Ketik disini

Tanjung

98 Persen Murid Sudah Aktif Belajar

Bagikan

TANJUNG-Musibah gempa yang meluluhlantakhkan Kabupaten Lombok Utara (KLU) tak lantas membuat anak-anak malas untuk belajar. Hal ini terlihat di SDN 2 Tanjung. Sekitar 98 persen muridnya sudah kembali aktif belajar meskipun hanya di sekolah darurat.

Kepala SDN 2 Tanjung Faridudin menuturkan, beberapa hari pascagempa sekolah masih aktif. Namun masih dalam rangka trauma healing bersama relawan. Hanya saja saat itu kelasnya dipisah. Kelas 1-3 berada di Lapangan Tanjung. Sedangkan kelas 4-6 berada di tenda yang berada di lahan kosong jalur belakang Polsek Tanjung.

“Saat itu dipisah, tapi sekarang sudah tidak,” sambungnya.

Berkat bantuan dari donatur, pihaknya kini sudah membuatkan enam ruang sebagai kelas untuk belajar. Murid tak lagi belajar di lokasi terpisah seperti sebelumnya. Mulai dari kelas 1 hingga kelas 6 enam akan belajar di ruang masing-masing di lokasi yang sama.

“Dengan bantuan ini maka murid-murid kami pada hari ini semua bisa kami himpun dari kelas 1 sampai kelas 6,” ungkapnya.

Ia mengatakan, jumlah siswa di SDN 2 Tanjung sebanyak 403 orang. Hingga Senin (10/9) lalu hanya tujuh murid yang tidak hadir dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Hal tersebut dikarenakan mereka belum kembali dari pengungsian di luar KLU. Murid-murid tersebut mengungsi ke Mataram, Lombok Tengah hingga Bali.

“Kami memakai surat pindah sementara untuk mereka,” akunya.

Namun rupanya di sekolah darurat tersebut  tak hanya belajar murid SDN 2 Tanjung. Beberapa murid dari sekolah lainnya juga ikut belajar di sekolah darurat SDN 2 Tanjung tersebut. Mereka merupakan murid dari SDN 1 Tanjung dan SDN 4 Tanjung. Mereka ikut digabungkan agar bisa belajar bersama.

“Dari mana pun SD-nya kami akan terima,” katanya.

Ia menambahkan, pihaknya mencari  anak-anak sekolah di delapan titik sejak pascagempa 5 Agustus lalu. Dampaknya sangat luar biasa sehingga banyak murid tidak hadir. Namun saat masa pemulihan ini, murid sudah kembali belajar bersama di sekolah, meskipun hanya sekolah darurat.

Sementara untuk para guru yang mengajar, Farid mengatakan, jika semua guru sudah mengikuti pelatihan terlebih dahulu. Mereka telah mengikuti pelatihan trauma healing selama tiga hari yang digelar LPMP NTB. Hingga saat ini guru selalu menyelipkan di setiap akhir pembelajarannya trauma healing bagi siswa. “Gurunya harus bisa,” tandasnya. (fer/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka