Ketik disini

Headline Kriminal

Sopir Ungkap Aliran Duit BPR

Bagikan

MATARAM–Mantan sopir Kabiro Perekonomian Setda NTB Manggaukang Raba, Fahrul Hasani, menjadi saksi  a de charge atau saksi meringankan di perkara dugaan korupsi merger BPR NTB, kemarin (12/9). Fahrul dihadirkan penasihat hukum terdakwa mutawalli dan Ikhwan.

Kesaksian Fahrul membuka tabir pemberian uang yang dilakukan Mutawalli kepada Manggaukang Raba. Kehadiran saksi menjadi poin krusial bagi terdakwa, terkait siapa-siapa yang menikmati dana tim konsolidasi. Dari pengakuan saksi, salah satu orang yang menerima uang adalah Manggaukang Raba.

Manggaukang sedikitnya menerima dua kali pemberian uang dari terdakwa Mutawalli. Fahrul mengatakan, di tahun 2016 dirinya mendapat perintah dari atasannya Manggaukang Raba untuk mengambil titipan di Mutawalli.

“Saya lupa bulan apa, yang pasti perintah itu datang setelah perjalanan dinas dari Sumbawa,” kata Fahrul.

Saksi menceritakan, perjalanan dinas ke Sumbawa dalam rangka pembinaan BPR. Setelah mengantar Manggaukang ke rumahnya usai perjalanan dinas, dia langsung diminta untuk pergi ke Lombok Timur (Lotim).

Berdasarkan perintah Manggaukang, Fahrul diminta menemui mutawalli di kantor BPR Lotim. “Saya disuruh ambil titipan ke Pak Mutawalli,” ujar dia.

Ketika disinggung penasihat hukum Mutawalli, Suhartono mengenai apakah saksi mengetahui titipan tersebut adalah uang, Fahrul dengan tegas mengiyakannya. “Iya, uang. Pas, saya mau jalan, di setop (Manggaukang), dia bilang, cepat ya, hati-hati soalnya itu uang,” ungkap Fahrul.

Fahrul akhirnya mengambil titipan berupa uang dan bertemu mutawalli di BNI Pancor. Uang yang ditempatkan di dalam amplop tersebut di bawa Fahrul langsung ke rumah Mutawalli, di BTN Kekalik.

“Saya sampai setelah magrib. Langsung saya serahkan ke Manggaukang,” sebut dia.

Setelah mengambil titipan di Lotim, menurut pengakuan Fahrul, Manggaukang kembali menerima uang untuk kali kedua dari Mutawalli. Serah terima uang, terjadi di areal kantor DPRD NTB.

Perintah yang diberikan kepada Fahrul, serupa dengan instruksi yang pertama. Manggaukang meminta Fahrul untuk menemui mutawalli di parkiran DPRD NTB.

“Pas itu ada rapat. Ada Manggaukang juga di DPRD NTB. Setelah diperintah begitu, saya ke parkiran, tapi Mutawalli belum datang,” beber dia.

Mutawalli justru datang setelah rapat berakhir. Ketika itu, dia sudah hendak pergi bersama Manggaukang dari Kantor DPRD NTB. “Saya sudah di dalam mobil, sama Manggaukang. Terus datang Mutawalli, dia langsung masuk ke dalam mobil untuk serahin uang,” tutur Fahrul.

Selanjutnya, ketua majelis hakim AA Rajendra menanyakan, apakah Manggaukang pernah menyebut kalau dia meminjam uang itu dari Mutawalli. “Pernah gak, pas bilang ambil titipan, itu (Manggaukang) bilang pinjam? Atau ada kuintasinya?” tanya Rajendra.

“Tidak ada bilang pinjam. Cuma disuruh ambil titipan. Kuitansi juga tidak ada,” jawab Fahrul.

Sementara itu, penasihat hukum Ikhwan, Umaiyah menanyakan, dua kali pemberian uang dari Mutawalli kepada Manggaukang, apakah didampingi terdakwa Ikhwan.

“Tidak ada. Cuma Mutawalli saja,” jawab Fahrul.

Mengenai keberadaan Manggaukang di tempat karaoke, menurut pengakuan terdakwa, terkait servis entertain dari tim konsolidasi kepada oknum Anggota DPRD NTB.

Usai mendengarkan kesaksian Fahrul, majelis hakim Tipikor memutuskan untuk menunda sidang. Sidang dugaan korupsi merger BPR NTB akan dilanjutkan Jumat (14/9). “Sidang kita tunda. Lanjut Jumat dengan agenda saksi mahkota dan langsung pemeriksaan terdakwa,” pungkas Rajendra.(dit/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka