Ketik disini

Headline Metropolis

Tenda Pengungsi Bau Tinja, Tak Ada WC, Pengungsi BAB Sekitar Tenda

Bagikan

MATARAM-Tenda-tenda pengungsian para korban gempa sungguh-sungguh tak nyaman. Lima hari mengungsi, tenda-tenda tersebut kini dipenuhi aroma tidak sedap. Terutama dari bau pesing dan bau tinja kering yang menyengat.

Di tenda pengungsian korban gempa di Dusun Papak, Desa Genggelang, Kecamatan Gangga, Lombok Utara misalnya, bau pesing dan tinja tersebut langsung menyambut dari tenda pengungsian. Lokasi pengungsian itu dikelilingi sawah hijau yang ditanami kacang tanah, tembakau dan jagung. Dan dari area sawah tersebutlah, bau menyengat tersebut bersumber.
Dan itu atas ulah para pengungsi sendiri. Itu sebabnya, meski sangat mengganggu, tapi mereka sudah sama-sama maklum. Itu adalah bau tinja yang mereka buang sendiri. Di pengungsian itu, tidak kurang 1.500 jiwa hidup berdesak-desakan di bawah terpal. Jika ingin buang air besar (BAB) mereka terpaksa lari ke sawah atau semak-semak di sekitar pengungsian.
”Kalau perut sudah sakit (kebelet) kami lari ke kebun seberang sawah sambil bawa air, tapi kadang lupa bawa air,” tutur Inaq Marisah, 45 tahun sambil tertawa karena merasa malu.
Para pengungsi mengaku tidak ada pilihan lain. Mereka terpaksa BAB sembarangan karena tidak tersedia MCK. Karena itu, para pengungsi sangat takut bila sedang sakit perut. Terutama pengungsi perempuan sangat malu bila diketahui sedang BAB.

”Mau kemana lagi (buang air) hanya di situ,” katanya sambil menunjuk hamparan sawah yang dipenuhi tembakau.
Perlilaku itu pun kadang menjadi bahan guyonan mereka untuk menghilangkan rasa stres. Tembakau-tembakau yang ditanam saat ini nanti rasanya akan lebih enak dengan aroma khas. Begitu guyonan mereka.

Kondisi itu semakin lama membuat warga tidak betah tinggal di pengungsian. Tapi apa daya, rumah mereka sudah hancur diguncang gempa 7,0 SR, hari Minggu (5/8) lalu. Tidak mungkin mereka balik saat ini karena gempa masih terus terjadi, warga pun masih trauma.

Inaq Nur, pengungsi lainnya berharap pemerintah membuatkan mereka tempat buang air darurat sehingga tidak perlu lagi buang air sembarangan. Jika MCK sudah ada, mungkin warga bisa sedikit lebih tenang.

Buruknya sanitasi di pos pengungsian juga membuat beberapa warga terserang penyakit diare, sebagian besar anak-anak dan lansia. Seperti Sapturah, kakek berusia 60 tahun ini harus dibopong beberapa warga saat hendak berobat ke tim medis relawan Radar Bogor-Lombok Post yang datang ke pengungsian mereka, kemarin.

Karena terus menerus buang air, tubuh Sapturah semakin lemas dan tidak kuat mengangkat tubuhnya sendiri. Ia nampak pucat dan hanya bisa terbaring lemas di tenda pengungsian. Saat ini, lansia seperti Sapturah membutuhkan popok untuk orang dewasa.

Diare juga menyerang anak-anak di pengungsian. Seperti David Safawi, yang baru berusia 6 bulan. Sejak tinggal di pengungsian dia mengalami batuk dan pilek. Baru pada hari ketiga di pengungsian David mengalami sekit perut.

”Kalau malam dia semakin rewel karena sakit perut,” Murni, ibunya.

Yumna, bayi 10 bulan lainnya juga terserang pilek dan gatal-gatal. Kulit sang bayi mulaui korengan. Siti Amaro, ibunya sangat cemas dengan kondisi anaknya. Ia berharap sakitnya tidak bertambah parah.

”Semoga semuanya segera mereda,” harapnya.

Pengungsian Dusun Papak terletak di ujung jalan aspal dusun. Warga satu dusun dikumpulkan menjadi satu di lokasi tersebut. Satu tenda bisa dihuni 20 orang. Alas pun kebanyakan dari poster bekas. Sehari-hari warga juga harus menghirup debu tebal di lokasi tersebut.

”Kurang nyaman tapi karena musibah mau bagaimana lagi?” ujar Syaiful Bahri alias Epung, salah seorang pengungsi.

Zaki, pengungsi lainnya mengaku sudah lima hari mereka tidur di pengungsian. Kini satu per satu warga terkena sakit seperti pilek , batuk, dan diare. Warga ingin cepat pulang tetapi tidak mungkin, rumah sudah hancur semua.

”Tidak tahu sampai kapan kami di sini,” ujarnya pasrah.

Selain itu, mereka juga mulai khawatir karena stok makanan mulai berkurang. Termasuk air minum. Warga berharap bisa segera kembali ke rumah dan menjalani hidup normal seperti dahulu.

Keluhan yang sama diungkapkan Sahabudin, warga Dusun Karang Pangsor, Kecamatan Pemenang. Hidup di pengungsian membuat mereka tidak bisa tenang. Makan minum ada tapi tidak ada jaminan bisa bertahan sampai kapan. Ia dan 10 anggota keluarganya mengungsi di tempat terpisah.
”Karena waktu malam gempa kita tidak ketemu,” tuturnya.

Jumatan di Tenda

Sementara kemarin, adalah Jumatan pertama para pengungsi selepas gempa 7,0 SR dan 6,2 SR yang berjarak hanya lima hari. Di Dusun Karang Anyar, Desa Medana, Kecamatan Tanjung harus Jumatan di bawah tenda terpal. Masjid Qomarul Huda dan rumah mereka rusak diguncang gempa 6,2 SR.

”Saat gempa pertama masjid masih dipakai, tapi pada gempa kedua masjid rusak,” tuturnya.

Jumatan di tempat pengungsian membuat warga merasa sangat sedih. Tapi lagi-lagi mereka hanya bisa pasrah, dan berharap kehidupan warga kembali normal.

”Mudahan dengan kejadian ini kita selamat dan ke depan akan lebih bagus.”

Marsudi, jamaah jumat lainnya juga sedih. Ia berharap pemerintah segera membantu memperbaiki rumah warga yang sudah hancur. ”Untuk sementara ini tenda air, makanan, alas tidur sangat kami butuhkan,” ujarnya.

Relawan Radar Bogor–Lombok Post dr Budi Suarman berharap, MCK di pengungsian lebih diperhatikan. Seperti pengungsian Dusun Papak yang dihuni 1.500 orang pengungsi. Sanitasinya sangat buruk dan itu bisa menjadi ancaman serius bila tidak segera diatasi. Minimal dibuatkan WC darurat di satu tempat dengan sistem gali lubang tutup lubang.
Juga dibuatkan tenda khusus sebagai tempat mencuci, dapur umum juga harus dibuatkan agar makanan mereka terjamin layak. ”Saya khawatir nanti ini bisa KLB diare kalau tidak segera di atasi,” ujarnya.

Bila ada WC darurat hal itu akan bisa memutus penularan diare ke warga. Sebab bila tinja manusia itu tidak ditimbun nanti lalatnya pasti akan banyak dan menyebarkan penyakit.
”Petugas multi sektor juga harus ada di lokasi tersebut,” sarannya.

240 Ribu Warga Mengungsi

Sementara itu, hingga kemarin, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Muhammad Rum mengatakan, upaya penanggulangan bencana gempa 7,0 SR terkendala kurangnya peralatan dan logistik. Terbatasnya jumlah personel, terputusnya jaringan listrik sehingga mengganggu penanganan pada malam hari. Suplai air bersih juga terganggu karena jaringan PDAM yang rusak, sehingga airnya keluar warna kuning kecoklatan.

Bila ada aduan terkait masyarakat yang belum terlayani, pihaknya membuka posko pengaduan. Di sana warga bisa melaporkan bila ada kekurangan penanganan. Layanan itu harus dimanfaatkan masyarakat.

Sementara itu, dampak bencana gempa 7,0 SR terus bertambah. Jumlah meninggal dunia 385 orang. Tesebar di Kabupaten Lombok Utara 334 orang warga, 9 orang dari Kota Mataram, dua orang dari Lombok Tengah, dan 10 orang dari Lombok Timur. Jumlah pengungsi juga terus bertambah menjadi 240.595 jiwa.

Untuk kerusakan fisik, total rumah rusak sementara 7.384 unit rumah, sarana pendidikan terdampak 458 unit, dan 429 fasilitas umum yang terdampak gempa.

Sementara itu, BNPB merilis data yang berbeda. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, jumlah korban akibat gempa 321 orang meninggal dunia, dengan  sebaran Kabupaten Lombok Utara 273 orang, Lombok Barat 26 orang, Lombok Timur 11, Kota Mataram 7, Lombok Tengah 2, dan Kota Denpasar 2 orang.

”Sebanyak 321 orang meninggal tersebut semuanya sudah diverifikasi,” katanya.

Karena korban meninggal dunia masih dilakukan verifikasi. Angka 321 orang masih bisa bertambah.

Jumlah pengungsi juga berbeda, BNPB merilis pengungsi sebanyak 270.168 jiwa yang tersebar di ribuan titik. Jumlah pengungsi juga diperkirakan bertambah mengingat belum semua terdata dengan baik. Di beberapa tempat dilaporkan masih terdapat pengungsi yang belum menerima bantuan terutama di Kecamatan Gangga, Kayangan, dan Pemenang yang berada di bukit-bukit dan desa terpencil.

Untuk mengatasi itu. Distribusi bantuan menggunakan 3 helikopter dari BNPB dan Basarnas. Bantuan dari darat terus disalurkan. Bahkan melibatkan banyak relawan dari komunitas pecinta mobil dan masyarakat yang memiliki kendaraan untuk membantu distribusi bantuan. Dapur umum dan pos kesehatan banyak yang didirikan untuk melayani pengungsi.

Data sementara kerusakan rumah mencapai 67.875 unit rumah. Pendataan masih dilakukan. Dari hasil analisis citra satelit terlihat kerusakan bangunan masif terjadi di Kabupaten Lombok Utara. Hampir 75 persen permukiman hancur dan rusak. Ini disebabkan paling dekat dengan pusat gempa dan menerima guncangan gempa dengan intensitas VII MMI. Kerusakan fisik meliputi 67.857 unit rumah rusak, 468 sekolah rusak, 6 jembatan rusak, 3 rumah sakit rusak, 10 puskesmas rusak, 15 masjid rusak, 50 unit mushola rusak, dan 20 unit perkantoran rusak. ”Angka ini juga sementara.”

Kerugian Rp 2 Triliun

Kerugian dan kerusakan akibat gempa 6,4 SR, 7 SR, dan 6,2 SR diperkirakan lebih dari Rp 2 triliun. Kerugian dan kerusakan ini meliputi sektor permukiman, infrastruktur, ekonomi produktif, sosial budaya dan lintas sektor. BNPB masih melakukan hitung cepat untuk menghitung kerugian ekonomi.

Sementara itu untuk evakuasi, kemarin, Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, Kementerian ESDM dan relawan masih menyisir dan melakukan evakuasi. Evakuasi korban lterus dilakukan. Longsor terjadi saat gempa 7 SR mengguncang Dusun Dompu Indah, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara sehingga tebing longsor. Diduga menimbun 4 orang. Seorang istri melaporkan kehilangan suami, anaknya dan 1 orang tetangganya. Tim SAR masih melakukan evakuasi. Namun medan sangat berat dan luas. Tanah remah dan mudah longsor sehingga membahayakan petugas.

Bantuan terus mengalir berdatangan, baik relawan, logistik dan peralatan. Ratusan NGO dan organisasi masyarakat juga mendirikan pos pelayanan. Bantuan yang datang segera didistribusikan ke tempat-tempat pengungsian. Dapur umum dan dapur lapangan  banyak yang didirikan. Distribusi logistik dengan melibatkan aparat pemerintah kecamatan dan desa untuk menyalurkan ke masyarakat.

Di setiap kabupaten, camat diminta untuk mengambil logistik ke posko kemudian lurah atau kepala desa mengambil di kecamatan sesuai dengan jumlah penduduk yang mengungsi.
Secara terpisah, Dansatgas Tanggap Bencana Kolonel CZI Ahmad  Rizal di Tanjung, kemarin mengatakan, kesulitan yang dialami sementara ini adalah persoalan posko yang ada di wilayah terpencil. Pasalnya, sarana alat dorong logistik yang dikawatirkan tidak sampai kepada mereka yang ada di posko-posko mandiri.

Beberapa wilayah yang sulit dijangkau itu ada di wilayah Jenggik Lotim dan wilayah Desa Sokong Lombok Utara.

“Di Sokong kita sudah mencoba menyalurkan logistik menggunakan helikopter. Alhamdulilah bisa dijangkau hari ini dan tersalurkan dua slot yang isinya tenda, selimut dan makanan dan alat-alat mandi, ”sebutnya.

Sementara untuk mencari korban di reruntuhan yang masih tertimbun, Kata Rizal, kekurangan alat spesialisasi seperti hammer atau jagger untuk menghancurkan tembok. Tim sudah mencoba menggunakan eskavator namun mengalami kesulitan.

Kondisi yang sekarang ini dimasyarakat menurutnya, masih adanya rasa ketakutan kekawatiran akan adanya gempa susulan yang lebih besar lagi. Untuk itu, tim satgas terus berupaya melakukan sosialisasi melalui Babinsa maupun Babinkabtibmas dan petugas di desa untuk tetap tenang. (ili/fer/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka