Ketik disini

Headline Metropolis

Pengungsi Salat Jumat di Dalam Tenda

Bagikan

SEMENTARA itu, kemarin adalah hari Jumat pertama bagi para korban gempa di Lombok Timur dan Lombok Utara. Sejumlah tenda pengungsian pun disulap warga untuk menjadi lokasi Salat Jumat. Ini terutama bagi para pengungsi yang masjid di kampung mereka ambruk karena gempa.

                Tenta-tenda yang disulap menjadi masjid untuk Salat Jumat tersebut antara lain terdapat di Desa Obel-Obel. Saparwadi, seorang warga Dusun Melempo, Desa Obel-Obel kepada koran ini kemarin (3/8) mengatakan, dini hari kemarin masih terjadi gempa yang membuat warga berhamburan. Akibatnya, mereka pun bersepakat untuk Salat Jumat di dalam tenda.

                “Masjid kami juga roboh total,”  katanya kepada Lombok Post.

                Untuk di Lombok Utara, para korban gempa yang masjidnya rusak, memilih Salat Jumat di halaman masjid. Hal ini ditemui Lombok Post di Desa Loloan dan Sambik Elen. Ada dua masjid di Desa Loloan dan Sambik Elen. Kondisi kedua masjid tersebut memang rusak berat diterjang gempa. Dan warga pun tak ada yang berani Salat Jumat di dalam masjid.

                “Kami masih belum berani dekat bangunan-bangunan rawan. Karena gempa bisa saja datang sewaktu-waktu,” kata Awaluddin, salah seorang pengungsi di Posko Pengungsian Desa Loloan pada Lombok Post.

                Dia mengungkapkan, banyak warga yang masih khawatir mengingat gempa baru saja terjadi Kamis malam (2/8) sebanyak tiga kali. Banyak masyarakat yang akhirnya memilih untuk Salat Jumat di halaman masjid. Bahkan ada beberapa orang yang memilih tetap tinggal di Posko Pengungsian atau tidak melaksanakan Salat Jumat.

Hamid, salah seorang pengungsi lainnya menuturkan, jamaah Salat Jumat cukup banyak. Kendati ada pula yang tak Salat Jumat dan bersama keluarga di posko pengungsian. “Kami memang banyak yang masih trauma,” katanya.

Trauma Belum Hilang

Sementara itu, terus terjadinya gempa susulan menjadikan warga tak kunjung bebas dari trauma. Hal ini misalnya terjadi kemarin malam saat gempa susulan yang ternyata berkekuatan 4,9 SR terjadi.

                Ibrahim, Kepala Dusun Pedamekan, Desa Belanting, Kecamatan Sambelia mengungkapkan, saat gempa susulan terjadi, warga yang sebetulnya sudah ada yang berani tinggal di dalam rumah, langsung berhamburan. Mereka akhirnya tak berani masuk kembali ke rumah dan terpaksa melawan dingin di halaman.

“Itu mengapa, kami sangat membutuhkan bantuan selimut,” tuturnya.

Kebutuhan tenda juga diperlukan untuk anak-anak sekolah. Data yang dimiliki tim tanggap darurat bencana sampai Kamis (2/8) lalu, keberadaan sekolah yang membutuhkan tenda di Lombok Timur dan Lombok Utara tercatat sebanyak 55  buah. Sementara sampai saat itu yang baru terpasang sebanyak 7 buah. Artinya masih kurang 48 buah tenda.

                Trauma juga masih dirasakan Lia, warga Desa Belanting, Kecamatan Sambelia. Semenjak gempa terjadi Ahad lalu, hingga kemarin, dirinya dan keluarga memilih tidur di tenda atau terpal bantuan dari PMI di depan rumahnya.

Saat ini, bersama saudara dan beberapa tetangga, mereka memasang tenda kecil dan terpal di halaman rumah. Dan di sanalah mereka tidur pada malam hari.

Mengingat kebutuhan warga untuk tenda dan terpal tersebut, Palang Merah Indonesia NTB sendiri hingga kemarin telah mendistribusikan 500 terpal. Terpal-terpal tersebut berasal dari PMI dan donatur.

Terpal tersebut bisa digunakan untuk membangun tenda maupun digunakan sebagai alas tempat tidur di luar rumah. “Muatnya bisa minimal satu keluarga,” terang Achyanto, Staf Penanggulangan Bencana PMI Lombok Timur. Selain terpal, PMI juga membagikan selimut, makanan, minuman, dan obat-obatan. Serta memberikan pelayanan Ambulans dan distribusi air bersih. (tih/fer/cr-yun/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka