Ketik disini

Metropolis

Logikanya Kekuatan Gempa Menurun

Bagikan

TIM Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat kemarin (10/8) bertandang ke Kantor Lombok Post. Rombongan dipimpin langsung Kepala BMKG pusat Prof Dwikorita Karnawati. Mereka datang untuk memberi penjelasan mengenai kondisi rentetan gempa yang terjadi di Pulau Lombok dalam sepekan terakhir.

BMKG kembali menegaskan, gempa-gempa susulan yang terjadi di Lombok, kekuatannya akan terus menurun. Logikanya kata Dwikorita, misalnya ada gempa berkekuatan 7 SR. Saat itu alam mengeluarkan kekuatan terbesar. Setelah itu akan terengah-engah mengeluarkan gempa susulan.

“Maka trendnya semakin menurun,” jelasnya di hadapan sejumlah wartawan Lombok Post Group kemarin.

Jika diibaratkan, Dwikorita menjelaskan layaknya orang yang sudah lelah, orang tersebut masih punya kekuatan. Tetapi tidak melampaui puncaknya. Maka terjadilah sejumlah gempa susulan namun tidak sedahsyat ketika memiliki energi puncak. Setiap ada gempa di seluruh dunia dijelaskan akan memiliki kekuatan utama. Misalnya di Lombok gempa berkekuatan 7 SR itu dinilai BMKG sebagai kekuatan terbesar.

Otomatis, setelah gempa tersebut, kekuatannya akan menurun ketika mengeluarkan gempa susulan berikutnya. Akibatnya, trendnya pun semakin menurun.

“Dengan catatan sumber gempanya berasal dari patahan yang sama. Kecuali dia berasal dari patahan yang berbeda. Itu bisa kekuatannya berbeda atau lebih besar,” paparnya.

Tetapi dari hasil pantauan BMKG saat ini, gempa yang terjadi di Lombok saat ini dari puluhan sensor yang ada, gempa disebabkan Patahan atau Sesar Naik Flores. Setelah dicermati gempa sebagai fenomenan alam, belum ada patahan lain yang memengaruhi gempa di Pulau Lombok.

Sampai gempa yang cukup kuat terakhir Kamis (9/8) lalu berkekuatan 6,2 SR, semua sensor mengarah bahwa gempa disebabkan patahan Naik flores. Artinya bahwa gempa tersebut sudah lelah sehingga akan mengeluarkan kekuatan sisa. Namun yang menarik kekuatan sisa itu harusnya menurun dari 7 SR ke 6, 5, 4, hingga 2 SR. Namun yang terjadi justru dari gempa berkekuatan 4 atau 5 SR naik ke 6,2 SR. Ini dijelaskan pihak BMKG tidak aneh.

“Karena dalam penurunan kekuatan gempa, memang ada trend naik turun. Secara umum itu turun. Dalam penurunannya itu dia naik turun,” urainya.

Dari data BMKG, tercatat penurunan kekuatan gempa berada di angka 5,4, hingga ke 2 SR. Sehingga dijelaskan bukan hal yang aneh ketika gempa kembali memiliki kekuatan 6 SR. Karena dalam penurunannya itu masih berada di bawah kekuatan utama yakni 7 SR.

“Tetapi sekali lagi ini adalah cara manusia membaca alam dibantu teknologi sensor. Ketika dalam perjalanannya ada yang tidak akurat, ini karena ini hanya perkiraan,” paparnya.
Sampai saat ini belum ada alat atau teknologi yang bisa mendeteksi dengan akurat kapan gempa akan terjadi dan berapa kekuatannya.

“Yang paling tahu adalah Tuhan. Tetapi kita bisa berusaha membaca alam dengan menggunakan teknologi dan upaya semampu kita,” tandasnya.

Yang terpenting menurutnya saat ini adalah masyarakat tidak boleh panik dengan info hoax yang beredar luas di media sosial. Masyarakat diminta tetap mencari informasi yang valid dari BMKG. Baik melalui media elektronik, cetak maupun aplikasi handphone yang bisa diinstal dimana saja dan oleh siapa saja.

Evakuasi Lading-Lading

Sementara itu, dari Lombok Utara, kemarin seorang laki-laki terindentifikasi bernama Herianto (25) warga Dusun Labuhan Kertasari RT10 / 004 Kelurahan Labuhan Kertasari, Kecamatan Taliwang, Sumbawa Barat, ditemukan meninggal dunia di Dermaga Pantai Gili Trawangan, Jumat (10/8).

Korban ditemukan tertimpa reruntuhan bangunan dermaga yang ambruk waktu gempa pada bagian punggung. Korban ditemukan saat bagian perutnya menyembul ke bibir pantai. Ditemukan petugas polisi yang tengah survey di Gili Trawangan.

Mendapat laporan, tim dari Posko Basarnas yang stand by di Bangsal, kemudian mengerahkan tim SAR. Ambulance juga langsung disiagakan untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat.

“Proses evakuasi selesai pukul 20.00 WITA,” ungkap Direktur Operasi (Dirops) Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryoaji didampingi SAR Mission Coordinator (SMC) I Nyoman Sidakarya tadi malam. Penemuan jenazah Herianto menjadikan korban meninggal gempa Lombok menjadi 386 jiwa.

Sementara itu, operasi SAR yang dilaksanakan hari ini di Dusun Dompu Indah Kecamatan Kayangan belum membuahkan hasil. Tim SAR menemui situasi dan kondisi medan yang begitu kompleks terkait terputusnya akses menuju lokasi karena jembatan jalan yang ambruk sehingga alat berat eksavator tidak dapat masuk, covered area longsor.

Tanah yang labil, dan tebing vertikal yang berpotensi menimbulkan longsor susulan yang akan mengancam para rescuer yang bekerja di bawahnya. Selain itu, keterbatasan peralatan membuat operasi SAR belum membuahkan hasil. Upaya terus dilakukan, Drops yang melihat langsung jalannya operasi di Dompu Indah berinisiatif meminjam peralatan berupa portable apung, selang dan nozle, serta selang panjang milik Hotel Oboroi di Tanjung yang memiliki semburan lebih besar untuk menggerus longsoran yang menimbun korban.

“Harapan kami, untuk operasi besok dapat lebih maksimal dalam meluruhkan longsoran tanah yang diduga menimbun korban,” ungkap Bambang.

Sementara evakuasi di Masjid Jabbal Nur Dusun Lading-Lading Kecamatan Tanjung berhasil membongkar kubah masjid menggunakan peralatan ektrikasi dan eksavator sampai ke dasarnya. Seperti dugaan sebelumnya, tim SAR tidak lagi menemukan korban yang tertimbun runtuhan material masjid tersebut.

“Karena susah terbukti tidak ada korban, maka operasi SAR di Lading-Lading kami nyatakan selesai. Tim akan kami maksimalkan untuk membantu operasi di Dompu Indah besuk,” katanya.
Di Dompu Indah sendiri, informasi dari keluarga korban dan kepala dusun setempat, ada 4 korban yang diduga terbawa dan tertimbun tanah longsor tersebut. Korban bernama Hendra (33), pekerjaan hononer di Kabupaten Lombok Utara dan dua anaknya, masing-masing berumur 9 tahun dan adiknya yang baru berumur 1 tahun 7 bulan. Sementara satu korban lagi adalah tetangga dekat korban.  Keempat korban, sejak gempa 7.0 SR Ahad (5/8) malam terjadi hingga saat ini tidak pulang dan dinyatakan hilang. (ton/fer/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka