Ketik disini

Tanjung

Cegah Pernikahan Dini lewat Film Pendek

Bagikan

TANJUNG-Tingginya angka pernikahan anak usia dini di Lombok Utara sampai saat ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah kabupaten. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP2KBPMD) Lombok Utara H Kholidi mengatakan, usaha pencegahan khususnya berfokus pada remaja. Untuk itu, DP2KBPMD bekerjasama dengan Pratama Picture membuat film pendek berjudul Masih Ada Mimpi yang bercerita tentang kehidupan sosial warga Lombok Utara.

“Jadi sebelum masuk ke materi sosialisasi, nantinya film ini bisa membantu pemahaman masyarakat. Apalagi ini kan pemainnya orang lokal, jadi biasanya warga akan lebih tertarik menonton sesamanya,” terang Kholidi.

Memilih film sebagai sarana sosialisasi merupakan langkah baru bagi DP2KBPMD Lombok Utara. Kholidi mengatakan, materi film ini bertujuan untuk menyebarluaskan pemahaman tentang dampak pernikahan di usia dini bagi remaja di Lombok Utara. Oleh karena itu, sarana film dirasa baik untuk memberikan penyadaran pada masyarakat khususnya remaja. “Sekarang memang zamannya mereka menyukai film,” kata Kholidi.

Kholidi menjelaskan, tantangan dalam mencegah pernikahan di usia dini datang juga dari persoalan adat istiadat. Ketika sepasang remaja masih bersama pada waktu tertentu, warga mengharuskan terjadinya pernikahan. Terlepas dari apakah mereka sudah cukup usia atau tidak.

Menurut Kholidi, dalam kondisi seperti itu, belum tentu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun bukannya mencari tahu kebenaran, malah langsung berpikir bahwa pulang malam masih menjadi hal yang tabu.

“Jadi di sini bagaimana kita bisa memadukan adat dengan pemahaman baru mengenai usia pernikahan. Masa iya kita harus memaksa anak untuk menikah, sementara kenyataannya tidak terjadi apa-apa,” terang Kholidi.

Sutradara film Masih Ada Mimpi Imam Safwan mengatakan, dalam film yang kabarnya telah selesai digarap tersebut terdapat pesan khusus yang menyentil soal pola pikir masyarakat. Salah satu di antaranya adalah mengenai kondisi di mana remaja sering putus harapan ketika dilanda sebuah persoalan. Khususnya persoalan dalam rumah tangga.

Imam menjelaskan film tersebut menceritakan tentang sebuah keluarga yang memiliki anak banyak atau tidak menjalankan program keluarga berencana (KB). Karena itulah muncul berbagai persoalan. Mulai dari persoalan ekonomi sampai pernikahan usia dini.

“Di sana ada salah satu adegan ketika si tokoh utama dijebak untuk segera menikah,” kata Imam.

Imam menegaskan, bahwa apa yang disuguhkan dalam film tersebut merupakan hasil riset atau pengamatan tentang kondisi kehidupan sosial masyarakat Lombok Utara. Film yang saat ini sedang dalam proses editing tersebut diperkirakan berdurasi 30 sampai 45 menit.

Adapun mengenai ending cerita, Imam mengaku enggan menjelaskannya secara rinci. “Yang jelas kita menyuguhkan yang sesuai dengan kesukaan penonton saat ini ya. Happy ending,” katanya.

Selain ingin mencegah pernikahan di usia dini, Imam mengatakan film ini juga pada intinya ingin mengubah pola pikir masyarakat mengenai apa itu program KB. Jadi KB dalam hal ini bukan hanya sekadar pil, alat kontrasepsi, atau suntik dan berbagai jenis pencegahan untuk hamil lainnya. Di mana hal tersebut seolah yang membebankan pihak perempuan.

“Jadi program KB itu bukan hanya setelah pernikahan terjadi, tapi  bagaimana masyarakat bisa merencanakan kehidupan keluarganya. Jauh sebelum menikah,” tegas Imam. (tih/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka