Ketik disini

Giri Menang

Mereka yang Mencari Nafkah dari Kerajinan Bambu

Bagikan

Kerajinan bambu di Gunungsari telah mendunia. Lewat aplikasi dunia maya, kerajinan ini tidak hanya diburu pembeli nusantara. Melainkan juga diekspor ke mancanegara.

 HAMDANI WATHONI, Giri Menang 

============================

Dari pinggir jalur utama Gunungsari, sejumlah kerajinan dipamerkan. Beraneka ragam. Mulai dari kursi, meja, hiasan lampu, hingga tas. Tidak hanya satu dua toko. Puluhan toko berjejer di pinggir jalan.

Beberapa pengendara yang melintas sebagian memalingkan wajah ke arah kerajinan yang bertebaran. Ada pengendara yang mampir, namun lebih banyak yang lolos.

Ahmad Afandi, salah seorang perajin bambu setempat, tak menghiraukan arus lalu lintas yang cukup padat di Gunungsari. Ia sibuk membuat sejumlah kerajinan dari bambu di tokonya. Di dampingi dua orang rekannya, ia terus bekerja membuat kursi bambu.

“Iya, ini lagi buat pesanan kursi,” aku pria empat anak tersebut kepada Lombok Post.

Ia mengaku, belakangan ini pesanan cukup ramai. Sehingga ia dan beberapa rekannya harus bekerja ekstra untuk menyiapkan pesanan pelanggannya.

Ahmad Afandi mengaku sudah menekuni usaha ini sejak tahun 2000 silam. Meskipun sejatinya ia sudah memiliki keahlian membuat kerajinan ini sejak 1971. Sama seperti kebanyakan perajin di Gunungsari, keahliannya membuat kerajinan bambu ini didapatkan secara otodidak.

Ia belajar dari orang tua hingga tetangga. Maklum, masyarakat Gunungsari sejak lama terkenal ahli dalam membuat kerajinan bambu.

“Saat masih muda, nggak sadar kapan bisanya. Tahunya sudah bisa saja,” ucapnya tersenyum.

Awalnya, kerajinan bambu yang dibuat  para perajin di Gunungsari sangat terbatas. Hanya kursi dan meja, tirai serta dinding yang disebutnya ‘bedek’. Namun seiring waktu, kerajinan ini berkembang. Kini ia menjual hiasan lampu, tas, hingga kerajinan ketak dan rotan.

Dari tahun ke tahun, Afandi mengaku pemasaran kerajinan bambu mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Dalam sebulan ia bisa menjual puluhan set kursi dan meja. Jumlah ini meningkat dari yang mulanya hanya maksimal sekitar lima set saja di awal ia menekuni usaha ini.

Satu set kursi dan meja terdiri dari tiga kursi kecil, satu kursi panjang sebuah meja. Harganya dibanderol Rp 800 ribu. Sementara untuk tas dan hiasan lampu dibanderol Rp 100-150 ribu. “Alhamudlillah omzetnya bisa sampai puluhan juta rupiah kalau lagi ramai. Tadi malam saja, ada 30 orang yang datang belanja borong tas dan tirai,” tuturnya.

Sebagian besar pembeli berasal dari warga lokal. Seperti di Lombok Tengah, Lombok Timur, Kota Mataram hingga Lombok Utara. Namun kini ada juga pembeli yang justru datang dari mancanegara. Dengan canggihnya teknologi saat ini, Afandi mengaku terbantu sejumlah warga yang memasarkan produknya secara online.

“Ada beberapa orang yang datang ke sini untuk foto-foto dan ambil gambarnya. Nanti mereka yang jual secara online. Beberapa waktu lalu ada yang pesan dari Singapura,” tuturnya.

Ada juga pembeli dari mancanegara yang bahkan datang langsung ke tokonya untuk membeli produk kerajinan bambu. Yang paling banyak dicari adalah kursi dan meja, hingga tirai. Termasuk sejumlah hotel dan penginapan yang ada di Lombok hingga Gili Trawangan memesan kerajinan bambu darinya.

“Banyak pelanggan suka karena kursi dan meja ini bisa kuat sampai puluhan tahun,” bebernya.

Hanya saja, kendala utama yang dihadapinya saat ini adalah keterbatasan bahan baku untuk membuat kerajinan tersebut. Misalnya saja seperti bambu, ketak hingga rotan yang semuanya didatangkan dari luar.

“Ini saja baru didatangkan dari Lombok Tengah dan Lombok Utara bambunya. Per batang harganya sekitar Rp 17 ribu. Kalau dibuat jadi kursi sekitar tiga hari bisa selesai,” tutup pria ramah ini. (*/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka