Ketik disini

Headline Metropolis

Salah Hitung Dana Gempa, Jumlah Anggaran di RAPBD-P Tak Klop

Bagikan

MATARAM-Postur dana pascagempa yang diajukan Pemprov NTB dalam Rancangan APBD Perubahan 2018 mengundang tanda tanya besar. Sebab, total dana tersebut ternyata tidak klop dengan asal muasal dana yang telah disampaikan ekskutif sebelumnya. Selisisihnya pun tidak sedikit. Mencapai Rp 19,8 miliar.

Hal ini terungkap setelah dokumen RAPBD 2018 dikaji Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPRD NTB. Ketua Fraksi PKS DPRD NTB H Johan Rosihan mengungkapkan, total dana pascagempa yang diajukan mencapai Rp 53,2 miliar. Dana tersebut sudah termasuk bantuan keuangan dari provinsi dan kabupaten/kota dari luar provinsi NTB yang diterima Pemprov. Total dana bantuan tersebut menurut Johan hingga kemarin nilainya sudah Rp 22 miliar.

Padahal kata Johan, jika mengukuti penjelasan yang disampaikan ekskutif dan tertuang dalam Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Perubahan 2018, harusnya jumlahnya tidak Rp 53,2 miliar. Melainkan Rp 73 miliar.

Hitungannya sederhana. Untuk dana pascagempa, Pemprov NTB merasionaliasi anggaran pembangunan jalan provinsi tahun jamak. Harusnya tahun ini dana untuk pembangunan jalan provinsi ini mencapai Rp 151 miliar. Sebanyak Rp 51 miliar dialihkan untuk penanganan pascagempa, sehingga tersisa Rp 100 miliar.

Dengan begitu, harusnya dana pascagempa di APBD Perubahan setidaknya Rp 73 miliar. Bersumber dari Rp 51 miliar pengalihan dana pembangunan jalan, dan Rp 22 miliar dana bantuan keuangan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di luar NTB.

Sehingga, kalau tak ada koreksi terhadap angka Rp 53,2 miliar tersebut, maka yang terjadi adalah hal yang dinilai sangat miris. Sebab, dana pascagempa dalam APBD-P justru sebagian besar berasal dari bantuan daerah lain. Sementara dana APBD-NTB sendiri tak diarahkan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk kepentingan para korban gempa.

Apalagi, hingga saat ini bantuan keuangan dari daerah lain masih akan terus bertambah. Hari ini misalnya dijadwalkan ada penyerahan bantuan dari Kabupaten Nunukan di kantor Gubernur NTB.

Dan di sisi lain, soal jumlah dana bantuan dari pemerintah daerah luar NTB yang ternyata tidak klop. Sebab, seperti dimuat Lombok Post sebelumnya, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah H Supran mengungkapkan, bahwa total bantuan keuangan dari daerah luar NTB telah mencapai Rp 24 miliar. Ada selisih Rp 2 miliar dibanding yang disampaikan Johan Rosihan dalam Rancangan APBD-P 2018 yang mencapai Rp 22 miliar.

Dan selain dana tersebut, masih ada dana Rp 7 miliar yang masuk rekening Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB. Sehingga total bantuan keuangan dari pemerintah daerah luar NTB dan dana yang di BPBD NTB saja seharusnya sudah mencapai Rp Rp 31 miliar.

“Kami mempertanyakan dana yang hanya Rp 53,2 miliar ini,” kata Johan. Fraksinya menuntut penjelasan atas hal tersebut.

Terkait ini, TAPD NTB hingga berita ini naik cetak, belum memberi jawaban pasti terkait penyebab jumlah dana yang tidak klop tersebut. Sebelumnya TAPD bahkan mengumumkan dana pascagempa akan mencapai Rp 60 miliar. Namun, kenyataannya hanya Rp 47,7 miliar. Lalu berubah lagi menjadi Rp 53,2 miliar.

Kian Berdaya

Sementara itu, di saat pemerintah daerahnya justru menghitung dana bencana gempa malah tidak klop, para warga korban gempa terus menolak berpangku tangan. Meski gempa susulan dengan magnitudo 5,3 misalnya sempat terjadi kemarin malam, namun mereka berupaya secara mandiri untuk lebih cepat pulih.

            Seperti yang dilakukan Hamdi, 36 tahun, warga Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Ia membuat hunian sementara (Huntara) tahan gempa. Huntara buatannya itu sederhana tapi sangat bermanfaat bagi korban gempa. Bentuknya seperti rumah panggung. Bahan dasar dari aluminium. Sementara dindingnya bisa memakai terpal atau anyaman bambu.

”Kalau gempa Insya Allah aman,” katanya.

Ide membuat Hutara itu tercetus karena Ia prihatin dengan kondisi korban gempa. Mereka kini tidak punya tempat tinggal. Jika harus menunggu rumah dibangun butuh waktu lama. Biaya juga pasti selangit. Huntara buatannya cukup dengan biaya Rp 1,6 juta, warga bisa tinggal di tempat yang layak.

Meski fungsi utamanya sebagai hunian sementara, tapi Huntara buatannya juga bisa dipakai sebagai berugak bila rumah asli sudah jadi. Kalau mau dipakai buat tempat jualan juga bisa. ”Kalau hujan juga aman,” ujar Hamdi.

Hingga saat ini, Hamdi sudah membuat 12 unit Huntara dan dibagikan ke warga. Biaya pembuatan dari para donator asal Jakarta dan Surabaya. Mereka menyalurkan bantuan dalam bentuk Huntara kepada korban gempa.

”Saya yang konsep dan buatkan,” katanya.

Apa yang dilakukan Hamdi, hanya salah satu bentuk kreativitas warga dalam menyikapi bencana gempa. Mereka menunjukkan semangat bangkit sesungguhnya. Mereka tidak ingin terus menerus terpuruk mengadapi gempa tak berkesudahan.

Asongan di Lokasi Wisata

Beda Hamdi, beda pula dengan Megi. Pedagang kaki lima di kawasan Mandalika, Lombok Tengah itu juga tetap semangat.

Meski wisatawan sedang sepi-sepinya, Megi dan para pedagang kain di Pantai Tanjung Aan tetap berjualan. Itu karena ia tidak mau terus menerus larut dalam ketakutan. Bekerja adalah cara mereka menghilangkan trauma.

”Isu tsunami itu yang membuat para wisatawan kabur, padahal sampai sekarang tidak terjadi apa-apa,” katanya.

Megi yang juga bekerja di perusahan travel itu mengaku gempa membuat penghasilan mereka anjlok. Banyak pesanan paket wisata dibatalkan. Seperti paket tour ke Pantai Pink, paket wisata itu dibatalkan karena gempa bermagnitudo 7.0 Ahad (5/8). Kini wisatawan asing sudah jarang terlihat di KEK Mandalika.

Di saat wisatawan asing berkurang, para relawan dari berbagai daerah menjadi penyelamat. Selain membantu korban gempa di pengungsian, mereka juga turis baru. Menjelang pulang mereka menyempatkan diri berlibur ke destinasi wisata yang ada, salah satunya ke pantai. Kehadiran mereka benar-benar membantu para pedagang.

”Ada saja satu dua yang beli,” ujarnya.

Ia bahkan memetik hikmah dari bencana gempa. Banyak relawan mencari kaos bertema gempa Lombok. Karena itu, ia akan segera membuat kaos dengan tulisan #LombokBangkit atau #GempaPastiBerlalu. ”Banyak yang nyari, tapi kemarin tidak sempat buat,” ujarnya.

Ia berharap, dunia pariwisata NTB bisa segera pulih. Di daerah selatan gempa tidak terlalu berdampak, hotel dan rumah warga tetap berdiri. Proyek pembangunan juga tetap berjalan. Tapi para wisatawan pergi karena rasa cemas. (ili/r8)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka