Lombok Post
Headline Tanjung

Penertiban Sempadan Pantai di Gili Air Diwarnai Adu Mulut

BONGKAR: Alat berat yang dikerahkan tim penertiban sedang membongkar bangunan yang berada di sempadan pantai Gili Air, Sabtu (28/4) lalu.

TANJUNG-Setelah menertibkan bangunan di sempadan pantai Gili Meno, tim penertiban Pemkab Lombok Utara bergerak ke Gili Air. Penertiban bangunan di Gili Air dimulai 28 April hingga 1 Mei mendatang.

”Untuk Gili Air sudah 60 persen bangunan dibongkar sendiri oleh pemiliknya,” ujar Sekretaris Tim Penertiban Lalu Majemuk, Sabtu (28/4) lalu.

Mejemuk menjelaskan, penertiban di Gili Air dilakukan setelah di Gili Meno selama empat hari. Saat ini tim akan menertibkan bangunan yang belum dibongkar pemiliknya dan berada di sempadan pantai.

”Ada sekitar 93 bagunan yang akan ditertibkan karena berada di sempadan pantai. Tetapi sekarang hanya tinggal beberapa saja, karena ada pemilik yang sudah membongkar sendiri,” tandasnya.

Dalam penertiban di Gili Air, sempat terjadi adu mulut dan cekcok. Ini karena para pengusaha berdalih tidak pernah mendapat informasi ataupun surat. Selain itu ada beberapa pengusaha yang meminta waktu untuk dibongkar dengan alasan belum ada tempat memindahkan barang-barang nya.

Meskipun beberapa pengusaha masih belum mau membongkar, tim penertiban tetap tetap bertindak tegas dan sigap. Mereka langsung membongkar bangunan yang diduga melanggar aturan dalam pembangunan.

Selain itu, pembangunan jalan yang dilakukan Pemprov NTB rupanya menjadi penyebab pengusaha enggan membongkar bangunannya. Karena jalan tersebut dibangun dengan membelokkan jalan tersebut ke pantai. Sehingga menjadi acuan pengusaha untuk tidak membongkar bangunannya.

Menanggapi hal ini Kades Gili Indah H. Taufik menjelaskan, pihaknya sudah meminta pemprov agar tidak membangun jalan. Tetapi permintaan ini tidak ditanggapi pemprov dan pembangunan jalan tetap dilakukan sehingga berdampak seperti ini.

”Seharusnya kan pembanguan jalan mengikuti jalan yang sudah ada. Ini pemprov juga sudah kita sudah ingatkan jika akan ada penertiban bangunan sempadan pantai tapi tidak ditanggapi, nah begini jadinya,” ungkapnya.

Terpisah salah seorang pengusaha Sam mengatakan, masyarakat Gili Indah sangat setuju dengan penertiban tersebut. Karena keberadaan bangunan di sekitar pantai ini sangat mengganggu kenyamanan wisatawan. ”Dulu di sini tidak ada banguan seperti ini dan lebih rame,” katanya.

Ditambahkan Sam, di tengah pulau masih banyak lahan kosong yang bisa digunakan pengusaha, bukannya malah membangun di sempadan pantai. ”Seharusnya kita jaga dan letarikan pulai in. Kami warga sangat setuju penertiban ini asalkan jangan sampai ada tebang pilih,” tegasnya.

Menurut Sam, sebelum ada bangunan di sempadan pantai, pengusaha awalnya hanya meletakkan meja dan kursi. Kemudian pelan-pelan dibangun berugak, lalu dibangunlah bangunan permanen seperti sekarang. (puj/r7) buy periactin, dapoxetine online

Berita Lainnya

NTB Banjir Narkoba Impor, Polisi Ungkap Penyelundupan Sabu Malaysia dan Thailand

Redaksi Lombok Post

Rakernas MUI di KEK Mandalika Dimulai

Redaksi Lombok Post

Dicari 197.111 CPNS, Kuota untuk NTB Diumumkan Akhir Oktober

Redaksi Lombok Post

2.064 Bahan Peledak Dimusnahkan

Redaksi Lombok Post

Pelamar CPNS NTB Bisa 74 Ribu

Redaksi Lombok Post

Polisi Telurusi Motif Penusukan Wiranto, Diduga Terkait JAD Bekasi

Redaksi Lombok Post

Mandalika Disuntik Rp 2,02 Triliun, Sirkuit MotoGP Sudah 10 Persen

Redaksi Lombok Post

Pre Sales Online Tickets MotoGP Lombok Bakal Dihadiri Alex Rins, 20 Ribu Tiket Dijual November

Redaksi Lombok Post

Dorfin Butuh Pengamanan Ekstra

Redaksi Lombok Post