Ketik disini

Selong

Sang Juara Bakal Beraksi di Puncak Hultah NW Ke-83

Bagikan

Semangat para pemain musik tradisional tongkek tak hanya datang dari sorak sorai penonton. Tapi juga menggelora dari piala bergilir Rektor Universitas Hamzanwadi yang sejak malam pertama terpampang di panggung. Karena sang juara akan tampil juga di hari puncak peringatan Hultah NWDI ke-83. 

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

============================

Festival tongkek berlangsung selama tiga malam. Malam pertama merupakan penyisihan dari delapan besar menjadi enam kelompok. Malam kedua dari enam menjadi empat. Dan terakhir adalah malam final memperebutkan piala bergilir Rektor Universitas Hamzanwadi. Di sanalah akan ditentukan juara 1, 2, dan 3.

Suasana malam kedua tak kalah seru dari malam pertama. Koordinator festival tongkek Syarifudin mengatakan, kegiatan yang pertama kali diadakan dalam rangkaian kegiatan Hultah NWDI ini berjalan dengan baik. “Acara ini sukses,” katanya sembari tersenyum melihat warga yang memadati arena festival.

Masih seperti malam pertama, tepuk tangan tak henti-hentinya terdengar. Teriakan dari segala sisi juga menggelegar. Rasa gembira dan decak kagum ratusan orang tua melihat anaknya di atas panggung begitu terasa.

Dari malam pertama dan kedua, pusat perhatian masih didominasi oleh grup tongkek Gema Selaparang dari Lingkungan Jorong dan Bareng Girang dari lingkungan Lauk Masjid. Ya, kedua grup ini bisa dikatakan sebagai pembawa massa terbanyak dari enam grup lainnya.

Sehingga jangan heran, jika pada malam kedua, dua regu favorit ini mendapat giliran tampil paling akhir. Terutama Bareng Girang. Gina, remaja dari Lingkungan Lauk Masjid mengatakan, Bareng Girang merupakan kelompok yang selalu ia nantikan.

Begitu juga dengan sebagian besar anak-anak yang terlihat di tempat tersebut. Menurut Gina, semua personel grup Bareng Girang dan yang menontonnya memiliki hubungan keluarga. Ia pun menunjuk salah satu pemain yang adalah saudaranya.

“Semua berkeluarga,” kata Gina sembari menebarkan senyuman manisnya di depan panggung festival.

Para pemain tongkek ini memang menggemaskan. Mereka terdiri dari anak-anak dan remaja. Serunya, anak-anak ini sudah sangat terlatih. Mereka memadukan irama bambu sambil membuat formasi dan berbagai drama yang sudah direncakan.

Salah seorang anggota dewan juri Lalu Payasan mengatakan, yang dinilai adalah wirasa, wiraga, dan wirama. Perpaduan antara gerak, alunan musik, dan penjiwaan mereka dalam memainkan menjadi poin penting. Itulah sebabnya pada malam kedua, atraksi dari para pemain tongkek bertambah.

Apalagi pada malam final. Empat regu tampil untuk ke tiga kalinya. Tentu tak ada yang ingin tampil seperti malam sebelumnya. Sehingga begitu mereka terpilih masuk final di malam kedua, mereka akan segera berkumpul untuk membicarakan rencana penampilan di malam final.

Syarifuddin mengatakan, pemenang nantinya akan tampil di hari puncak peringatan Hultah NWDI ke-83. Dengan tiga kali pentas selama lomba, secara tidak langsung menjadi latihan mereka untuk tampil maksimal di hadapan ribuan jamaah dan para tamu kehormatan. “Tentu ini akan sangat membanggakan bagi mereka,” terang Syarif.

Tampil di hari puncak peringatan Hultah NWDI ke-83 merupakan cara yang tepat untuk memberi semangat kepada ratusan remaja dari delapan kelompok tongkek ini. Karena itu juga, irama tongkek yang dimainkan merupakan alunan dari beberapa lagu NW. (*)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka