Ketik disini

Headline Kriminal

Tersangka BSS Lobar Ditahan

Bagikan

MATARAM-Penyidikan dugaan korupsi program Bumi Sejuta Sapi (BSS) dituntaskan Polres Lombok Barat (Lobar). Penyidik telah melimpahkan tersangka tambahan berinisial JM bersama barang bukti, ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Mataram.

Proses tahap dua dilakukan, setelah penyidik kepolisian memenuhi sejumlah petunjuk dari jaksa dalam berkas milik JM. Di pelimpahan berkas terakhir, jaksa peneliti kemudian menyatakan berkas milik JM telah lengkap atau P21.

Kasi Pidsus Kejari Mataram Andritama Anasiska mengatakan, proses tahap dua sudah dilakukan penyidik Polres Lobar. JM dilimpahkan ke JPU Kejari Mataram pada Senin (30/7). ”Sudah kita terima tahap duanya,” kata Andri, kemarin (31/7).

Dalam tahap dua itu, jaksa memutuskan untuk menahan JM selama 20 hari kedepan. Yang bersangkutan telah dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram.

Selama 20 hari, kata Andri, JPU akan menyusun surat dakwaan. Selanjutnya, setelah dakwaan rampung, penyidik melanjutkan proses hukum JM dengan melimpahkan dia ke Pengadilan Tipikor Mataram.

”Secepatnya kita selesaikan agar bisa dilimpahkan ke pengadilan,” pungkas Andri.

Dugaan penyimpangan bansos BSS ini berawal dari laporan masyarakat. Kelompok ternak Dasan Tawar Mandiri, Desa Banyumulek diketahui menerima anggaran yang nilainya mencapai Rp 740 juta.

Dana tersebut digunakan untuk pengadaan bibit sapi. Dalam perjalanannya, bantuan dengan nomenklatur penyelamatan sapi betina produktif ini, penggunaannya diduga tidak sesuai dengan rencana anggaran belanja (RAB) yang diusulkan. Perkara ini sendiri mulai bergulir di kepolisian pada 2014 lalu.

Di kasus ini, JM diduga turut serta melakukan tindak pidana korupsi, sebagaimana tertuang dalam Pasal 55 ayat 1 KUHP. Penyidik akhirnya menetapkan JM sebagai tersangka dalam kasus yang diduga menimbulkan kerugian negara sekitar Rp 247 juta.

Sebelum JM, Polres Lobar lebih dulu menetapkan tersangka Mahrup, ketua kelompok ternak penerima bantuan. Yang bersangkutan telah menjalani vonis dan kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram.

Mahrup diputus bersalah dengan hukuman empat tahun penjara. Dia juga dikenakan denda sebesar Rp 200 juta subsidair dua bulan kurungan penjara.

Selain itu, Mahrup juga diminta membayar uang pengganti sebanyak Rp 236.899.000. Ketentuannya, apabila uang pengganti tidak dibayar, harta benda Mahrup akan disita dan dilelang. Jika tidak mempunyai harta benda yang cukup untuk membayar uang pengganti, maka diganti dengan pidana penjara satu tahun enam bulan penjara.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka