Ketik disini

Giri Menang

Kapten Husein Habiskan Setengah Usia di Laut

Bagikan

Tak pernah ia sangka bahwa dirinya akan menghabiskan puluhan tahun usianya di tengah laut. Kapten kapal asal Karang Jagkong Mataram Sahariah Husein sudah berkawan akrab dengan luasnya hamparan laut Indonesia.

 

HAMDANI WATHONI, Giri Menang

Menggunakan setelan kaos hitam, ia terlihat santai. Tubuhnya sudah tidak muda lagi. Maklum usianya sudah 71 tahun. Tapi urusan pengalaman, jangan ditanya. Orang Pelabuhan Lembar biasa menyapanya Kapten Husein. Dialah nakhoda kapal yang puluhan tahun menyeberangkan ribuan bahkan jutaan penumpang.

“Saya sudah menjadi pelaut sejak tahun 1982,” tuturnya kepada Lombok Post ditemui di ruang kemudi.

Tak ada latar belakang orang tuanya atau keluarganya sebagai pelaut. Tapi keinginan menjadi pelaut justru muncul dari dalam dirinya. Sejak ia masih muda. Ia sudah menimba ilmu tentang pelayaran di Sekolah Pelayaran Menengah. “Ini merupakan cita-cita saya ketika muda, ingin bekerja di kapal,” akunya.

Ini pula yang menbuatnya rela merintis karir di pelayaran mulai dari karir paling bawah. Yang biasa disebut dalam istilah pelaut sebagai level ‘pedagang kaki lima’. Dimana, ia mulai bekerja di kapal sebagai mualim pelayanan terbatas. Dilanjutkan dengan mualim pelayan internal hingga mualim pelayaran besar.

Bertahun-tahun ia habiskan menjadi pekerja kelas bawah di tengah laut. Di atas kapal. Hingga ia mengikuti program pemerintah yang memberikan kesempatan untuk pendidikan bagi pelaut nonakademik. Ia mengikuti pendidikan pelaut program khusus pemerintah di bawah satu tahun.

“Itu khusus bagi mereka yang sudah pengalaman jadi juru mudi atau klasi untuk mengambil pendidikan ini sebagai Perwira,” aku pria kelahiran tahun 1947 tersebut.

Selesai mengikuti pendidikan, karirnya sebagai pelaut perlahan menanjak. Ia terus menambah wawasan dan pengalamannya. Melaut mengikuti sejumlah pelayaran kapal di berbagai perairan. Mulai dari perairan Pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera, Maluku, NTT dan NTB. “Cuma perairan Irian yang belum pernah. Saya hanya di dalam negeri tidak pernah ke luar,” akunya.

Perlahan namun pasti, ia pun dipercaya menjadi nakhoda yang mengendalikan kapal penyeberangan. Berbulan-bulan ia habiskan waktunya di dalam kapal tidak menyentuh daratan. Ini yang sempat membuatnya kesulitan mencari pasangan. Namun setelah berhasil meyakinkan seorang perempuan pujaan hatinya, ia pun akhirnya menjalin hubungan rumah tangga.

“Cuma saya jelaskan ke istri, risikonya kami sebagai pelaut ini harus menghabiskan beberapa bulan waktu kami di laut,” tuturnya.

Tiga bulan di laut, dua minggu di daratan. Akibatnya, istrinya pun harus punya kesabaran ekstra. “Tapi Alhamdulillah kami di Kapal Ferry ini dapat cuti regular. Dua bulan di laut, dua minggu di rumah,” sambungnya tersenyum.

Waktu cuti dua minggu inilah yang dimanfaatkan sebaik-baiknya bersama keluarga. Sehingga ia berhasil membina hubungan rumah tangga yang baik dengan istri yang sudah memberikannya tiga anak dengan empat cucu. ”Alhamdulillah yang paling besar sudah kelas enam SD,” tuturnya.

Dengan pekerjaannya ini, kini ia selalu memanfaatkan hari libur untuk cucunya. Karena di tengah usianya yang tak muda, ia masih tetap kuat bekerja. Mengingat tidak ada batas usia pensiun sebagai pelaut. Selama fisik masih menunjang, mata, telinga masih bagus dan pelaut merasa mampu, mereka dipersilakan.

Selama melaut, ia menuturkan pernah punya pengalaman kurang bagus. Tepatnya ketika berada di perairan Surabaya. “Ketika bersandar di Pelabuhan saya nabrak kerangka kapal di Surabaya mengakibatkan lambung kapal bocor. Hampir tenggelam. Tapi nggak sampai tenggelam,” kenangnya tersenyum.

Itu disebutnya pengalaman yang cukup bikin was-was. Sementara untuk terjangan ombak di tengah laut, itu dianggapnya biasa. “Diterjang ombak dua meter itu seperti lalapan. Sudah hal biasa,” cetusnya.

Namun degan usia yang sudah tidak muda, Kapten Husein berencana banting profesi sebagai peternak ayam petelur. Sayangnya, ia saat ini masih belum punya modal. Karena dari informasi yang ia serap, biaya untuk menjadi peternak ayam petelur menghabiskan sekitar Rp 300 juta. “Karena penghasilan sebagai pelaut Insya Allah cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya keluarga,” tandasnya. (bersambung/r5) 

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka