Ketik disini

Metropolis

Tertantang Mencetak Karakter Anak

Bagikan

Tidak banyak dosen yang juga pelaku lapangan. Salah satunya Suzana. Ia mengajarkan teori kepada para mahasiswanya, sekaligus mempraktekannya di lapangan.

ALI ROJAI, Mataram

===============

BUKU-buku tertata rapi ketika Koran ini berkunjung ke kediaman Suzana di Kelurahan Dasan Cermen, Kota Mataram. Kepala Raudhatul Athfal (RA) Al-Ikhlas yang juga menjadi dosen di sejumlah PTS ini terlihat sibuk merapikan dan mendata buku yang ada, bersama guru RA lainnya di teras rumahnya.

Suzan, sapaan akrabnya, baru saja pulang dari Bima. Selain menjadi dosen, ia juga menjadi asesor BAN PAUD. Tugasnya, melakukan penilaian terhadap kelengkapan administrasi dan data-data bagi sekolah anak usia dini di NTB. Mulai dari jumlah guru, ruangan, proses, penilaian, dan sebagainya.

“Ini saya bawa asem dari Bima. Mari dicoba,” ajak ibu dua anak ini.

Jebolan S2 FKIP Unram ini terlihat agak lelah. Ia mengaku baru saja pulang usai melakukan penilaian di sejumlah PAUD di  Bima.
“Tadi malam pulang, belum istirahat,” terang perempuan berjilab ini.

Menjadi guru RA dilakoni Suzan sejak tahun 2000 lalu. Tiap hari ia mengajar di RA Al-Ikhlas. Hingga menjadi kepala sekolah di RA tersebut, ia tetap mendidik para siswanya. Menurutnya, bersama anak-anak, ia akan merasa bahagia dan tertantang.

“Ada saja yang baru dari anak-anak ini,” terangnya.

Menjadi guru RA tidaklah mudah. Harus banyak sabar. Anak-anak, tidak boleh dilarang, tapi diarahkan. Contoh kecilnya, jika anak membuang sampah sembarang, tugas guru yang mengarahkan membuang ke tempatnya. Dampak jika membuang sampah sembarangan harus diajarkan kepada anak-anak.

“Jadi anak-anak itu akan belajar membuang sampah pada tempatnya. Mencetak karakter di usia dini ini menjadi tantangan tersendiri,” ucapnya.

Karena tantangan itulah, ia tetap mengajar di RA tersebut. Meski sebagai sarjana strata dua ia banyak mendapat tawaran menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi swasta (PTS). Hanya sebagian tawaran tersebut diterimanya. Ia hanya memilih jadwal mengajar di perguruan tinggi yang tidak bentrok dengan jadwal tugas di RA yang dipimpinnya.

 “Aturan sekarang  tugas kepala sekolah tidak lagi mengajar. Tapi saya tetap ke RA tiap hari. Proses belajar mengajar dilakukan guru harus kita lihat secara langsung,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, untuk jadwal mengisi kuliah dilakukannya pada siang, sore, bahkan pada malam hari. Jadwalnya disesuaikan dengan jadwal PTS setempat. Empat tahun lalu, ia banyak mengambil jawal mengajar di sejumlah PTS di NTB. Namun karena jadwalnya cukup padat, sementara ia juga harus bekerja di RA, maka pekerjaan di kampus ia kurangi.

“Bekerja mendidik anak-anak di RA ini tetap jadi prioritas saya,” ungkapnya.

Karena terbiasa mengajar anak-anak, terkadang ikut mempengaruhi cara mengajarnya di kampus. Tak heran, Suzan begitu mudah akrab dengan para mahasiswanya. Hal ini didukung dengan tampilan fisiknya yang awet muda, nyaris sebaya dengan para mahasiswanya.

Pernah suatu ketika saat ia memperkenalkan diri menjadi dosen di salah PTS, salah seorang mahasiswa menggodanya. Mahasiswa ini bahkan meminta nomer handpohenya. Tidak itu saja, mahasiswanya tersebut memuji Suzan di depan temannya.

“Gara-gara itu saya tidak konsen memberikan materi perkuliahan,” aku perempuan asal Sekarbela Mataram ini.

Suzan mengaku mengajar di perguruan tinggi, karena ingin agar ilmunya, baik teori maupun praktek di lapangan dapat diserap para mahasiswanya. Sehingga kelak mereka dapat menerapkan ilmu tersebut secara langsung.

Terutama ilmu bagaimana menanamkan karakter kepada anak-anak. Sebab, menurutnya, saat ini membangun karakter anak sangat penting. Anak harus diajarkan hal-hal yang baik sejak usia dini. Sehingga ketika dewasa, karakter yang telah terbentuk ini akan tetap membekas dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (*/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka