Ketik disini

Headline Selong

Warga Dara Kunci Melawan, Pertahankan Tanah, Tuntut Kades Mundur

Bagikan

SELONG – Di tengah bencana gempa, warga Dusun Sandongan, Desa Dara Kunci, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur masih bersikukuh menutup gerbang kantor desanya. Sampai Rabu kemarin, sejumlah warga menjaga spanduk yang meminta pencopotan  Kepala Desa Dara Kunci Faisal.

“Kita tidak akan membuka segel sampai Kades Faisal diberhentikan,” kata salah seorang warga Dusun Sandongan, Desa Dara Kunci Muliadi.

Menurutnya, Kades Dara Kunci Faisal terlalu banyak melakukan tindakan yang merugikan warga. Sehingga saat ini, kata Muliadi, Kades Faisal harus diberhentikan dari jabatannya. Ia bersikukuh untuk tidak membiarkan siapapun membuka Kantor Desa. “Sampai Kades yang sekarang menjadi warga biasa,” tegasnya.

Api kemarahan warga Dusun Sandongan berasal dari surat edaran Kades kepada Kepala Dusun mengenai Imbauan dari PT Tanjung Kenanga. Surat tersebut ditujukan kepada Kepala Desa Dara Kunci Faisal dengan perihal imbaun.

Isinya mengenai pemberitahuan kepada warga Dusun Sandongan dan Menanga Reak selaku penggarap lahan seluas 137 hektare yang diklaim merupakan lahan HGU untuk PT Tanjung Kenanga. Dalam surat tersebut dikatakan dalam waktu dekat tanah tersebut akan dikuasai kembali oleh perusahaan  yang berhak dan akan memberikan santunan atau tali asih sebesar Rp 1,5 juta per are untuk warga.

“Surat ini besar kemungkinan palsu. Dibuat-buat oleh Kades,” lanjut Muliadi.

Lalu Supriadi warga Dusun Sandongan lainnya mengatakan kemungkinan adanya permainan sangat besar. Sehingga itulah yang menyulut kemarahan warga. Ia menegaskan warga akan menunggu camat untuk bertindak. “Makanya, kalau soal lahan ini kita sudah pastikan aman. Tinggal sekarang Kades harus turun,” terang Supriadi.

Sementara itu, Kades Dara Kunci Faisal yang sudah tiga hari tidak masuk kantor karena penyegelan tersebut mengatakan, ada kesalahpahaman warga mengenai surat dari perusahaan. “Surat ini jelas-jelas imbauan. Bukan pemaksaan,” kata Faisal.

Ia menyayangkan aksi yang dilakukan warga. Sebab tidak seharusnya menyikapi sebuah perkara dengan meminta dirinya turun dari jabatan. Terlebih melihat kondisi desa yang dilanda bencana. “Pelayanan untuk warga sangat kita sayangkan,” tuturnya.

Mengenai surat imbauan yang ditujukan untuknya tersebut, Faisal menerangkan kalau ia tidak terlalu mengetahuinya kebenaran surat tersebut.

Ia mencurigai oknum warga yang pada malam hari mengumumkan bahwa tanah milik warga akan dirampas oleh perusahaan dengan persetujuan Kades. “Padahal saya hanya memberitahukan kepada warga terkait tali asih sebesar Rp 1,5 juta tersebut,” tutur Faisal.

Mengenai kekeliruan dengan tidak melakukan mediasi dengan warga terlebih dahulu, Faisal mengatakan kondisi bencana membuatnya harus melakukan banyak hal dengan cepat. Belum lagi soal pendataan korban gempa yang terus minta diperbaharui.

“Kalau warga ingin melihat saya turun, silahkan tunjukkan dulu di mana letak kesalahan saya secara hukum,” kata Faisal. (tih/r2)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka