ini bisa lebih nyaman dan asyik. Dan rindu-rindu para perantau yang selama ini terbendung di kota, bisa teralirkan hingga pelosok-pelosok desa.

Kepala Terminal Tipe A Mandalika Kementerian Perhubungan RI Muhammad Junaidi mengatakan, jika arus mudik H-4 kemarin relatif lengang. “Puncaknya justru di H-6 dan H-5 kemarin,” kata Junaidi.

Pada dua hari kemarin Sabtu dan Minggu terminal Mandalika disesaki sekitar 2085 pemudik ke berbagai arah. Secara umum ke pulau Sumbawa dan Pulau Bali dan Jawa. Jumlah Angkutan Kota Antar Provinsi (AKAP) berkisar 11-12 unit yang beroperasi.

Sedangkan Angkutan Kota Dalam Provinsi (AKDP) tercatat sebanyak 64 Armada di H-6 kemarin. Lalu pada H-5 turun menjadi H-55. “Saat ini (H-4) belum bisa kita data. Karena proses angkut tutun penumpang masih berjalan. Tapi perkiraan kami ada ratusan penumpang yang naik turun hari ini di terminal ini,” jelasnya.

Sekalipun terlihat lengang, pria yang karib disapa Ahmad ini mengaku justru ada peningkatan penumpang melalui jalur darat tahun ini. Di tahun sebelumnya kisaran penumpang tidak mampu menembus dua ribu. “Hanya sekitar seribu lebih,” tuturnya.

Tapi lonjakan penumpang dalam dua hari kemarin sudah mampu melebihi dua ribu penumpang. Ahmad menilai adanya peningkatan ini tidak lepas dari kampanye terminal yang bersih, nyaman, dan bebas preman yang digalakan pihaknya selama ini.

“Untuk penanganan preman, kemarin kami sudah jalin kerja sama dengan Polda. Semua orang yang tidak pakai seragam beroperasi di terminal, langsung diangkut aparat,” tuturnya.

Cara itu ternyata efektif membuat kawasan terminal akhirnya bisa bebas dari aksi premanisme dan penipuan. Para penjual tiket sekalipun punya identitas, wajib menggunakan seragam. Kalau tidak sekalipun resmi pasti diangkut ke Polda.

“Makanya sekarang semua jauh lebih tertib. Semua pakai seragam,” ujarnya sembari menunjuk ke deretan penjual karcis yang memakai seragam.

“Ombudsman NTB juga sudah turun ikut memantau pelayanan administrasi kami di sini. Begitu juga BNN. Mereka ikut memastikan keselamatan penumpang melalui pengecekan sopir bus,” tuturnya.

Terakhir ia dan Dinas Perhubungan Provinsi juga sudah melalukan operasi pengecekan kelaikan jalan kendaraan. Ia berharap dengan adanya maksimalisasi dalam pengawasan transporatasi darat dapat mengembalikan kepercayaan publik.

“Layanan transportasi darat saat ini sudah lebih baik, lebih nyaman, dan lebih aman,” tandasnya. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka

 wholesale jerseys