Ketik disini

Headline Metropolis

Warga Terus Tagih Janji Pemerintah

Bagikan

MATARAM-Janji bantuan bagi korban gempa dari pemerintah pusat hingga kini belum ada titik terang. Di Lingkungan Pengempel Indah, Sandubaya Kota Mataram misalnya. Sebagian besar warga terdampak gempa belum ada tanda-tanda mendapat dana bantuan sebesar Rp 50 juta itu.

“Kami berharap bantuan ini bisa secepatnya,” kata salah seorang warga Lingkungan Pengempel Indah  Nafsah, kemarin (14/9).

Hingga kini Nafsah mengaku belum diminta membuat rekening. Padahal rumah tempat tinggalnya sudah diratakan.

Ia menuturkan, pemerintah pusat jangan hanya menebar janji saja. Mestinya bantuan ini  secepatnya disalurkan.

“Kita mau keluar mencari nafkah was-was. Karena semua barang di luar,” terangnya.

Nafsah mengaku sudah diminta mengumpulkan KTP dan KK. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda dibuatkan rekening untuk mendapatkan dana stimulan pembangunan rumah.  Jika bantuan ini belum turun, ia meminta agar dirinya dibangunkan rumah transisi. Apalagi sebentar lagi masuk musim hujan.

Ia mengaku, kondisi tempat pengungsian tidak sehat. Tidak adanya air bersih di tempat pengungsian membuat banyak anak sakit diare dan demam.

Kepala Lingkungan Pengempel Indah Sudi Sudarsana berharap, keluhan warga ini bisa segera direspons. Sehingga warga cepat membangun rumahnya.

“Di sini (Lingkungan Pengempel Indah) baru satu kelompok yang mengajukan risha,” terangnya.

Ditanya soal rekening warga yang mendapat bantuan, Sudi mengatakan belum ada. Tapi yang jelas warga yang  rumahnya rusak berat sudah mendapat SK.

Dari data yang dikumpulkan, rumah yang mengalami rusak berat di Pengempel Indah sebanyak 185 unit. Sedangkan yang  rusak sedang empat unit.

Camat Sandubaya Kota Mataram Lalu Samsul Adnan mengatakan,  baru tiga warga di Kecamatan Sandubaya yang telah menerima dana bantuan pembangunan rumah. Masing-masing satu orang di LingkunganPengempel Indah, Gontoran dan Lingkungan Tegal. Dari data yang ada, di kecamatannya tercatat 102 unit rumah mengalami rusak berat.

“Di Kota Mataram (kabarnya) yang cair baru 20 orang,” sebutnya. Menurutnya proses pencairan bantuan ini menunggu juklak dan juknis.

Adnan mengaku kerap didatangi warga korban gempa di kantornya. Ada warga yang ingin membangun rumah  risha, ada juga yang ingin membangun rumah konvensional. Namun ia menuturakan, bagi warga yang ingin membangun secara konvensional dananya tidak bisa dicairkan langsung. Namun harus mengikuti prosedur sesuai dengan juklak dan juknis yang ada.

“Tidak bisa langsung ambil Rp 50 juta terus bangun sesuai keinginan. Tapi ada prosedurnya,” terangnya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan, usulan proposal yang diajukan pascagempa bisa  segera direalisasikan. Sehingga, rehabilitasi dan konstruksi terhadap rumah warga dan fasilitas publik yang mengalami kerusakan secepatnya bisa dilakukan.

Mohan mengatakan,  untuk warga yang rumahnya hancur, nantinya akan tinggal di rumah transisi (rusi). Rusi yang akan dibangun sebanyak 500 unit.

Ia mengakui, jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah warga yang rumahnya mengalami rumah rusak berat.  Untuk itu, ia meminta dukungan masyarakat untuk membantu membangun rusi.

“Siapa yang membantu biisa memasang logo atau nama perusahaannya di rusi yang dibangun,” kata Mohan.

Rusi ini nantinya akan dilengkapi dengan air bersih dan listrik. Sehingga, warga bisa merasa nyaman. (jay/r3)

MATARAM-Janji bantuan bagi korban gempa dari pemerintah pusat hingga kini belum ada titik terang. Di Lingkungan Pengempel Indah, Sandubaya Kota Mataram misalnya. Sebagian besar warga terdampak gempa belum ada tanda-tanda mendapat dana bantuan sebesar Rp 50 juta itu.

“Kami berharap bantuan ini bisa secepatnya,” kata salah seorang warga Lingkungan Pengempel Indah  Nafsah, kemarin (14/9).

Hingga kini Nafsah mengaku belum diminta membuat rekening. Padahal rumah tempat tinggalnya sudah diratakan.

Ia menuturkan, pemerintah pusat jangan hanya menebar janji saja. Mestinya bantuan ini  secepatnya disalurkan.

“Kita mau keluar mencari nafkah was-was. Karena semua barang di luar,” terangnya.

Nafsah mengaku sudah diminta mengumpulkan KTP dan KK. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda dibuatkan rekening untuk mendapatkan dana stimulan pembangunan rumah.  Jika bantuan ini belum turun, ia meminta agar dirinya dibangunkan rumah transisi. Apalagi sebentar lagi masuk musim hujan.

Ia mengaku, kondisi tempat pengungsian tidak sehat. Tidak adanya air bersih di tempat pengungsian membuat banyak anak sakit diare dan demam.

Kepala Lingkungan Pengempel Indah Sudi Sudarsana berharap, keluhan warga ini bisa segera direspons. Sehingga warga cepat membangun rumahnya.

“Di sini (Lingkungan Pengempel Indah) baru satu kelompok yang mengajukan risha,” terangnya.

Ditanya soal rekening warga yang mendapat bantuan, Sudi mengatakan belum ada. Tapi yang jelas warga yang  rumahnya rusak berat sudah mendapat SK.

Dari data yang dikumpulkan, rumah yang mengalami rusak berat di Pengempel Indah sebanyak 185 unit. Sedangkan yang  rusak sedang empat unit.

Camat Sandubaya Kota Mataram Lalu Samsul Adnan mengatakan,  baru tiga warga di Kecamatan Sandubaya yang telah menerima dana bantuan pembangunan rumah. Masing-masing satu orang di LingkunganPengempel Indah, Gontoran dan Lingkungan Tegal. Dari data yang ada, di kecamatannya tercatat 102 unit rumah mengalami rusak berat.

“Di Kota Mataram (kabarnya) yang cair baru 20 orang,” sebutnya. Menurutnya proses pencairan bantuan ini menunggu juklak dan juknis.

Adnan mengaku kerap didatangi warga korban gempa di kantornya. Ada warga yang ingin membangun rumah  risha, ada juga yang ingin membangun rumah konvensional. Namun ia menuturakan, bagi warga yang ingin membangun secara konvensional dananya tidak bisa dicairkan langsung. Namun harus mengikuti prosedur sesuai dengan juklak dan juknis yang ada.

“Tidak bisa langsung ambil Rp 50 juta terus bangun sesuai keinginan. Tapi ada prosedurnya,” terangnya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan, usulan proposal yang diajukan pascagempa bisa  segera direalisasikan. Sehingga, rehabilitasi dan konstruksi terhadap rumah warga dan fasilitas publik yang mengalami kerusakan secepatnya bisa dilakukan.

Mohan mengatakan,  untuk warga yang rumahnya hancur, nantinya akan tinggal di rumah transisi (rusi). Rusi yang akan dibangun sebanyak 500 unit.

Ia mengakui, jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah warga yang rumahnya mengalami rumah rusak berat.  Untuk itu, ia meminta dukungan masyarakat untuk membantu membangun rusi.

“Siapa yang membantu biisa memasang logo atau nama perusahaannya di rusi yang dibangun,” kata Mohan.

Rusi ini nantinya akan dilengkapi dengan air bersih dan listrik. Sehingga, warga bisa merasa nyaman. (jay/r3)

MATARAM-Janji bantuan bagi korban gempa dari pemerintah pusat hingga kini belum ada titik terang. Di Lingkungan Pengempel Indah, Sandubaya Kota Mataram misalnya. Sebagian besar warga terdampak gempa belum ada tanda-tanda mendapat dana bantuan sebesar Rp 50 juta itu.

“Kami berharap bantuan ini bisa secepatnya,” kata salah seorang warga Lingkungan Pengempel Indah  Nafsah, kemarin (14/9).

Hingga kini Nafsah mengaku belum diminta membuat rekening. Padahal rumah tempat tinggalnya sudah diratakan.

Ia menuturkan, pemerintah pusat jangan hanya menebar janji saja. Mestinya bantuan ini  secepatnya disalurkan.

“Kita mau keluar mencari nafkah was-was. Karena semua barang di luar,” terangnya.

Nafsah mengaku sudah diminta mengumpulkan KTP dan KK. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda dibuatkan rekening untuk mendapatkan dana stimulan pembangunan rumah.  Jika bantuan ini belum turun, ia meminta agar dirinya dibangunkan rumah transisi. Apalagi sebentar lagi masuk musim hujan.

Ia mengaku, kondisi tempat pengungsian tidak sehat. Tidak adanya air bersih di tempat pengungsian membuat banyak anak sakit diare dan demam.

Kepala Lingkungan Pengempel Indah Sudi Sudarsana berharap, keluhan warga ini bisa segera direspons. Sehingga warga cepat membangun rumahnya.

“Di sini (Lingkungan Pengempel Indah) baru satu kelompok yang mengajukan risha,” terangnya.

Ditanya soal rekening warga yang mendapat bantuan, Sudi mengatakan belum ada. Tapi yang jelas warga yang  rumahnya rusak berat sudah mendapat SK.

Dari data yang dikumpulkan, rumah yang mengalami rusak berat di Pengempel Indah sebanyak 185 unit. Sedangkan yang  rusak sedang empat unit.

Camat Sandubaya Kota Mataram Lalu Samsul Adnan mengatakan,  baru tiga warga di Kecamatan Sandubaya yang telah menerima dana bantuan pembangunan rumah. Masing-masing satu orang di LingkunganPengempel Indah, Gontoran dan Lingkungan Tegal. Dari data yang ada, di kecamatannya tercatat 102 unit rumah mengalami rusak berat.

“Di Kota Mataram (kabarnya) yang cair baru 20 orang,” sebutnya. Menurutnya proses pencairan bantuan ini menunggu juklak dan juknis.

Adnan mengaku kerap didatangi warga korban gempa di kantornya. Ada warga yang ingin membangun rumah  risha, ada juga yang ingin membangun rumah konvensional. Namun ia menuturakan, bagi warga yang ingin membangun secara konvensional dananya tidak bisa dicairkan langsung. Namun harus mengikuti prosedur sesuai dengan juklak dan juknis yang ada.

“Tidak bisa langsung ambil Rp 50 juta terus bangun sesuai keinginan. Tapi ada prosedurnya,” terangnya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan, usulan proposal yang diajukan pascagempa bisa  segera direalisasikan. Sehingga, rehabilitasi dan konstruksi terhadap rumah warga dan fasilitas publik yang mengalami kerusakan secepatnya bisa dilakukan.

Mohan mengatakan,  untuk warga yang rumahnya hancur, nantinya akan tinggal di rumah transisi (rusi). Rusi yang akan dibangun sebanyak 500 unit.

Ia mengakui, jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah warga yang rumahnya mengalami rumah rusak berat.  Untuk itu, ia meminta dukungan masyarakat untuk membantu membangun rusi.

“Siapa yang membantu biisa memasang logo atau nama perusahaannya di rusi yang dibangun,” kata Mohan.

Rusi ini nantinya akan dilengkapi dengan air bersih dan listrik. Sehingga, warga bisa merasa nyaman. (jay/r3)

MATARAM-Janji bantuan bagi korban gempa dari pemerintah pusat hingga kini belum ada titik terang. Di Lingkungan Pengempel Indah, Sandubaya Kota Mataram misalnya. Sebagian besar warga terdampak gempa belum ada tanda-tanda mendapat dana bantuan sebesar Rp 50 juta itu.

“Kami berharap bantuan ini bisa secepatnya,” kata salah seorang warga Lingkungan Pengempel Indah  Nafsah, kemarin (14/9).

Hingga kini Nafsah mengaku belum diminta membuat rekening. Padahal rumah tempat tinggalnya sudah diratakan.

Ia menuturkan, pemerintah pusat jangan hanya menebar janji saja. Mestinya bantuan ini  secepatnya disalurkan.

“Kita mau keluar mencari nafkah was-was. Karena semua barang di luar,” terangnya.

Nafsah mengaku sudah diminta mengumpulkan KTP dan KK. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda dibuatkan rekening untuk mendapatkan dana stimulan pembangunan rumah.  Jika bantuan ini belum turun, ia meminta agar dirinya dibangunkan rumah transisi. Apalagi sebentar lagi masuk musim hujan.

Ia mengaku, kondisi tempat pengungsian tidak sehat. Tidak adanya air bersih di tempat pengungsian membuat banyak anak sakit diare dan demam.

Kepala Lingkungan Pengempel Indah Sudi Sudarsana berharap, keluhan warga ini bisa segera direspons. Sehingga warga cepat membangun rumahnya.

“Di sini (Lingkungan Pengempel Indah) baru satu kelompok yang mengajukan risha,” terangnya.

Ditanya soal rekening warga yang mendapat bantuan, Sudi mengatakan belum ada. Tapi yang jelas warga yang  rumahnya rusak berat sudah mendapat SK.

Dari data yang dikumpulkan, rumah yang mengalami rusak berat di Pengempel Indah sebanyak 185 unit. Sedangkan yang  rusak sedang empat unit.

Camat Sandubaya Kota Mataram Lalu Samsul Adnan mengatakan,  baru tiga warga di Kecamatan Sandubaya yang telah menerima dana bantuan pembangunan rumah. Masing-masing satu orang di LingkunganPengempel Indah, Gontoran dan Lingkungan Tegal. Dari data yang ada, di kecamatannya tercatat 102 unit rumah mengalami rusak berat.

“Di Kota Mataram (kabarnya) yang cair baru 20 orang,” sebutnya. Menurutnya proses pencairan bantuan ini menunggu juklak dan juknis.

Adnan mengaku kerap didatangi warga korban gempa di kantornya. Ada warga yang ingin membangun rumah  risha, ada juga yang ingin membangun rumah konvensional. Namun ia menuturakan, bagi warga yang ingin membangun secara konvensional dananya tidak bisa dicairkan langsung. Namun harus mengikuti prosedur sesuai dengan juklak dan juknis yang ada.

“Tidak bisa langsung ambil Rp 50 juta terus bangun sesuai keinginan. Tapi ada prosedurnya,” terangnya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengatakan, usulan proposal yang diajukan pascagempa bisa  segera direalisasikan. Sehingga, rehabilitasi dan konstruksi terhadap rumah warga dan fasilitas publik yang mengalami kerusakan secepatnya bisa dilakukan.

Mohan mengatakan,  untuk warga yang rumahnya hancur, nantinya akan tinggal di rumah transisi (rusi). Rusi yang akan dibangun sebanyak 500 unit.

Ia mengakui, jumlah ini tidak sebanding dengan jumlah warga yang rumahnya mengalami rumah rusak berat.  Untuk itu, ia meminta dukungan masyarakat untuk membantu membangun rusi.

“Siapa yang membantu biisa memasang logo atau nama perusahaannya di rusi yang dibangun,” kata Mohan.

Rusi ini nantinya akan dilengkapi dengan air bersih dan listrik. Sehingga, warga bisa merasa nyaman. (jay/r3)

Komentar

Komentar

Tags:

Anda mungkin juga suka