Ketik disini

Metropolis

Ketinggian Gelombang Capai Enam Meter

Bagikan

MATARAM-Cuaca ekstrem masih mengancam warga di pesisir pantai Ampenan, Kota Mataram. Mereka diminta tetap waspada setelah terjadinya banjir rob, beberapa hari lalu.

Pelaksana Harian BMKG BIL Suparno menegaskan, potensi terjadinya banjir rob susulan sangat besar. Karena gelombang tinggi air laut masih akan terjadi setidaknya sampai 29 Juli 2018. “Hal ini karena ada peningkatan kecepatan angin timuran hingga 37 km/jam,” kata Suparno.

Beberapa wilayah perairan Indonesia akan menerima dampaknya. Tinggi gelombang mencapai 4-6 meter di Selat Bali dan Lombok-Alas Bagian Selatan. Ketinggian gelombang ini tidak hanya akan memicu kembali banjir rob saat air pasang. Tapi juga dapat mengancam keselamatan jiwa para nelayan. “Terutama kapal nelayan dan perahu-perahu nelayan ukuran kecil,” jelasnya.

Ia pun menyarankan sebaiknya nelayan tidak memaksakan diri melaut. Serta mayarakat pesisir diimbau tetap waspada dan siaga. Dengan segala kemungkinan naiknya gelombang besar hingga darat. “Masyarakat diminta tetap memperhatikan laporan kondisi cuaca,” sarannya.

Kondisi cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan praktis melumpuhkan aktivitas para nelayan. Terutama di sepanjang pantai Ampenan dan Sekarbela. Beberapa nelayan lebih memilih menaikan sampan ke jalan-jalan.

“Ada yang taruh di tengah laut. Di sana gelombang tidak merusak sampan,” kata Buhari, salah satu nelayan Kampung Bugis, Mataram.

Beda jika sampan diparkir di bibir-bibir pantai. Hempasan gelombang mampu merusak sampan. Buhari mengatakan tidak ada nelayan yang berani turun. Mengingat gelombang masih ganas. “Itu suaranya saja masih keras (deburan ombak pantai),” tunjuknya.

Sementara itu, para petani di Tanjung Karang mulai bisa menyeka air mata. Mereka tidak perlu bersedih lagi menyusul banjir rob sudah surut. Ketinggian air di Kali Brenyok juga jauh turun. Akibatnya dengan mudah air yang masuk ke persawahan turun ke kali.

Ada warga yang berinisiatif melubangi dasar talud kali. Agar air lebih cepat mengalir keluar ke laut. “Kalau itu memang sudah retak dari dulu,” tutur Humaidi salah satu petani menjelaskan soal pecahnya talud kali brenyok yang menganga lebar di sebelah utara.

Surutnya air laut disebutnya membutuhkan waktu lama. Sejumlah petani sempat khawatir karena usia padi mereka masih baru tanam. Penyebab air surut lama karena talud kali bukan sebagai penahan abrasi tanah.

“Tapi seperti tembok jadinya. Ketinggian sawah nyaris sama dengan dasar kali,” keluhnya.

Sudah cukup lama para petani di sana berharap ada pengerukan sedimentasi kali brenyok. Tapi belum ada tanggapan dari pemerintah. Justru bukannya dikeruk, tapi malah taludnya ditinggikan. “Wajar sawah kita mudah tenggelam kemarin. Saat air itu pasang,” terangnya.

 Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kota Mataram Hj Baiq Asnayati mengaku sudah memerintahkan tagana turun. Mendirikan tenda-tenda darurat dan logistik bagi nelayan. Upaya ini sebagai langkah membantu para nelayan yang tidak bisa turun melaut selama cuaca buruk.

“Sudah-sudah. Kita sudah salurkan mie instan dan beberapa logistik yang diperlukan. Persediaan kita cukup dalam beberapa hari ke depan kok,” ujar Asna. (zad/r5)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka