Ketik disini

Metropolis

Kerugian Akibat Gempa Diperkirakan Rp 167,2 Miliar

Bagikan

MATARAM-Gempa bumi yang menghantam Lombok tidak hanya menelan ratusan korban jiwa dan memaksa ratusan ribu penduduk mengungsi. Namun juga telah menyebabkan berbagai kerusakan infrastruktur seperti jalan dan jembatan.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB H Sahdan menjelaskan, jika saat ini data kerusakan jembatan yang sudah teridentifikasi sepanjang jalan nasional. Mulai dari Ampenan, Senggigi, Pemenang, Tanjung hingga Bayan.

“Berdasarkan apa yang sudah kami lihat di lapangan, ada sebanyak delapan jembatan,” katanya kepada Lombok Post, kemarin (10/8).

Dijelaskan, delapan jembatan tersebut memiliki tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Mulai dari rusak dalam skala ringan, sedang hingga rusak berat. Untuk skala rusak ringan ada Jembatan Sigar Penjalin dan Jembatan Beburung I. Skala rusak sedang, ada jembatan Sidutan dan Kali Anyar. Sedangkan untuk skala rusak berat yaitu jembatan Sakong di Tanjung, jembatan Luk, jembatan Kali Tampes dan jembatan Beburung II.

Sahdan menyebut, jenis-jenis kerusakan yang terjadi pada jembatan-jembatan tersebut berupa aspal ambles, jalannya ada yang patah, dan retak kritis arah memanjang jalan. Sedangkan untuk jalan raya, adanya longsor pada lereng jalan sehingga menutupi badan jalan dan longsor tebing.

“Sehingga menyebabkan bahu jalannya ada yang ambrul,” jelas Sahdan.

Terkait dengan strategi penanganan, dirinya menyebutkan jika pemerintah saat ini sudah membaginya dalam dua upaya strategis. Pertama upaya penanganan darurat dilaksanakan Kementerian PUPR  dengan menggunakan dana tanggap darurat infrastruktur dengan perkiraaan biaya sebesar Rp 5,6 miliar. Ini sudah termasuk untuk jembatan dan jalan raya.

Dia juga menjelaskan, pekerjaan penanganan darurat yaitu dengan menimbun badan jalan yang ambles termasuk ada tambal aspal yang hancur karena gempa. Kemudian pembersihan longsoran lereng dan tebing jalan. Termasuk pemasangan bronjong pada daerah tebing yang longsor, memperbaiki sayap, penimbunan oprit, pasang plat injak pada daerah oprit, memperkuat posisi bangunan bawah jembatan dengan memasang brojong dan masih banyak lagi.

“Kalau penanganan darurat ini tidak melihat siapa yang menjadi kewenangannya, tetapi semua kerusakan akan ditangani oleh pemerintah pusat,” terang Sahdan.

Lain halnya dengan upaya yang kedua, yaitu penanganan permanen yang akan dilakukan berdasarkan kewenangan. Salah satunya melalui identifikasi kerusakan apakah itu penggantian jembatan baru untuk kondisi yang sudah dalam skala rusak berat atau rehabilitasi untuk skala rusak sedang dan ringan.

“Sedangkan terkait dengan biaya, tergantung nanti gimana jenis pengananannya,” papar Sahdan.

Dengan kondisi tersebut, dia menegaskan estimasi kerugian yang diakibatkan oleh gempa bumi terhadap infrastruktur jalan dan jembatan bisa dilihat dari jenis kerusakannya. Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada empat jembatan yang mengalami rusak berat. Artinya, penanganan dilakukan menjadi penggantian baru. Untuk menentukan estimasi kerugian pada skala rusak berat, dilihat berdasarkan panjang jembatan itu sendiri sebab untuk satu meter panjang jembatan dikalikan Rp 600 juta.

“Kalau yang skala empat jembatan yang rusak berat saja, ada estimasi kerugian sebesar Rp 162 miliar,” jelasnya.

Sedangkan untuk skala rusak ringan, Sahdan menyebut nilai rusak ringan pada jembatan Sigar Penjalin sebesar Rp 700 juta dan Jembatan Beburung I sebesar Rp 250 juta. Skala rusak sedang, ada jembatan Sidutan dengan estimasi kerugian Rp 450 juta dan jembatan Kali Anyar Rp 570 juta. Sedangkan untuk sepanjang jalan nasional, saat ini diestimasi jumlah kerugiaannya mencapai Rp 3,2 miliar.

“Kalau ditambah semuanya, estimasi kerugian kita kena diangka Rp 167,2 miliar,” terang Sahdan. (cr-yun/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka