Ketik disini

Tanjung

Tak Semua Warga Kepincut Risha, Bappeda Berharap Ada Alternatif Lain

Bagikan

TANJUNG-Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) masih menjadi perbincangan hangat pascagempa di Lombok Utara. Sebagian besar masyarakat masih menolak konsep rumah tersebut. Hal itu dikarenakan bahan yang digunakan dinilai bisa menimbulkan kembali trauma.

“Sebagian besar masyarakat masih menolak Risha karena masih berbahan beton,” ujar Kepala Bappeda Lombok Utara, Herianto, kemarin (14/9).

Ia menegaskan, harus ada rekomendasi resmi dari pemerintah terkait model rumah yang akan dibangun. Hal tersebut bukan berarti memandang sebelah mata keberadaan Risha. Niat pemerintah menolong masyarakat dinilainya sangat baik. Namun tidak menyampingkan aspek psikologi masyarakat.

“Karena rasa takut ini tidak semerta-merta bisa hilang begitu saja,” sambungnya.

Contoh sederhana saja, Heri sendiri mengaku masih merasa trauma dengan rumah batako. Sepanjang rumah itu masih menggunakan material batako atau beton, ia tidak akan mau tinggal di rumah itu. Hal serupa juga dipastikannya berlaku pada sebagian besar masyarakat Lombok Utara.

“Artinya masih banyak yang takut, makanya aspek psikologisnya itu perlu di perhatikan,” katanya.

Sebab itu, ia menekankan agar ada alternatif rekomendasi. Bukan hanya Risha saja. Bisa berupa rumah papan atau rumah panggung. Beberapa rumah kayu dan panggung juga sudah terbukti tahan gempa.

“Itu seperti rumah pak Ali BD yang tahun 1979 pascagempa dulu dia bangun setengah tembok cuma 1 meter, tiangnya kayu kuat kok itu tapi harus kayu yang nomor satu,” jelasnya.

Diungkapkan, penolakan terhadap Risha cukup banyak. Sebab masyarakat masih ragu dengan daya tahan rumah tersebut. Meskipun dikatakan sudah diuji, namun masyarakat masih belum yakin karena belum melihat sendiri.

“Kalau Risha sudah diuji mereka, lalu ujinya di mana, saya pun tidak tahu,” pungkasnya.

Risha yang ada di Desa Akar-Akar pun dinilai masih meragukan. Sebab sebagian besar bangunan yang tidak Risha pun masih bertahan. Hal itu dikarenakan Desa Akar-Akar bukanlah jalur gempa.

“Sehingga diperlukan referensi lain agar lebih fleksibel” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah perlu mendengar keinginan masyarakat. Masyarakat menginginkan rumah yang tidak hanya sekadar aman, namun nyaman. Meskipun tinggal di rumah aman tapi psikologisnya tidak nyaman maka akan percuma.

“Karena masyarakat juga ingin nyaman, itu mengapa aspek psikologisnya perlu dipikirkan,” tukasnya.

Sementara jika ada kelebihan uang pascamembangun rumah, menurutnya itu bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. Kelebihan tersebut bisa dijadikan sebagai modal awal membangun usaha.

“Jangan dibuat ribetlah,” tandasnya. (fer/r7)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka