Ketik disini

Metropolis

Anda Sineas Pemula, Ayo Berkarya!

Bagikan

MATARAM-Siapa mengira Lalu Mohammad Zohri jadi juara dunia? Sekalipun dari gizi ia jauh di bawah para pesaingnya. Tapi Zohri terus berlari lalu menghentak dunia. Anak  yang terbiasa lelap di balik pagar bedek dilapisi koran itu, membangunkan daerah ini. Kita ternyata bisa. Merajai dunia!

Oke. Zohri hanya kalimat pembuka. Gerbang mimpi yang meyakinkan generasi daerah. Bahwa kita bisa berprestasi. Di bidang apapun. Olahraga, musik, usaha, hingga film.

“Orang Amerika boleh bangga dengan Hollywood-nya. Tapi suatu saat kita harus bisa bersaing dengan mereka,” kata salah seorang sineas muda, Rodiyan Rizki Pratama.

Pria humoris ini memang sineas sukses di daerah. Dua karya komedi situasi atau sitcom-nya sukses menghibur. Ohh Meno Jarin (OMJ) dan Jelo Sabtu. Juga beberapa karya film pendek dan panjang, kerja sama dengan pemerintah di bawah lebel Pratama Picture.

Rasanya itu cukup jadi modal ia bisa meloncat lagi ke panggung sineas nasional. Hingga internasional. “Ya memang. Harus berani bermimpi. Dan gak rugi. Kalau misalnya gagal kan gak tekor. Kan cuma mimpi,” kelakarnya.

Suksesnya ia di panggung sineas ternyata tidak lepas dari beberapa resep. Kata Rizki ada tiga hal penting yang bisa membuat ia bisa sesukses saat ini. Ia juga yakin tiga hal ini akan membuat ia bisa lebih sukses lagi nanti.

“Pertama kerjakan dengan rasa,” bisiknya.

Soal kemampuan membuat film dan mengatur cerita bagi Rizki tidak terlalu penting. Pada akhirnya kemampuan itu akan tajam dengan sendirinya. Jika rasa sudah lebih dahulu muncul ketika sedang menggarap film.

“Kalau rasa film sudah ada dengan sendirinya kita terdorong belajar ini-itu untuk membuat film kita bisa jadi lebih bagus,” ulasnya.

Ketika seseorang sudah mencintai film yang akan digarap, dengan sendirinya ia tergerak. Belajar dan melengkapi filmnya dengan berbagai hal yang membuat tampilannya keren.

“Terdorong  belajar membuat efek, membuat bagaimana menghasilkan plot dari beberapa scene gambar, bagaimana cara mengambil angel yang bagus, dan lain-lain,” contohnya.

Berbeda jika memulai dengan teori dulu. Maka cendrung seseorang mengerjakan videonya dengan terpaksa. Karena kepalanya sudah jenuh oleh teori. Praktikpun hasilnya jadi buruk.

“Lalu lakukan dengan bangga,” tuturnya.

Bagi Rizki bangga adalah gerbang motivasi berikutnya. Supaya film itu tidak jadi film yang pertama dan terakhir. Jika hati sudah bangga dengan karya sendiri, dicecar apapun oleh orang lain tidak berpengaruh. Tapi ia mengingatkan bangga tidak boleh berlebihan.

 “Nanti malah jatuhnya sombong dan enggan belajar,”  peringatnya.

Dan yang terakhir. Ini paling berat. Bahkan sering diabaikan para sineas pemula. Karena dianggap tidak ada kaitannya. Apa itu?

“Mengapresiasi karya orang lain,” ujarnya.

Seorang sineas yang baru buat satu-dua film, kerap dilanda cobaan. Ia cendrung membanggakan karyanya secara berlebihan. Lalu meremehkan karya orang lain. “Kalau ada karya orang lain yang baru belajar atau baru buat film kerap dicibir dan direndahkan,” tuturnya.

Padahal itu dapat berakibat buruk bagi psikologi dan motivasi kerja sineas itu. Ia mengingatkan sebiasa apapun karya orang, karya itu tetap ada kelebihannya. Entah dari strktur cerita, gambar, cara pengambilan video dan lain-lain.

“Karena itu mencibir karya pemula, sama saja dengan mencibir kelebihan yang ada di dalam karya itu. Dan itu bisa berati anda sudah membunuh masa depan anda sendiri,” tandas jebolan Teater Putih Unram ini. (zad/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka